Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi menyatakan bahwa posisi Iran tidak berubah mengenai Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya dapat dibuka kembali setelah syarat-syarat yang ditetapkan terpenuhi.
Nilai tukar rial Iran merosot ke rekor terendah baru terhadap dolar AS pada hari Selasa (29/9), dengan kurs pasar bebas menembus angka 2,5 juta rial per dolar AS.
Media pemerintah Irak memberitakan bahwa Iraqi Airways kembali melayani penerbangan antara Bandara Internasional Najaf di negara itu, dan sejumlah bandara di Iran pada hari Senin (28/9).
Pemerintah Irak tengah menghadapi aksi protes warga akibat menuruti Amerika Serikat (AS), yaitu melarang penerbangan dari maupun menuju negara tersebut, terkait sanksi penerbangan terhadap Iran. Aksi protes meluas dari Basra hingga Baghdad.
Iran memperingatkan bahwa perjalanan udara di kawasan tersebut dapat terganggu, jika maskapai penerbangan Iran terus ditolak aksesnya terhadap layanan penerbangan dan bandara
Uni Emirat Arab dan Irak melarang penerbangan maskapai Iran dari dan menuju negara tersebut. Tindakan ini sebagai langkah mengikuti sanksi yang ditetapkan Amerika Serikat (AS) terhadap sektor penerbangan Iran.
Penerbangan dari Iran menuju Baghdad dan Muscat dihentikan mulai tengah malam. Di tengah tekanan AS, maskapai Iran menghadapi pembatasan yang makin ketat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menolak upaya Amerika Serikat (AS) untuk menyalahkan Iran atas kenaikan harga bahan bakar. Iran juga menyatakan bahwa Washington berusaha menghindari tanggung jawab atas konsekuensi agresi militernya terhadap Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan akan bertolak ke New York, Amerika Serikat dalam beberapa hari mendatang untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Amerika Serikat dilaporkan menggelar pertemuan rahasia dengan Israel dan negara-negara Arab, di Jerman. Kabarnya, melalui perkumpulan ini AS berharap mendapat lampu hijau untuk kembali melancarkan tindakan terhadap Iran.
Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah memberikan visa kepada para pejabat Iran agar mereka dapat menghadiri Sidang Majelis Umum PBB di New York, pekan depan. Hal ini menjadi sorotan mengingat terjadi di tengah konflik antara kedua negara yang kini telah memasuki bulan ketujuh.