LANGIT7.ID, Jakarta - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti, mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara yang berhasil mengintegrasikan berbagai suku bangsa menjadi kesatuan. Semua suku bangsa yang ada Tanah Air menyatu dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Semboyan tersebut kerap dimaknai ‘berbeda-beda tetapi satu jua’.
Namun, Mu’ti memaknai Bhineka Tunggal Ika sebagai ‘berbeda-beda agar kita menjadi satu’. Dalam terjemahan bahasa Inggris mayoritas orang memakai kalimat
unity in diversity, namun bagi Mu’ti terjemahan Bhineka Tunggal Ika adalah
Unity is diversity.
“Justru persatuan itu adalah keberagaman. Jadi, tetap dipertahankan, bahkan kemudian mendapatkan pengakuan serta menjadi modal sosial untuk kita menjadi bangsa yang bersatu, untuk menjadi bangsa yang berdaulat, dan menjadi yang kuat,” kata Mu’ti, dikutip laman Muhammadiyah.or.id, Rabu (18/8/2021).
Dalam kehidupan bangsa, modal perbedaan itu terus dijaga oleh bangsa Indonesia dengan menghormati setiap perbedaan yang ada. Bukan menegasikan salah satu kelompok yang berbeda.
Mu’ti mengajak masyarakat berkaca pada proses Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda bukan komitmen satu kelompok, tapi semua komunitas suku dan agama yang ada di Nusantara. Mereka membawa identitas kelompok masing-masing, tapi bersedia menyatu dalam identitas imajiner yang lebih besar bernama Indonesia.
Maka dari itu, kata Mu’ti, jika membicarakan kedaulatan, Sumpah Pemuda adalah awal bagi bangsa Indonesia untuk membangun
cultural sovereignty. Suatu kedaulatan budaya yang disebut dengan nama Indonesia. Namun Indonesia sebagai milik bersama, bukan yang menegasikan perbedaan yang ada atau meleburkan yang sudah ada.
“Tapi justru menegaskan kebhinekaan yang ada dan memberikan ruang aktualisasi dan integrasi agar kebhinekaan itu tidak hilang, karena kepentingan sebuah entitas baru yang bernama Indonesia,” kata Mu’ti.
Mu’ti mengingatkan, kedewasaan dalam hidup kebangsaan harus dijaga. Perilaku menegasikan satu kelompok bangsa atau agama akan berdampak kontraproduktif, sebagaimana yang terjadi pada negara-negara Eropa di kawasan Balkan.
“Nah, di sinilah kita bisa tetap menjadi negara yang bersatu, rukun, dan berdaulat, karena perbedaan yang ada itu tidak dinegasikan dan tidak dinihilkan. Banyak negara yang mengalami konflik etnis dan politik yang ada karena adanya pemaksaan untuk satu kelompok tertentu mendominasi kelompok yang lainnya, atau ada juga realitas di mana untuk menjadi suatu bangsa etnis tertentu dari suatu bangsa ditiadakan,” jelas Mu'ti.
(jqf)