Pemerintah Genjot Peningkatan Produksi Kedelai Dalam Negeri
Hasanah syakim
Senin, 19 September 2022 - 20:15 WIB
Presiden Jokowi menggelar rapat bersama sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju (foto: Setkab)
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyampaikan kementeriannya sedang mengupayakan peningkatan produksi kedelai dalam negeri.
Menurut Syahrul, salah satu upayanya dengan menanam bibit varietas kedelai yang lebih unggul.
"Bahkan apabila diperlukan menggunakan bibit produk rekayasa genetik atau genetically modified organism (GMO) maupun bibit impor," kata Syahrul dalam keterangannya Senin (19/9/2022).
Baca juga:Wapres Dorong Pesantren Lakukan Rekayasa Sistem Tanam Hidroponik
Syahrul mengatakan, GMO, dan bibit impor ini tentu untuk mempersiapkan bibit-bibit nasional atau lokal dengan varietas tinggi, sehingga diharapkan produksi kedelai di Tanah Air dapat meningkat secara signifikan.
“Selama ini kedelai misalnya hanya (menghasilkan) 1,5 sampai 2 ton per hektare. Diharapkan kita bisa mendapatkan varietas yang mampu berproduksi di atas 3 sampai 4 ton per hektar,” tegas Syahrul.
Syahrul menjelaskam, rendahnya volume produksi kedelai per hektare menjadi pemicu para petani beralih ke jagung. Menurutnya, hal ini berdampak pada tingginya impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan nasional, hingga mencapai di atas 90 persen.
Menurut Syahrul, salah satu upayanya dengan menanam bibit varietas kedelai yang lebih unggul.
"Bahkan apabila diperlukan menggunakan bibit produk rekayasa genetik atau genetically modified organism (GMO) maupun bibit impor," kata Syahrul dalam keterangannya Senin (19/9/2022).
Baca juga:Wapres Dorong Pesantren Lakukan Rekayasa Sistem Tanam Hidroponik
Syahrul mengatakan, GMO, dan bibit impor ini tentu untuk mempersiapkan bibit-bibit nasional atau lokal dengan varietas tinggi, sehingga diharapkan produksi kedelai di Tanah Air dapat meningkat secara signifikan.
“Selama ini kedelai misalnya hanya (menghasilkan) 1,5 sampai 2 ton per hektare. Diharapkan kita bisa mendapatkan varietas yang mampu berproduksi di atas 3 sampai 4 ton per hektar,” tegas Syahrul.
Syahrul menjelaskam, rendahnya volume produksi kedelai per hektare menjadi pemicu para petani beralih ke jagung. Menurutnya, hal ini berdampak pada tingginya impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan nasional, hingga mencapai di atas 90 persen.