LANGIT7.ID, Jakarta; - Sebuah aksi heroik ditunjukkan oleh Ebru Ahmed, seorang pemuda Muslim berusia 27 tahun asal Amerika Serikat. Di tengah situasi menegangkan pada Senin, 19 Oktober 2026, ia nekat mempertaruhkan nyawanya dengan melompat ke dalam bus sekolah yang melaju tanpa kendali di kawasan Dayton’s Bluff, Kota Saint Paul, Minnesota.
Berkat ketenangannya, ia berhasil menghentikan kendaraan dan menyelamatkan 19 siswa di dalamnya tanpa ada korban luka.
Insiden bermula ketika Ahmed sedang beristirahat di luar toko keluarganya. Ia tiba-tiba melihat bus sekolah berwarna kuning melintas dengan pintu terbuka, lampu peringatan menyala, dan sang sopir mengalami darurat medis serius berupa kejang.
Tanpa berpikir panjang, ia berlari, melompat masuk ke kabin kemudi, dan mengamankan situasi setelah sempat salah memindahkan tuas transmisi hingga akhirnya berhasil menarik rem darurat.
Di balik tindakan berani tersebut, dorongan terbesar Ahmed bukanlah mencari ketenaran, melainkan prinsip keimanan yang berakar dari ayat suci Alquran. Ketika memutuskan untuk bertindak, ia teringat firman Allah SWT dalam QS Al-Ma’idah [5]: 32 yang menegaskan agungnya nilai menyelamatkan nyawa manusia.
"Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia."Dalam wawancaranya dengan surat kabar The Guardian, Ahmed mengungkapkan bahwa motivasinya murni lahir dari panggilan kemanusiaan dan keimanan.
"Saya orang yang menyukai angka, dan angka-angka ini masuk akal bagi saya. Saya tidak melakukan ini untuk diri saya sendiri, tetapi tindakan ini lahir dari sikap mengutamakan orang lain demi Allah," ujar Ahmed merujuk pada makna ayat tersebut.
Selain dilandasi nilai keagamaan, Ahmed menyebut ketenangannya dalam menghadapi krisis juga terinspirasi dari kebiasaannya menonton serial medis televisi, yang mengajarkan pentingnya berpikir jernih di bawah tekanan. Aksi penyelamatan ini tidak hanya menyelamatkan puluhan nyawa anak-anak sekolah, tetapi juga menghadirkan kebanggaan tersendiri bagi komunitas diaspora Eritrea di tengah berbagai tantangan sosial yang mereka hadapi di Amerika Serikat.
"Saya benar-benar merasa bahwa itu adalah kewajiban saya. Kita sedang berbicara tentang anak-anak, Anda tahu. Bahkan jika saya meninggal, tindakan itu tetap sepadan," pungkasnya.
(zhd)