Ramadhan di Libya, Relawan Restorasi Al-Qur’an Tua dan Rusak
Muhajirin
Senin, 11 April 2022 - 08:00 WIB
Restorasi Quran yang rusak di Libya (foto: istimewa)
Sekelompok sukarelawan di Libya bekerja sepanjang waktu memperbaiki salinan Al-Qur’an yang lama atau rusak. Restorasi itu menjadi salah satu pilihan masyarakat setempat, karena harga mushaf baru naik, terutama sejak pemerintah tidak lagi mencetak mushaf Al-Qur’an.
Khaled Al Drebi menjadi salah satu relawan yang bergabung di rumah restorasi Al-Qur’an. Dia bekerja siang dan malam untuk melayani permintaan umat Islam merestorasi Al-Qur’an selama bulan suci Ramadhan.
“Pembelian Al-Qur’an baru secara tradisional meningkat sebelum bulan Ramadhan, tetapi sekarang ini ada pergeseran,” kata Drebi, dikutip africanes, Senin (11/4/2022).
Libya, negara di Afrika Utara itu, telah mengalami lebih dari satu dekade konflik. Itu membuat banyak lembaga dan institusi mengalami kekacauan. Hal tersebut memberikan pukulan telak bagi ekonomi negara yang kaya minyak itu.
Drebi mengatakan, harga cetakan Al-Qur’an baru saat ini mengalami kenaikan. Itu membuat banyak masyarakat lebih memilih merestorasi Al-Qur’an lama mereka. “Restorasi cetakan Al-Qur’an sekarang jadi populer, dan ini belum pernah terjadi Sebelumnya,” ucapnya.
Baca juga: Manfaat Baca Al-Quran untuk Kesehatan, Bagus saat Berpuasa
Harga mushaf baru mencapai $20 AS. Sementara, rumah restorasi Drebi hanya mengenakan biaya berapa dolar saja. Akan tetapi, harga murah tidak menjadi satu-satunya faktor. Ada nilai sentimental juga menjadi faktor mengapa masyarakat memiliki memperbaiki Al-Qur’an lama atau rusak.
Khaled Al Drebi menjadi salah satu relawan yang bergabung di rumah restorasi Al-Qur’an. Dia bekerja siang dan malam untuk melayani permintaan umat Islam merestorasi Al-Qur’an selama bulan suci Ramadhan.
“Pembelian Al-Qur’an baru secara tradisional meningkat sebelum bulan Ramadhan, tetapi sekarang ini ada pergeseran,” kata Drebi, dikutip africanes, Senin (11/4/2022).
Libya, negara di Afrika Utara itu, telah mengalami lebih dari satu dekade konflik. Itu membuat banyak lembaga dan institusi mengalami kekacauan. Hal tersebut memberikan pukulan telak bagi ekonomi negara yang kaya minyak itu.
Drebi mengatakan, harga cetakan Al-Qur’an baru saat ini mengalami kenaikan. Itu membuat banyak masyarakat lebih memilih merestorasi Al-Qur’an lama mereka. “Restorasi cetakan Al-Qur’an sekarang jadi populer, dan ini belum pernah terjadi Sebelumnya,” ucapnya.
Baca juga: Manfaat Baca Al-Quran untuk Kesehatan, Bagus saat Berpuasa
Harga mushaf baru mencapai $20 AS. Sementara, rumah restorasi Drebi hanya mengenakan biaya berapa dolar saja. Akan tetapi, harga murah tidak menjadi satu-satunya faktor. Ada nilai sentimental juga menjadi faktor mengapa masyarakat memiliki memperbaiki Al-Qur’an lama atau rusak.