Bhinneka Tunggal Ika Bukan untuk Menegasikan Satu Kelompok Bangsa atau Agama
Muhajirin
Rabu, 18 Agustus 2021 - 09:30 WIB
Ilustrasi toleransi beda etnis dan agama antara Muslim dengan etnis Tionghoa (foto: langit7.id/istock)
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti, mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara yang berhasil mengintegrasikan berbagai suku bangsa menjadi kesatuan. Semua suku bangsa yang ada Tanah Air menyatu dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Semboyan tersebut kerap dimaknai ‘berbeda-beda tetapi satu jua’.
Namun, Mu’ti memaknai Bhineka Tunggal Ika sebagai ‘berbeda-beda agar kita menjadi satu’. Dalam terjemahan bahasa Inggris mayoritas orang memakai kalimat unity in diversity, namun bagi Mu’ti terjemahan Bhineka Tunggal Ika adalah Unity is diversity.
“Justru persatuan itu adalah keberagaman. Jadi, tetap dipertahankan, bahkan kemudian mendapatkan pengakuan serta menjadi modal sosial untuk kita menjadi bangsa yang bersatu, untuk menjadi bangsa yang berdaulat, dan menjadi yang kuat,” kata Mu’ti, dikutip laman Muhammadiyah.or.id, Rabu (18/8/2021).
Dalam kehidupan bangsa, modal perbedaan itu terus dijaga oleh bangsa Indonesia dengan menghormati setiap perbedaan yang ada. Bukan menegasikan salah satu kelompok yang berbeda.
Mu’ti mengajak masyarakat berkaca pada proses Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda bukan komitmen satu kelompok, tapi semua komunitas suku dan agama yang ada di Nusantara. Mereka membawa identitas kelompok masing-masing, tapi bersedia menyatu dalam identitas imajiner yang lebih besar bernama Indonesia.
Maka dari itu, kata Mu’ti, jika membicarakan kedaulatan, Sumpah Pemuda adalah awal bagi bangsa Indonesia untuk membangun cultural sovereignty. Suatu kedaulatan budaya yang disebut dengan nama Indonesia. Namun Indonesia sebagai milik bersama, bukan yang menegasikan perbedaan yang ada atau meleburkan yang sudah ada.
Namun, Mu’ti memaknai Bhineka Tunggal Ika sebagai ‘berbeda-beda agar kita menjadi satu’. Dalam terjemahan bahasa Inggris mayoritas orang memakai kalimat unity in diversity, namun bagi Mu’ti terjemahan Bhineka Tunggal Ika adalah Unity is diversity.
“Justru persatuan itu adalah keberagaman. Jadi, tetap dipertahankan, bahkan kemudian mendapatkan pengakuan serta menjadi modal sosial untuk kita menjadi bangsa yang bersatu, untuk menjadi bangsa yang berdaulat, dan menjadi yang kuat,” kata Mu’ti, dikutip laman Muhammadiyah.or.id, Rabu (18/8/2021).
Dalam kehidupan bangsa, modal perbedaan itu terus dijaga oleh bangsa Indonesia dengan menghormati setiap perbedaan yang ada. Bukan menegasikan salah satu kelompok yang berbeda.
Mu’ti mengajak masyarakat berkaca pada proses Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda bukan komitmen satu kelompok, tapi semua komunitas suku dan agama yang ada di Nusantara. Mereka membawa identitas kelompok masing-masing, tapi bersedia menyatu dalam identitas imajiner yang lebih besar bernama Indonesia.
Maka dari itu, kata Mu’ti, jika membicarakan kedaulatan, Sumpah Pemuda adalah awal bagi bangsa Indonesia untuk membangun cultural sovereignty. Suatu kedaulatan budaya yang disebut dengan nama Indonesia. Namun Indonesia sebagai milik bersama, bukan yang menegasikan perbedaan yang ada atau meleburkan yang sudah ada.