LANGIT7.ID-, Teheran - Presiden AS
Donald Trump dilaporkan telah mengalihkan dana patungan
Board of Peace (BoP) atau Dewan keamanan sebesar USD17 miliar, kira-kira setara Rp291 miliar yang seharusnya dialokasikan untuk
Jalur Gaza, ke rezim Israel.
Sebuah laporan baru dari harian Lebanon Al Akhbar telah memicu kontroversi besar dengan melaporkan bahwa transfer tersebut dilakukan di bawah kedok agresi
AS-Israel terhadap Iran, yang dimulai pada 28 Februari.
Menurut laporan tersebut, Perwakilan Tinggi BoP, Nickolay Mladenov mengatakan, telah memberi tahu komite administratif yang mengelola Jalur Gaza bahwa dana yang dialokasikan tersebut kini telah habis sepenuhnya.
Uang tersebut, yang seharusnya digunakan untuk mendukung BoP dan membiayai rekonstruksi
Gaza, telah dialihkan ke pihak Israel. Demikian melansir media resmi Iran, PressTV, Minggu (19/4/2026).
Baca juga: "Akal Bulus" di Balik Dewan Perdamaian Gaza: Menyoal Iuran Rp 16,7 Triliun dan Tanggung Jawab MoralMengutip sumber-sumber yang terpercaya, Al Akhbar melaporkan bahwa selama konferensi Januari di Davos, kepala komite, Ali Shaath, menerima janji bantuan keuangan untuk sekira 350.000 keluarga.
Janji-janji ini termasuk pembayaran USD500 kepada tokoh-tokoh lokal terkemuka dan tetua suku, serta penyediaan 20.000 unit rumah prefabrikasi.
Namun, hingga kini tidak satu pun dari janji-janji ini terwujud. Mladenov menyebut kurangnya visi yang komprehensif dan tidak adanya sumber daya keuangan lantaran dana dialihkan ke Israel di tengah agresi AS-Israel yang sedang berlangsung terhadap Iran, seperti dilaporkan.
Laporan tersebut juga mengungkap manuver politik di balik layar. Sebelum pertemuan dengan Mladenov, Shaath mengadakan pembicaraan dengan mantan Perdana Menteri Inggris
Tony Blair, yang sebelumnya dipertimbangkan untuk peran pengawas di komite tersebut.
Blair mendesak Shaath untuk menahan diri dari terlibat dalam aktivitas politik apa pun dan hanya fokus pada bantuan kemanusiaan.
Baca juga: Muhammadiyah ke Pemerintah: Jangan Terjebak BoP Buatan Trump!Namun, saran ini bertentangan dengan arahan selanjutnya dari Mladenov, yang menginstruksikan Shaath untuk tidak menyatakan posisi apa pun tentang situasi di Gaza bahkan atas dasar kemanusiaan, dan untuk menghentikan semua tindakan eksekutif yang terkait dengan kegiatan komite di wilayah tersebut.
Meningkatnya kebingungan dan kelumpuhan di dalam komite telah menyebabkan berbagai faksi Palestina menyerukan kembalinya Shaath ke Gaza. Namun, Shaath telah menyerahkan keputusan tersebut kepada Mladenov, yang dipandang sebagai perwakilan dari kepemimpinan senior Dewan Perdamaian.
Situasi ini menggarisbawahi intervensi langsung dan luas AS dan Israel dalam administrasi Jalur Gaza, di mana para pejabat Palestina telah dilucuti dari otoritas nyata apa pun dan dikenai pembatasan yang berat, termasuk larangan komunikasi politik.
(lsi)