LANGIT7.ID–Jakarta; Laporan awal intelijen rahasia AS menyebutkan bahwa serangan militer Amerika terhadap Iran akhir pekan lalu ternyata hanya membuat program nuklir Teheran mundur beberapa bulan saja — jauh dari klaim Presiden Donald Trump yang menyebutnya sebagai “kehancuran total.”
Beberapa media AS, Selasa (24/6), mengutip orang dalam yang tahu isi laporan Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA), dan mengatakan bahwa serangan udara dan misil tersebut memang menghantam beberapa fasilitas, tapi tidak benar-benar menghancurkan alat pengayaan uranium (sentrifugal) atau stok uranium Iran yang sudah diperkaya.
Disebutkan juga bahwa bom dan misil yang dijatuhkan memang sempat menutup akses ke beberapa fasilitas, tapi bangunan bawah tanahnya tetap utuh dan tidak hancur total.
Laporan dari DIA ini rupanya bikin Trump kesal. Ia menyerang media seperti CNN dan The New York Times, menuduh mereka meremehkan keberhasilan serangan militer tersebut.
“FASILITAS NUKLIR DI IRAN SUDAH HANCUR TOTAL!” tulis Trump di platform miliknya, Truth Social, dengan huruf besar semua.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengakui bahwa laporan DIA itu asli, tapi menurutnya isinya “benar-benar keliru” dan harusnya dirahasiakan sebagai dokumen “top secret.” Ia menuding laporan itu bocor dengan sengaja untuk menjatuhkan Trump dan menyudutkan militer.
“Semua orang tahu apa yang terjadi kalau empat belas bom seberat 30 ribu pon dijatuhkan tepat sasaran: kehancuran total,” tulis Leavitt di platform X.
Utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steven Witkoff, juga tampil di Fox News membela versi Gedung Putih.
“Berita yang bilang kami tidak mencapai tujuan itu konyol banget,” kata Witkoff.
Ia bersikukuh bahwa tiga fasilitas nuklir utama Iran — Natanz, Isfahan, dan Fordo — sudah “dihancurkan.”
“Sebagian besar, kalau bukan semua, sentrifugal di sana rusak atau hancur,” lanjutnya. “Menurut saya dan banyak ahli lain yang sudah lihat data mentahnya, Iran bakal butuh waktu bertahun-tahun buat bangun ulang program itu.”
Serangan AS sendiri dilakukan dengan besar-besaran: pembom siluman B-2 menjatuhkan bom penghancur bunker GBU-57 ke dua fasilitas nuklir Iran, sementara kapal selam berpeluru kendali menargetkan lokasi ketiga dengan misil Tomahawk.
Trump menyebut operasi ini sebagai “keberhasilan militer yang spektakuler,” dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga mengklaim pasukan AS sudah “menghancurkan program nuklir Iran.”
Namun, pernyataan dari Jenderal Dan Caine, pejabat militer tertinggi AS, terdengar lebih hati-hati. Ia hanya menyebutkan bahwa serangan itu memberikan “kerusakan sangat parah” pada fasilitas Iran.
Sementara itu, pemerintah Iran pada Selasa menegaskan bahwa mereka sudah “mengambil langkah-langkah yang diperlukan” agar program nuklir mereka tetap bisa berjalan.
“Kami sudah siapkan rencana restart dari awal, dan strategi kami adalah memastikan proses produksi dan layanan tidak terganggu,” kata Kepala Badan Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, dalam pernyataan di TV pemerintah.
Seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, juga ikut angkat bicara. Menurutnya, Iran masih punya cadangan uranium yang diperkaya dan menegaskan bahwa “permainan belum selesai.”
Israel sendiri diketahui meluncurkan serangan udara besar-besaran pada 13 Juni, menyasar fasilitas nuklir, ilmuwan, dan pejabat tinggi militer Iran, dengan tujuan untuk memperlambat kemajuan program nuklir Teheran.
Sebelum serangan itu, Trump sempat mencoba jalur diplomatik untuk menggantikan kesepakatan nuklir 2015 yang ia batalkan pada masa jabatan pertamanya tahun 2018. Tapi akhirnya ia memilih jalur militer.
Operasi militer AS ini sangat besar skalanya — menurut Jenderal Caine, melibatkan lebih dari 125 pesawat termasuk pembom siluman, jet tempur, pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara, kapal selam peluncur misil, dan pesawat intai.
(lam)