LANGIT7.ID–Jakarta; Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, mengaku pesimis soal peluang menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran yang disepakati tahun 2015 lalu. Hal ini ia sampaikan dalam wawancara dengan media Rusia, Izvestia, yang dirilis Selasa.
Komentar Ryabkov muncul sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel, setelah lebih dari sepekan kedua negara saling melancarkan serangan udara.
Wawancara ini dilakukan tak lama setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, dan mengklaim telah "menghancurkan total" situs-situs pengayaan uranium utama milik Iran.
"Aku tidak melihat adanya kondisi yang memungkinkan untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu saat ini," kata Ryabkov, mengacu pada kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang ditandatangani tahun 2015.
"Tapi itu bukan berarti kita meninggalkan jalur diplomasi. Justru sebaliknya. Sekarang saatnya kita menggandakan upaya untuk mencapai kesepakatan yang bisa membantu menstabilkan situasi."
Ryabkov juga bilang bahwa Rusia memahami posisi dan alasan Iran. "Dan tentu saja, semua ini butuh syarat utama: serangan harus dihentikan. Tidak boleh ada eskalasi lanjutan dari pihak lain," katanya. "Kalau ini dipenuhi, barulah pihak Iran bisa mempertimbangkan opsi-opsi politik dan diplomatik mereka."
Rusia sendiri sudah mengecam keras serangan Israel terhadap target-target Iran. Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan menyebut serangan Amerika ke situs nuklir Iran sebagai tindakan “tak berdasar” yang bisa menyeret dunia ke arah krisis besar.
Duta Besar Rusia untuk PBB juga ikut mengecam argumen Amerika yang menyebut Iran sedang menuju pembuatan bom nuklir. Ia menyebut narasi itu sebagai “dongeng lama versi baru” soal Timur Tengah.
Sebagai catatan, kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) ditandatangani tahun 2015, dengan tujuan membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi terhadap Teheran. Namun, Presiden AS Donald Trump menarik Amerika dari perjanjian itu pada 2018 saat masa jabatan pertamanya.
Beberapa upaya negosiasi sempat dilakukan, tapi Iran membatalkan pertemuan terakhir menyusul serangan pertama yang dilakukan Israel.
(lam)