Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 01 Mei 2026
home masjid detail berita

Apakah Semua Ahl al-Kitab Sama? Tafsir Sebuah Pertanyaan Lama

miftah yusufpati Kamis, 04 September 2025 - 04:15 WIB
Apakah Semua Ahl al-Kitab Sama? Tafsir Sebuah Pertanyaan Lama
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di banyak mimbar, istilah Ahl al-Kitab terdengar kerap. Ia merujuk pada kaum Yahudi dan Nasrani yang menerima kitab suci sebelum datangnya Islam. Namun, ketika Al-Qur’an memuat sederet kritik tajam kepada mereka, sebuah pertanyaan mengemuka: apakah semua Ahl al-Kitab memiliki sifat yang sama? Ataukah teks-teks keras itu hanya tertuju pada sebagian, bukan keseluruhan?

Pertanyaan ini bukan barang baru. Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an (Mizan) menyinggungnya dengan cara yang menarik: jangan buru-buru menggeneralisasi. “Banyak di antara kamu (hai Ahl al-Kitab),” begitu penggalan QS Al-Maidah [5]:59 yang menurut Quraish penting digarisbawahi. Kata “banyak” di situ bukan berarti “semua”.

Perhatikan QS Al-Baqarah [2]:109: “Banyak dari Ahl al-Kitab yang menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari dalam hati mereka setelah nyata bagi mereka kebenaran…

Di sini, kata yang dipakai adalah katsir (banyak), bukan kebanyakan seperti terjemahan Departemen Agama. Nuansa ini krusial: Al-Qur’an tidak menyapu semua Ahl al-Kitab dalam satu vonis. QS Ali ‘Imran [3]:69 bahkan menyebut segolongan yang ingin menyesatkan umat Islam, bukan seluruhnya.

Baca juga: Ketika Kitab Menjadi Batas: Menakar Kekufuran Ahli Kitab dalam Lensa Al-Qur’an

Tidak Sama: Ada yang Lurus, Ada yang Menyimpang

Al-Qur’an mengafirmasi perbedaan internal mereka: “Mereka itu tidak sama. Di antara Ahl al-Kitab ada golongan yang berlaku lurus. Mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud.” (QS Ali ‘Imran [3]:113).

Ayat ini jelas mengoreksi pandangan hitam-putih yang kerap mengemuka dalam retorika sebagian kelompok. Bahkan dalam aspek moral ekonomi, Al-Qur’an menyajikan spektrum:

“Di antara Ahl al-Kitab ada yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu. Dan di antara mereka ada juga yang jika kamu percayakan kepadanya satu dinar (saja), tidak dikembalikannya kepadamu…” (QS Ali ‘Imran [3]:75).

Artinya, keberagaman sikap dan moralitas mereka diakui secara eksplisit oleh teks suci.

Al-Qur’an juga membongkar mitos kesatuan mereka: “Permusuhan antar sesama mereka sangatlah hebat. Kamu menduga mereka bersatu, padahal hati mereka berpecah belah.” (QS Al-Hasyr [59]:14).

Jika demikian, bagaimana seharusnya sikap Muslim terhadap Ahl al-Kitab? Apakah keras seperti sebagian kalangan ekstrem menafsirkan, atau lunak sebagaimana spirit dialog yang kerap digaungkan?

Baca juga: Ini Mengapa Islam Menghalalkan Daging Sembelihan Ahli Kitab

Dalam QS Al-‘Ankabut [29]:46, Al-Qur’an mengajarkan etika berdebat: “Janganlah kamu berdebat dengan Ahl al-Kitab, melainkan dengan cara yang sebaik-baiknya, kecuali terhadap orang-orang yang zalim di antara mereka.”

Yang dimaksud zalim, jelas Quraish, adalah mereka yang setelah dijelaskan dengan baik, tetap membangkang dan memusuhi. Selebihnya, ruang persahabatan terbuka. Ayat QS Ali ‘Imran [3]:64 bahkan mengajak pada kalimat sawa’ (kata sepakat): “Hai Ahl al-Kitab, marilah kepada satu kata sepakat antara kami dan kamu, yakni bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah…

Jika kesepakatan tak tercapai, minimal mereka diminta mengakui eksistensi umat Islam: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.”

Ada yang Beriman, Ada yang Menolak

Al-Qur’an pun mengakui adanya Ahl al-Kitab yang beriman dengan tulus: “Dan sesungguhnya di antara Ahl al-Kitab ada orang yang beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan apa yang diturunkan kepada mereka… Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka.” (QS Ali ‘Imran [3]:199).

Sejarah merekam figur Abdullah bin Salam, seorang Yahudi Madinah, yang masuk Islam setelah mengenali ciri Nabi Muhammad. Dalam tafsir Al-Qurthubi, ketika turun QS Al-Baqarah [2]:146, Umar bertanya kepadanya: *“Apakah engkau mengenal Muhammad sebagaimana engkau mengenal anakmu?”* Abdullah menjawab: *“Ya, bahkan lebih…”*

Baca juga: Benarkan Menjelang Kiamat Seluruh Ahli Kitab Beriman Kepada Nabi Isa?

Dari semua ini, satu benang merah mengemuka: Ahl al-Kitab bukan monolit. Ada yang memusuhi, ada yang bersahabat. Ada yang zalim, ada yang lurus. Ada yang memeluk Islam dengan tulus. Maka, sikap umat Islam pun harus proporsional: bersahabat dengan yang baik, waspada terhadap yang memusuhi, dan adil kepada semua.

Seperti diingatkan Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: *“Dalam sekian banyak ayat yang menggunakan istilah Ahl al-Kitab, terasa adanya uluran tangan dan sikap bersahabat, walaupun di sana-sini Al-Qur’an mengakui adanya perbedaan dalam keyakinan.”

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 01 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)