LANGIT7.ID-Sejarah sering kali menjadi panggung bagi drama perebutan tafsir, tak terkecuali dalam riwayat Isa Al-Masih. Di balik kemegahan doktrin teologis yang berkembang berabad-abad kemudian, tersimpan sebuah narasi dasar yang jauh lebih sederhana namun tajam: misi tauhid. Namun, bagi kaum Bani Israil kala itu, ajaran Isa adalah pil pahit yang sulit ditelan, hingga berujung pada penyimpangan radikal dari jalur yang semula lurus.
Dalam buku
Syirik pada Zaman Dahulu dan Sekarang karya Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria, dipaparkan dengan gamblang bahwa Isa putra Maryam tidak membawa agama baru yang asing. Misi utamanya adalah restorasi tauhid, melanjutkan estafet para nabi sebelumnya. Melalui naskah yang diterbitkan oleh Maktab Dakwah dan Bimbingan Jaliyat Rabwah tersebut, terungkap bahwa Bani Israil justru mengubah ajaran sang nabi dan menyelisihi dakwahnya demi kepentingan-kepentingan yang jauh dari nilai samawi.
Al-Quran dalam Surah Ali Imran ayat 48-51 merekam dengan detail bagaimana Isa diutus membawa mukjizat yang mencengangkan—mulai dari menghidupkan burung dari tanah hingga menyembuhkan kebutaan. Namun, seluruh atraksi mukjizat itu memiliki satu muara instruksi:
Bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Kalimat ini adalah proklamasi penghambaan yang tegas, menempatkan Isa sebagai pelayan tatanan ilahiyah, bukan objek sembahan.
Penyimpangan yang dilakukan kaumnya—yang kemudian berkembang menjadi klaim keilahian—mendapat bantahan keras dalam Surah Al-Maidah ayat 72. Teks tersebut menegaskan kekafiran bagi mereka yang menyebut Al-Masih sebagai Allah. Ironisnya, Al-Masih sendiri secara eksplisit menyeru, "
Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Ancaman bagi mereka yang menyimpang pun tak main-main: pengharaman surga dan tempat kembali di neraka.
Interpretasi atas sejarah ini memuncak pada sebuah ilustrasi pengadilan di hari kiamat yang digambarkan dalam Surah Al-Maidah ayat 116-118. Di sana, Allah bertanya kepada Isa apakah benar ia menyuruh manusia menjadikan dirinya dan ibunya sebagai tuhan selain Allah. Jawaban Isa adalah sebuah pembungkaman bagi para pengikutnya yang menyimpang: "
Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku." Isa berlepas diri dari segala penisbatan buruk dan menyatakan bahwa ia hanya menjadi saksi selama ia berada di tengah mereka.
Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria menekankan bahwa Isa hadir untuk membimbing mereka yang tersesat, memperbarui agama yang telah keropos, dan memberangus pemikiran sesat. Namun, tanggapan Bani Israil justru berupa permusuhan, pendustaan, hingga komplotan pembunuhan. Meskipun mereka mengklaim telah menyalibnya, narasi Islam menegaskan bahwa Allah mensucikan dan mengangkatnya ke sisi-Nya, menggagalkan niatan jahat tersebut.
Selama tiga ratus tahun awal, pengikut setia Isa sempat membawa agama ini mengungguli kebatilan. Namun, seiring berjalannya waktu, orisinalitas ajaran yang mengajak mentauhidkan Allah mulai tergerus oleh sinkretisme dan penafsiran yang menyimpang dari hakekat awal kerasulan Isa. Ia adalah hamba Allah, kalimat-Nya, dan ruh dari-Nya—sebuah posisi yang luhur namun tetap berada dalam garis vertikal penghambaan kepada Sang Pencipta yang Esa.
(mif)