LANGIT7.ID-, Teheran - Nilai tukar rial Iran merosot ke rekor terendah baru terhadap dolar AS pada hari Selasa (29/9), dengan kurs pasar bebas menembus angka 2,5 juta rial per dolar, menurut laporan Anadolu.
Dolar diperdagangkan pada level 2,542 juta rial, naik 3,84% dari hari sebelumnya, menurut Pashizi, sebuah situs web yang memantau pasar valuta asing bebas Iran. Nilai tukar sempat mencapai titik tertinggi harian di angka 2,548 juta rial.
Penurunan terbaru ini menyusul serangkaian rekor terendah bagi mata uang tersebut. Pada hari Senin (28/9), dolar sempat menyentuh angka 2,4 juta rial di pasar bebas, di tengah beratnya sanksi AS dan tingginya inflasi.
Berdasarkan pantauan, mata uang Iran terus melemah sejak serangan AS-Israel dimulai pada bulan Februari 2026 lalu. Perang dan blokade angkatan laut AS memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian.
Baca juga: Iran Tak Gentar Meski Penerbangannya Dibatasi, Justru Ancam BalikPenurunan nilai tukar terbaru ini terjadi di tengah upaya para mediator yang bekerja sama dengan Washington dan Teheran, dalam pembicaraan yang bertujuan untuk membuka kembali
Selat Hormuz.
Upaya Mediasi Iran-ASQatar pada hari Selasa (29/9) menyatakan bahwa mereka sedang menyampaikan pesan antara Amerika Serikat dan Iran sebagai bagian dari upaya mediasi untuk mengakhiri konflik di antara kedua negara tersebut, demikian dilaporkan Anadolu.
"Upaya mediasi Qatar terus berjalan, dan saat ini kami sedang menyampaikan pesan antara pihak Amerika dan Iran," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri, Majed Al-Ansari, dalam konferensi pers di Doha.
Baca juga: Irak Turuti AS Larang Penerbangan Iran, Tapi Justru Diprotes Warga dan Ancam Bakal Duduki BandaraSaat ditanya mengenai kemungkinan serangan militer berskala besar oleh AS terhadap Iran, Ansari mengatakan, "Kami prihatin dengan segala bentuk eskalasi di kawasan ini dan berupaya mencari solusi damai."
Washington dan Teheran sempat menandatangani nota kesepahaman pada bulan Juni untuk menghentikan permusuhan dan menjaga kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Namun pelaksanaannya terhambat, akibat perbedaan pendapat mengenai keamanan di jalur perairan strategis tersebut seiring dengan terus meningkatnya ketegangan antara kedua belah pihak. (*/lsi/middleeastmonitor)
(lsi)