Kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz Digunduli karena Tak ke Masjid
Fajar adhitya
Kamis, 29 Juli 2021 - 16:30 WIB
Jamaah haji dibotaki atau tahallul. (Foto: Istimewa)
Salah satu pemimpin Dinasti Umayyah, Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pernah digunduli gurunya gegara tak shalat berjamaah di masjid. Momen tersebut terjadi ketika dia remaja atas permintaan sang ayah.
Ummar bin Abdul Aziz menjadi seorang pemimpin yang berkuasa pada tahun 717-720 Masehi. Kealiman dan gaya kepemimpinan yang cemerlang membuat sejarawan Islam menyandingkan Umar bin Abdul Aziz dengan Umar Bin Khattab, khalifah kedua sepeninggalan Rasulullah.
Melansir buku '50 Kisah Teladan Para Pemakmur Masjid', kesalihan Umar memang dibentuk sejak kecil oleh ayahnya. Abdul Aziz bin Marwan mengajar Umar dengan tegas, dia tak main-main bila menyangkut pendidikan agama.
Karena tugasnya sebagai seorang Gubernur Mesir, Abdul Aziz, mempercayakan pendidikan agama putranya kepada Salih bin Kaisan, ulama besar kota Madinah yang juga seorang tabi'in.
Salih mendidik Umar layaknya anak sendiri. Dia mewanti-wanti Umar agar senantiasa menegakkan shalat lima waktu berjamaah di masjid. Namun sekali-kalinya Ummar lalai, dia pun mendapat hukuman sosial.
Saat remaja, ada beberapa perilaku Umar terkadang membuat gurunya kesal. Suatu kali, Umar telat mengikuti shalat berjamaah di masjid. Dia lebih mementingkan bersolek daripada memenuhi panggilan ibadah di masjid. Lalu dia pun ditanya oleh sang guru.
"Apa yang menyibukkanmu, hai Umar?," tanya Salih.
Ummar bin Abdul Aziz menjadi seorang pemimpin yang berkuasa pada tahun 717-720 Masehi. Kealiman dan gaya kepemimpinan yang cemerlang membuat sejarawan Islam menyandingkan Umar bin Abdul Aziz dengan Umar Bin Khattab, khalifah kedua sepeninggalan Rasulullah.
Melansir buku '50 Kisah Teladan Para Pemakmur Masjid', kesalihan Umar memang dibentuk sejak kecil oleh ayahnya. Abdul Aziz bin Marwan mengajar Umar dengan tegas, dia tak main-main bila menyangkut pendidikan agama.
Karena tugasnya sebagai seorang Gubernur Mesir, Abdul Aziz, mempercayakan pendidikan agama putranya kepada Salih bin Kaisan, ulama besar kota Madinah yang juga seorang tabi'in.
Salih mendidik Umar layaknya anak sendiri. Dia mewanti-wanti Umar agar senantiasa menegakkan shalat lima waktu berjamaah di masjid. Namun sekali-kalinya Ummar lalai, dia pun mendapat hukuman sosial.
Saat remaja, ada beberapa perilaku Umar terkadang membuat gurunya kesal. Suatu kali, Umar telat mengikuti shalat berjamaah di masjid. Dia lebih mementingkan bersolek daripada memenuhi panggilan ibadah di masjid. Lalu dia pun ditanya oleh sang guru.
"Apa yang menyibukkanmu, hai Umar?," tanya Salih.