LANGIT7.ID-Musim haji tahun kesembilan Hijriah di Lembah Mina mencatatkan sebuah dinamika politik keagamaan yang sangat tinggi. Ketika Ali bin Abi Thalib membacakan ayat-ayat awal Surah At-Taubah atas perintah Nabi Muhammad, gaung maklumat itu tidak hanya menyapu sisa-sisa paganisme di tanah Arab, tetapi juga membawa pesan teologis yang sangat tegas kepada komunitas Ahli Kitab.
Di titik inilah, sejarah mencatat adanya sebuah fase baru dalam hubungan geopolitik antara Madinah dan kaum Nasrani. Sebuah fase yang oleh sebagian pengamat barat dianggap sebagai titik balik yang ekstrem.
Dalam buku monumental Sejarah Hidup Muhammad, karya sejarawan terkemuka Muhammad Husain Haekal yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, dinamika ini dibedah secara mendalam.
Ayat-ayat Surah At-Taubah yang dibacakan oleh Ali secara gamblang mengarahkan tujuannya kepada pihak Nasrani, sebuah ketegasan yang sebelumnya telah ditujukan kepada pihak Yahudi di Madinah. Dalam konteks wahyu tersebut, orang-orang Nasrani digolongkan ke dalam kelompok mereka yang tidak percaya kepada Allah dan kepada Hari Kemudian, karena tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan tidak beragama dengan agama yang benar.
Ketegasan politik dan teologis pada akhir masa kenabian ini memicu polemik di kalangan sarjana barat. Para orientalis mempertanyakan konsistensi sikap Islam. Mereka melihat adanya kontradiksi besar karena maklumat keras ini dikeluarkan justru setelah pihak Nasrani memberikan jasa sejarah yang sangat besar bagi umat Islam. Sejarah mencatat, kaum Nasrani di bawah naungan Raja Najasyi yang adil di Abisinia atau Ethiopia telah memberikan perlindungan menyeluruh kepada para sahabat Nabi yang hijrah mencari keselamatan dari siksaan kaum musyrik Mekah. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga telah menulis surat diplomatik kepada penduduk Najran dan kaum Nasrani lainnya, yang isinya memberikan jaminan keamanan atas agama, jiwa, properti, serta segala upacara keagamaan yang mereka lakukan.
Berdasarkan fakta-fakta historis pra-At-Taubah tersebut, golongan orientalis kemudian berpendapat bahwa terdapat sikap kontradiksi dalam siasat Muhammad. Menurut analisis mereka, perubahan sikap politik inilah yang di kemudian hari memicu permusuhan yang berlarut-larut antara pihak Muslimin dengan Nasrani. Mereka menyimpulkan bahwa ketegasan dalam Surah At-Taubah telah membuat upaya saling pendekatan antara pengikut-pengikut Yesus dengan pengikut-pengikut Muhammad menjadi tidak begitu mudah, bahkan ada yang menilainya sebagai sesuatu yang mustahil.
Konsistensi Ketauhidan Sejak Fajar RisalahMuhammad Husain Haekal dalam analisis interpretatifnya secara tegas menolak kesimpulan para orientalis tersebut. Menurut Haekal, jika seseorang hanya mengambil argumen kaum orientalis secara mendatar tanpa melakukan pendalaman riwayat, pandangan tersebut adakalanya memang dapat memikat orang dan tampak ada benarnya, bahkan bisa membuat orang mempercayainya begitu saja. Namun, apabila kita mau mengikuti jalur sejarah dengan saksama dan menelitinya sehubungan dengan masalah-masalah sosial serta sebab-sebab turunnya ayat-ayat tersebut, tabir kesalahpahaman ini akan terbuka.
Seseorang tidak perlu sangsi sedikit pun tentang adanya kesatuan sikap Islam dan sikap Nabi Muhammad terhadap agama-agama Kitab sejak dari permulaan risalah sampai akhir hayat beliau. Esensi pandangan Islam terhadap doktrin Kristologi tidak pernah berubah satu sentimeter pun. Quran sejak awal menegaskan bahwa Almasih anak Maryam adalah hamba Allah yang diberi-Nya kitab dan dijadikan-Nya seorang nabi yang beroleh berkah di mana pun ia berada, serta diperintahkan-Nya untuk mendirikan salat dan menunaikan zakat selama hidupnya.
Prinsip dasar Islam dari langkah pertama hingga akhir zaman tetap sama: Allah cuma Satu. Allah itu Abadi dan Mutlak, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada suatu apa pun yang menyerupai-Nya. Ketika kaum Nasrani mulai menyimpang dari konsep monoteisme murni ini dan menyatukan aspek ketuhanan pada diri nabi mereka, di situlah Islam hadir memberikan koreksi teologis, bukan karena motif permusuhan politik yang personal.
