LANGIT7.ID, Jakarta; -
Oleh: Ichwan A. Basri Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, perdebatan klasik di ruang publik selalu berputar pada sumbu yang sama: mengapa Bank Sentral selalu dinilai behind the curve—terlambat satu langkah dalam menjinakkan inflasi atau menahan arus modal keluar (capital outflow)? Pasar modal mendikte, media massa mengecam, dan para teoretikus sibuk menunjuk hidung otoritas moneter. Ruang publik jadi ramai banget menuduh bank sentral terlambat bertindak bahkan ada yang bilang salah langkah.
Namun, jika kita mau menilik lebih dalam, kegagalan untuk bertindak secara preemptive (antisipatif) bukanlah sekadar kelemahan personal para pejabat bank sentral. Karena kalau tindakan preemptive ini benar-benar dilakukan, mbahnya monetaris, yaitu Milton Friedman saja tidak menganjurkan. Keterlambatan ini adalah sebuah keniscayaan struktural dari ilmu ekonomi itu sendiri. Ironisnya, alih-alih menerima keterbatasan ini dengan kerendahan hati, dunia ekonomi modern sering kali terjebak dalam ruang hampa formulanya sendiri, disandera oleh apa yang disebut sebagai kesombongan intelektual (intellectual hubris).
Jebakan Ruang Hampa TeoriSejarah moneter dunia telah berulang kali memberikan pelajaran pahit tentang bagaimana teori-teori hebat dari para raksasa ekonomi runtuh ketika menabrak realitas di lapangan. Salah satu contoh paling mencolok adalah Milton Friedman dengan mazhab Monetarismenya.
Sebagai kritikus ulung The Fed, Friedman merumuskan bahwa bank sentral tidak akan pernah bisa melakukan penyetelan halus (fine-tuning) suku bunga tanpa memicu ketidakstabilan. Sebagai solusi, ia menawarkan "obat ajaib": matikan fungsi manipulasi suku bunga dan biarkan jumlah uang beredar tumbuh secara mekanis dan konstan seperti robot.
Namun, ketika teori indah di atas kertas ini diterapkan oleh Paul Volcker di AS dan Margaret Thatcher di Inggris pada awal 1980-an, yang terjadi adalah kekacauan. Variabel psikologi pasar, inovasi perbankan, dan kecepatan perputaran uang di dunia nyata ternyata jauh lebih liar dan tidak stabil daripada asumsi matematika Friedman di Universitas Chicago. Menargetkan jumlah uang secara kaku justru mencekik sektor riil dan memicu pengangguran massal. Di akhir hayatnya pada tahun 2003, Friedman dengan jujur terpaksa mengakui keterbatasan teorinya—sebuah momen mawas diri yang langka di menara gading akademis.
Ekonom Muslim terkemuka, Umer Chapra, dalam Towards a Just Monetary System, menangkap fenomena ini dengan jeli. Ketika mengutip para ekonom barat, Chapra ingin menunjukkan bahwa ilusi kendali moneter konvensional akan selalu berakhir one step behind. Akar masalahnya sering kali bukan pada salah hitung rumus, melainkan pada keengganan teoretikus untuk melihat variabel tersembunyi yang berada di luar model makroekonomi mereka.
Ketika Teori Menjadi DogmaMengapa kesombongan intelektual ini begitu gigih bertahan? Karena ilmu ekonomi modern sering kali mengkhianati watak aslinya. Demi terlihat presisi dan empiris, ekonomi meminjam rumus-rumus rumit dari ilmu fisika. Model matematika ini menciptakan ilusi kemahatahuan, seolah-olah perilaku jutaan manusia di pasar dapat dipenjara dalam angka index dan kurva.
Ketika sebuah kebijakan moneter tidak mempan—misalnya saat yield instrumen dalam negeri sudah dinaikkan namun modal asing tetap kabur karena faktor panik geopolitik global—para penganut teoretis radikal sering kali berkilah. Mereka menolak melakukan koreksi dan justru menyalahkan keadaan: "Teorinya tidak salah, hanya saja pasar bertindak tidak rasional," atau "Kebijakannya kurang diterapkan secara murni."
Pada titik inilah, sains telah bergeser menjadi dogma. Teori tidak lagi digunakan sebagai alat bantu untuk memahami realitas, melainkan sebagai kacamata kuda untuk menolak realitas yang tidak cocok dengan ego sang pemikir.
Kembali ke Dasar Utama Sains: Keterbukaan AbadiDasar utama dari sains adalah keterbukan abadi dan kesiapan untuk menerima koreksi. Seperti yang diingatkan oleh filsuf sains Karl Popper melalui konsep falsifiability, sebuah teori hanya layak disebut ilmiah jika ia menyediakan ruang untuk dibuktikan salah oleh data dan realitas baru.
Sains dalam perjalanan eksplorasinya terhadap alam—baik makro maupun mikro—seharusnya tidak pernah membeku menjadi dogma mati. Sama seperti astrofisika yang rela merevisi teorinya ketika teleskop canggih menemukan galaksi baru yang aneh, ilmu ekonomi juga harus memiliki kerendahan hati yang sama. Lanskap ekonomi abad ke-21 yang digerakkan oleh algoritma perdagangan otomatis (high-frequency trading), kecerdasan buatan, dan fragmentasi geopolitik global adalah "galaksi-galaksi baru" yang tidak pernah ada dalam buku teks klasik.
Memaksakan formula usang tanpa kesiapan untuk dikoreksi adalah sebuah kenaifan ilmiah yang mahal harganya. Sebab, dalam ekonomi, taruhan dari sebuah eksperimen ego teoretis bukanlah sekadar salah coret di papan tulis, melainkan hajat hidup dan kesejahteraan orang banyak di sektor riil.
Sudah saatnya para ekonom dan teoretikus menurunkan ego mereka. Mengakui keterbatasan, bersikap mawas diri, dan selalu terbuka pada kritik perbaikan di kemudian hari, bukanlah tanda kelemahan ilmiah. Sebaliknya, itulah bentuk tertinggi dari kejujuran intelektual, dan satu-satunya cara agar ilmu ekonomi tetap setia pada hakikatnya sebagai sains yang memanusiakan manusia.
Wallahu A’lam Bish-Shawab.
Ichwan Abidin Basri lahir di Lamongan, 20 Juni 1966, dan mengenyam pendidikan di International Institute of Islamic Economics, Islamabad, Pakistan.
Ia pernah menjabat sebagai Staf Ahli Direksi LPPI serta Shariah Advisor untuk Deutsche Bank, HSBC Securities, dan Maybank Syariah.
Saat ini, aktif mengajar sebagai dosen pascasarjana di Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) dan mendedikasikan keahliannya sebagai arbiter di Basyarnas.(zhd)