Rumah Limasan di Era Modern, Gaya Hidup Merawat Tradisi
Arif purniawan
Ahad, 08 Agustus 2021 - 20:15 WIB
Rumah limasan di era modern untuk memadukan gaya hidup dan merawat tradisi. (Foto: Instagram).
Bosan dengan arsitektur rumah modern? Rumah limasan bisa menjadi pilihan menarik. Rumah tradisional Jawa kuno ini akan memberikan kesan penghuninya tinggal di masa lampau. Limasan adalah rumah Jawa yang disebut lebih tua dibanding joglo, meski terkesan kurang mewah.
Dalam buku "Kota di Djawa Tempoe Doeloe" halaman 143, Olivier Johannes, Raap, 29 Mei 2017), Limasan adalah tipe lama sekali dan sudah digambarkan dalam relief Candi Prambanan dan Candi Borobudur abad ke-9. Adapun pada relief Candi Kuno sampai zaman akhir Majapahit abad ke-15 M, rumah bentuk joglo belum ada. Sehingga rumah joglo dianggap baru ada setelah era Mataram.
Pada bagian tengah rumah limasan memiliki kerangka dengan delapan tiang kayu. Sisi panjang adalah sisi depan. Intinya atap di bagian tengah berbentuk perisai, dan terdiri atas empat potongan atap. Dua buah bentuk segitiga dan dua buah bentuk trapesium. Bagian rumah yang depan dan belakang memiliki atap lebih mendatar. Jumlah atap totalnya ada 6 potong.
Kekunoan rumah limasan di mata Wahyu Sulistiyawan (35) menjadi kebanggaan tersendiri, karena ikut nguri-uri budaya Jawa. Ia tertarik untuk membangun rumah limasan karena terinspirasi dari beberapa kawannya, seprofesi di Semarang, yang gemar memburu jati lawasan, baik untuk rumah maupun aksesoris.
Setelah melakukan pencarian, dia akhirnya bisa mendapatkan di Kabupaten Wonogiri sekitar Desember 2014. Satu rumah limasan utuh terbuat dari kayu jati, dia bayar dengan harga Rp50 juta. Rumah berukuran 10 x 11 meter utuh tersebut kemudian dipasang, di lahan seluas 730 meter persegi di Pakintelan, RT 05 RW 5 Gunungpati Kota Semarang.
"Saya bosan rumah tembok. Ya biar beda saja dengan yang lain dan ingin mengembalikan kejayaan rumah ini lagi. Rumah limasan ini karena terbuat dari kayu, jika cuaca dingin akan hangat, dan ketika cuaca sedang panas akan adem," kata Sulis kepada LANGIT7.ID.
Limasannya memiliki dua pintu utama, dengan ukuran yang cukup besar. Alhasil, pada siang hari, cuacanya tidak terlalu panas, karena angin dari luar bisa masuk. Jendelanya pun juga cukup besar, dengan diututupi lonjoran bulatan kayu, yang tidak dimasuki tangan. Sementara, bagian lantai menggunakan keramik modern berwarna cokelat, bukan model panggung dari kayu.
Dalam buku "Kota di Djawa Tempoe Doeloe" halaman 143, Olivier Johannes, Raap, 29 Mei 2017), Limasan adalah tipe lama sekali dan sudah digambarkan dalam relief Candi Prambanan dan Candi Borobudur abad ke-9. Adapun pada relief Candi Kuno sampai zaman akhir Majapahit abad ke-15 M, rumah bentuk joglo belum ada. Sehingga rumah joglo dianggap baru ada setelah era Mataram.
Pada bagian tengah rumah limasan memiliki kerangka dengan delapan tiang kayu. Sisi panjang adalah sisi depan. Intinya atap di bagian tengah berbentuk perisai, dan terdiri atas empat potongan atap. Dua buah bentuk segitiga dan dua buah bentuk trapesium. Bagian rumah yang depan dan belakang memiliki atap lebih mendatar. Jumlah atap totalnya ada 6 potong.
Kekunoan rumah limasan di mata Wahyu Sulistiyawan (35) menjadi kebanggaan tersendiri, karena ikut nguri-uri budaya Jawa. Ia tertarik untuk membangun rumah limasan karena terinspirasi dari beberapa kawannya, seprofesi di Semarang, yang gemar memburu jati lawasan, baik untuk rumah maupun aksesoris.
Setelah melakukan pencarian, dia akhirnya bisa mendapatkan di Kabupaten Wonogiri sekitar Desember 2014. Satu rumah limasan utuh terbuat dari kayu jati, dia bayar dengan harga Rp50 juta. Rumah berukuran 10 x 11 meter utuh tersebut kemudian dipasang, di lahan seluas 730 meter persegi di Pakintelan, RT 05 RW 5 Gunungpati Kota Semarang.
"Saya bosan rumah tembok. Ya biar beda saja dengan yang lain dan ingin mengembalikan kejayaan rumah ini lagi. Rumah limasan ini karena terbuat dari kayu, jika cuaca dingin akan hangat, dan ketika cuaca sedang panas akan adem," kata Sulis kepada LANGIT7.ID.
Limasannya memiliki dua pintu utama, dengan ukuran yang cukup besar. Alhasil, pada siang hari, cuacanya tidak terlalu panas, karena angin dari luar bisa masuk. Jendelanya pun juga cukup besar, dengan diututupi lonjoran bulatan kayu, yang tidak dimasuki tangan. Sementara, bagian lantai menggunakan keramik modern berwarna cokelat, bukan model panggung dari kayu.