Imaduddin mengajak umat kembali ke tauhid yang jernih: bukan sekadar percaya Tuhan, tapi memurnikan ibadah dari mitos, kultus pemimpin, dan sisa-sisa paganisme yang terus berganti bentuk dari zaman ke zaman.
Di tengah meningkatnya banjir besar di banyak kota, ajaran Islam kembali dibaca sebagai lensa etis. Tafsir ulama klasik dan kajian ekolog modern sama-sama menunjuk perilaku manusia sebagai biang kerusakan bumi.
Di tengah krisis iklim dan kerusakan ekologis, ayat yang menyeru manusia agar tidak merusak bumi kembali relevan. Tafsir para ulama klasik bersinggungan dengan temuan ilmiah abad ini tentang perilaku manusia sebagai biang kerusakan alam.
Di tengah krisis iklim dan kerusakan ekologi, Islam menawarkan etika lingkungan yang mapan sejak 14 abad lalu. Namun jurang antara ajaran dan realitas makin melebar. Mampukah umat kembali pada amanah khalifah bumi?
Sejak lahir dari tradisi zuhud generasi awal, tasawuf tumbuh menjadi disiplin rohani yang dirayakan dan dicurigai sekaligus. Qardhawi mengajak melihatnya lewat dua sisi: cahaya dan bayangannya.
Tasawuf di dunia Islam selalu bergerak antara penyucian batin dan bahaya penyimpangan. Qardhawi mengajak kembali pada keseimbangan: ruh, akal, dan jasad agar sufisme tetap dalam pagar wahyu.
Kontroversi kutipan Nahjul Balaghah menggugah kembali perdebatan klasik tentang perempuan, sanad, dan tafsir. Wacana fikih bersilang dengan temuan akademik tentang gender dalam tradisi Islam.
Perdebatan soal salon kecantikan, estetika tubuh, dan batas fikih kembali mencuat. Di antara hadis, budaya populer, dan industri kecantikan modern, umat mencari cara merawat diri tanpa menabrak tuntunan agama.
Perdebatan tentang aurat perempuan kembali mencuat. Di tengah perubahan sosial, pandangan fikih klasik tentang rambut wanita diuji ulang. Namun tradisi keilmuan memiliki akar panjang yang sulit dipatahkan.
Di kota-kota besar hingga kampung terpencil, perempuan Muslim Indonesia bergerak di ruang sosial baru. Aktivitas mereka menyeberangi batas tradisi, agama, dan modernitas, sambil mempertanyakan ulang peran yang diwariskan.
Di ruang-ruang kelas, komunitas digital, hingga forum tafsir, perempuan Indonesia menghidupkan kembali kisah-kisah perempuan Qurani sambil menegosiasikan identitas modern yang bergerak di antara tradisi, teknologi, dan kesetaraan.
Di balik narasi besar sejarah Islam, perempuan pada masa Nabi bukan hanya pendamping, tetapi penggerak: pengasuh, pelindung, pedagang, mediator politik, hingga perawi ilmu yang membentuk fondasi peradaban.
Pertanyaan tentang asal-usul Nabi Muhammad kembali mengemuka. Qardhawi menimbangnya dengan pisau hadis dan akal sehat: kemuliaan Nabi tak lahir dari mitos penciptaan, melainkan dari akhlak dan risalahnya.