Jadwal Shubuh Muhammadiyah Mundur 8 Menit, Begini Penjelasannya
Muhajirin
Kamis, 21 April 2022 - 22:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Setiap awal shalat dihitung berdasarkan penerjemahan posisi matahari pada saat-saat tertentu sesuai ketetapan Al-Qur’an dan hadits. Itu disebut hisab waktu shalat, yang berarti menentukan kedudukan matahari, sehingga dapat diketahui kedudukan matahari pada bola langit pada saat-saat tertentu.
Dalam khazanah ilmu hisab waktu shalat, ada banyak metode dan kriteria yang ditawarkan seperti University of Islamic Karachi, Islamic Science of North America, Muslim World League, Ummul Qura dan Mesir.
Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM), Andi Azhar, menjelaskan, dalam Al-Qur’an, tiap-tiap waktu shalat dijelaskan melalui ciri-ciri yang ada di langit. Misal, waktu subuh dimulai hadirnya fajar sadiq.
Sains lalu menyingkap petunjuk-petunjuk tersebut. Fenomena awal waktu hampir dengan awal waktu Isya. Isya ditandai dengan terlihatnya bintang-bintang di langit atau mega merah di ufuk barat sudah hilang, atau perubahan dari terang ke gelap.
Waktu Shubuh kebalikan dari waktu Isya, yakni mulai surutnya cahaya bintang-bintang di langit, atau perubahan dari gelap ke terang. Praktisnya, pada saat zenit matahari hari 90º + standar waktu Subuh.
“Untuk Indonesia standar yang digunakan adalah 20º di bawah horizon, jadi jarak zenitnya menjadi 90º + 20º = 110º,” tulis Andi Azhar di akun Twitter-nya, Kamis (21/4/2022).
Mengenal Fajar Shadiq dan Fajar Kadzib
Dalam khazanah ilmu hisab waktu shalat, ada banyak metode dan kriteria yang ditawarkan seperti University of Islamic Karachi, Islamic Science of North America, Muslim World League, Ummul Qura dan Mesir.
Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM), Andi Azhar, menjelaskan, dalam Al-Qur’an, tiap-tiap waktu shalat dijelaskan melalui ciri-ciri yang ada di langit. Misal, waktu subuh dimulai hadirnya fajar sadiq.
Sains lalu menyingkap petunjuk-petunjuk tersebut. Fenomena awal waktu hampir dengan awal waktu Isya. Isya ditandai dengan terlihatnya bintang-bintang di langit atau mega merah di ufuk barat sudah hilang, atau perubahan dari terang ke gelap.
Waktu Shubuh kebalikan dari waktu Isya, yakni mulai surutnya cahaya bintang-bintang di langit, atau perubahan dari gelap ke terang. Praktisnya, pada saat zenit matahari hari 90º + standar waktu Subuh.
“Untuk Indonesia standar yang digunakan adalah 20º di bawah horizon, jadi jarak zenitnya menjadi 90º + 20º = 110º,” tulis Andi Azhar di akun Twitter-nya, Kamis (21/4/2022).
Mengenal Fajar Shadiq dan Fajar Kadzib