LANGIT7.ID-Jika manusia telah mengetahui hakikat dunia yang fana ini, maka selayaknya dia selalu ingat dan waspada, jangan sampai tergoda kenikmatan dunia yang sementara, kemudian melalaikan akhirat yang sangat berharga. Sepantasnya manusia berlomba melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan untuk meraih kebaikan akhirat.
Oleh karena itu Allah Azza wa Jalla berfirman:
سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِArtinya:
Berlomba-lombalah kamu kepada mendapatkan ampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Surah al-Hadid ayat 21).
Juga sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَArtinya:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Surah Ali Imran ayat 133).
Dalam pandangan para ulama, konsep bersegera dan berlomba dalam kebaikan memiliki dimensi urgensi yang sangat tinggi. Buya Hamka dalam mahakaryanya
Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa kehidupan dunia ibarat sebuah perlombaan, di mana barang siapa yang terlambat mengambil langkah, akan tertinggal oleh rombongan yang menuju kebaikan. Menurut Hamka, perlombaan ini bukanlah perlombaan fisik yang menghancurkan satu sama lain, melainkan perlombaan batin dan amal yang justru mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan secara kolektif di hadapan Sang Pencipta.
Kita mendapat teladan luar biasa dari
Salafus Shalih di dalam hal berlomba di dalam kebaikan. Sangat banyak contoh yang dapat ditiru dari perbuatan mereka. Seperti disebutkan di dalam riwayat berikut ini:
Bahwa orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin berkata: Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bertanya: Kenapa begitu? Mereka menjawab: Mereka itu melakukan shalat sebagaimana kami melakukan shalat; mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa; mereka bersedekah, sedangkan kami tidak bersedekah; mereka memerdekakan budak, sedangkan kami tidak memerdekakan budak.
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Maukah aku tunjukkan kamu sesuatu, jika kamu mengerjakannya kamu mendahului orang-orang selainmu dan tidak ada seorang pun yang lebih utama dari kamu, kecuali orang yang melakukan semisal yang kamu lakukan? Yaitu kamu bertasbih, bertakbir, bertahmid 33 kali setelah selesai setiap shalat.
Orang-orang miskin itu menghadap lagi kemudian mengatakan: Saudara-saudara kami, orang-orang kaya, mendengar apa yang telah kami lakukan, lalu mereka melakukan semisalnya! Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Itu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. (HR al-Bukhari nomor 843 dan Muslim nomor 595).
Peristiwa ini menunjukkan betapa para sahabat Nabi memiliki semangat kompetisi yang positif dan produktif. Mereka tidak merasa iri terhadap harta dunia, melainkan merasa tertinggal dalam perolehan amal ibadah dan kedekatan dengan Allah. Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Agama membahas bagaimana kecemburuan sosial dapat diarahkan menjadi motivasi spiritual yang positif, sebagaimana dicontohkan oleh kaum Muhajirin tersebut. Ketika seseorang menjadikan akhirat sebagai orientasi, motivasi untuk berbuat baik tidak lagi bersifat kompetitif yang destruktif, melainkan konstruktif dan membawa kedamaian bagi sekitarnya.
Sebagian ulama juga memberikan contoh-contoh berlomba di dalam kebaikan dalam kehidupan sehari-hari yang sangat praktis. Diriwayatkan bahwa Anas Radhiyallahu anhu berkata: Saksikan takbiratul ihram bersama imam di dalam shalat berjamaah. Ini adalah sebuah anjuran untuk menjaga kedisiplinan dan keutamaan waktu dalam ibadah. Selain itu, diriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu anhu berkata: Hendaklah engkau menjadi orang yang pertama masuk masjid, dan orang yang terakhir keluar. (Tafsir Bahrul Muhith jilid 10 halaman 228).
Keteladanan ini dikupas lebih dalam oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya
Jami' al-Ulum wa al-Hikam. Beliau menguraikan bahwa bersegera dalam kebaikan menuntut keteguhan hati dan manajemen waktu yang sangat baik. Menjadi yang pertama dalam kebaikan bukanlah sekadar perlombaan formalitas, melainkan cerminan dari kecintaan yang mendalam kepada Sang Pencipta.
Di era modern saat ini, makna berlomba dalam kebaikan ini menemukan relevansinya yang baru. Dalam berbagai kajian sosiologi agama, seperti yang ditulis oleh Robert Bellah dalam
Habits of the Heart, institusi dan ritual keagamaan berfungsi sebagai perekat sosial yang memperkuat solidaritas. Ketika umat Islam saling berlomba dalam kebaikan, misalnya dalam bentuk filantropi, pendidikan, atau pelayanan sosial, dampaknya tidak hanya dirasakan sebagai pahala individu, melainkan juga mengangkat kesejahteraan masyarakat luas, mengentaskan kemiskinan, serta membangun peradaban yang berkeadilan.
Pada akhirnya, konsep fastabiqul khairat adalah antitesis dari budaya hedonisme dan apatisme sosial yang kerap melanda masyarakat urban. Ketika manusia sibuk mengumpulkan materi yang fana, ajaran ini mengingatkan bahwa ada perlombaan yang jauh lebih abadi dan bermakna, yaitu perlombaan menuju ampunan dan surga Allah.
(mif)