Jejak Diplomasi dan Debat Teologis NajranJauh sebelum Surah At-Taubah diturunkan, para utusan Nasrani dari wilayah Najran sebenarnya pernah mendatangi Nabi Muhammad di Madinah. Mereka datang untuk berdialog sekaligus berdebat mengenai hakikat ketuhanan dan kedudukan kenabian Isa anak Maryam. Dalam perdebatan tersebut, para pendeta Najran mengajukan sebuah pertanyaan teologis yang mendasar kepada Nabi:
"Ibu Isa itu Maryam; lalu siapa bapanya?"
Merespons pertanyaan dan tantangan debat tersebut, Allah menurunkan wahyu yang tercantum dalam Al-Quran Surah Ali Imran ayat 59 sampai 61:
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُن مِّنَ الْمُمْتَرِينَ فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِن بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنفُسَنَا وَأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَArtinya:
Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah, adalah seperti Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, "Jadilah", maka jadilah dia. Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu yang meyakinkan kamu, maka katakanlah, "Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta."
Melalui Surah Ali Imran ini, Quran menggunakan gaya bahasa yang luar biasa untuk menegur Ahli Kitab. Islam mempertanyakan mengapa mereka merintangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah dan mengapa mereka tega mengingkari ayat-ayat yang datang dari Tuhan, padahal esensi ayat-ayat tersebut adalah ajaran murni yang juga dibawa oleh Isa, Musa, dan Ibrahim sebelum kata-kata dalam kitab suci tersebut diubah dan ditafsirkan menurut kehendak hawa nafsu duniawi.
Koreksi Total Atas Doktrin TrinitasKritik terhadap penyimpangan akidah Ahli Kitab ini juga ditemukan secara konsisten dalam surah-surah lain yang turun pada periode yang berbeda. Pakar tafsir terkemuka Quraish Shihab dalam karyanya Tafsir Al-Mishbah (2002) memperkuat argumen Haekal dengan menyatakan bahwa Islam memisahkan antara penghormatan terhadap hak sipil Ahli Kitab dengan kompromi terhadap akidah mereka. Konsistensi kritik ini terlihat jelas dalam Al-Quran Surah Al-Ma'idah ayat 73 sampai 75:
لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌArtinya:
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, "Bahwa Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada tuhan selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.
Dalam ayat selanjutnya di surah yang sama, ditegaskan bahwa Almasih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sebelumnya juga telah didahului oleh beberapa rasul, dan ibunya adalah seorang wanita yang tulus dan jujur, di mana keduanya pun masih memakan makanan seperti manusia biasa. Quran juga merekam dialog teologis masa depan dalam Surah Al-Ma'idah ayat 116, ketika Allah bertanya kepada Isa apakah ia pernah meminta manusia untuk menyembah dirinya dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah, yang kemudian dijawab oleh Isa dengan pengakuan kesucian Allah dan bahwa ia tidak akan pernah mengatakan sesuatu yang bukan menjadi haknya.
Ayat-ayat dalam Surah Al-Ma'idah inilah yang sering kali dipersoalkan oleh para penulis sejarah Kristen dan dijadikan alasan untuk menuduh adanya perkembangan sikap Muhammad yang pragmatis dan berubah-ubah sesuai dengan kepentingan politiknya. Mereka sering kali membenturkannya dengan ayat inklusif seperti Surah Al-Ma'idah ayat 82, yang menyatakan bahwa orang yang paling akrab bersahabat dengan orang beriman adalah mereka yang berkata, "Kami ini orang Nasrani," karena di antara mereka terdapat kaum pendeta dan rahib yang tidak menyombongkan diri.
Sejarawan teologi Montgomery Watt dalam bukunya Muhammad at Medina (1956) memberikan sudut pandang objektif yang mendukung argumen Haekal. Watt menyatakan bahwa ketegasan politik dalam Surah At-Taubah bukanlah sebuah kebencian buta, melainkan sebuah respons tegas terhadap konstelasi politik regional di mana kekuatan kekaisaran Kristen Bizantium pada masa itu mulai menggalang kekuatan di perbatasan utara untuk menghancurkan negara Madinah yang baru tumbuh. Oleh karena itu, jaminan keagamaan yang pernah diberikan Nabi kepada kaum Nasrani Najran tetap berlaku secara hukum sipil, namun secara kedaulatan politik, mereka harus tunduk pada sistem persemakmuran Madinah dengan membayar jizyah, dan secara akidah, Islam tidak akan pernah menoleransi doktrin syirik. Landasan hukum yang kokoh dan konsisten inilah yang memastikan Jazirah Arab memasuki era baru yang stabil menjelang pelaksanaan Haji Perpisahan.
(mif)