LANGIT7.ID- Bayangkan seorang pemimpin besar, yang memikul beban daulah, mengatur strategi perang, dan menghabiskan malamnya hingga kaki bengkak karena shalat lail, namun masih sempat menyisihkan waktu untuk mengelilingi rumah istri-istrinya hanya untuk bertanya: bagaimana keadaanmu hari ini? Itulah fragmen kehidupan Rasulullah SAW yang coba dihidupkan kembali oleh Syaikh Yusuf Qardhawi dalam menjawab sebuah kegelisahan rumah tangga modern.
Problem yang muncul sering kali seragam: suami yang menganggap nafkah cukup berhenti pada struk belanja dan pakaian bermerek. Padahal, wanita bukan sekadar alat untuk melahirkan anak atau pemuas nafsu. Qardhawi mengingatkan melalui lirik pujangga kuno bahwa manusia adalah jiwa, bukan sekadar badan. Jika jiwa sang istri kering dari perkataan manis dan wajah yang cerah, maka esensi pernikahan sebagai ayat Allah di alam semesta telah runtuh.
Dalam tinjauan sosiologis-agama, Yusuf Qardhawi mengutip Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Zad al-Ma'ad. Ibnu Qayyim memotret sisi humanis Nabi yang sangat memperhatikan kejiwaan istrinya. Rasulullah tidak segan-segan mengizinkan Aisyah menonton pertunjukan orang-orang Habsyi di masjid, bahkan membiarkan Aisyah menyandarkan kepala di bahunya. Ini bukan sekadar tindakan romantis, melainkan pemenuhan hak psikologis yang mutlak dalam Islam.
Qardhawi juga menyinggung tafsir Surat An-Nisa ayat 36 mengenai teman sejawat yang oleh sebagian ulama ditafsirkan sebagai istri. Jika istri adalah teman sejawat, maka hubungan yang terbangun haruslah berbasis persahabatan yang setara, penuh canda, dan saling menghargai, bukan hubungan atasan-bawahan yang kaku.
Pesan keras Qardhawi ditujukan pada tipikal suami yang sombong dan kasar yang di dalam hadits disebut al-ja'zhari al-jawwazh. Sosok seperti ini mungkin nampak saleh di luar, namun ia adalah pribadi yang dibenci Allah karena kekasaran hatinya terhadap orang yang paling berhak mendapatkan kelembutannya. Sebaliknya, teladan dari Umar bin Khattab memberikan perspektif unik: seorang laki-laki harus bisa memposisikan diri seperti anak kecil yang jenaka di hadapan istrinya, namun tetap menjaga kewibawaan kepemimpinannya.
Melalui naskah ini, kita diajak melihat bahwa hak batin istri bukanlah sekadar urusan biologis di atas ranjang. Ia mencakup ciuman mesra, sentuhan lembut, hingga kesabaran suami dalam menghadapi emosi istri yang sedang gundah. Qardhawi menegaskan bahwa keteladanan tertinggi Rasulullah justru terletak pada kemampuannya menyeimbangkan aspek Rabbani (ketuhanan) dengan aspek insani (kemanusiaan).
Kehidupan berkeluarga yang harmonis adalah yang mampu menerjemahkan teks suci menjadi perilaku nyata di meja makan dan ruang tamu. Tidak ada gunanya shalat lail hingga menangis jika esok paginya seorang suami gagal memberikan senyuman manis bagi istrinya. Sebab, sebaik-baik manusia adalah yang paling baik terhadap keluarganya.
