LANGIT7.ID, Jakarta,- - Waktu adalah
aset paling berharga yang tidak akan pernah bisa diputar kembali. Di dalam
Al-Qur'an, Allah SWT bahkan sampai bersumpah atas nama waktu melalui
Surat Al-Ashr.
Maknanya, ketika Allah bersumpah menggunakan makhluk-Nya (waktu), itu adalah isyarat tegas agar manusia memberikan perhatian penuh terhadap pentingnya waktu, masa, zaman, dan setiap kesempatan yang diberikan.
Namun, sadarkah betapa singkatnya waktu yang benar-benar digunakan untuk
beribadah dalam hidup ini? Jika dikalkulasikan secara matematis, rata-rata waktu tidur manusia adalah 8 jam sehari, yang berarti sepertiga dari umur habis di tempat tidur.
Baca juga: Ahmad Dahlan Pernah Dijuluki Kiai Wal Ashri karena Kajiannya
Sebab 1/3 dari 24 jam adalah 8 jam. Jika seseorang hidup hingga usia 60 tahun, maka 20 tahun di antaranya habis hanya untuk tidur, belum termasuk waktu tidur di perjalanan, tempat kerja, atau tempat lainnya.
Bagaimana dengan ibadah? Jika satu kali shalat fardhu (wajib) membutuhkan waktu 5 menit, maka dalam sehari rata-rata hanya menghabiskan 25 menit untuk menghadap Allah. Jika dikalikan sebulan maka hanya sekitar 12,5 jam. Maka dalam setahun, total waktu shalat 6 hari.
Jika umur manusia rata-rata 60 tahun, kemudian diakumulasikan selama 50 tahun mengerjakan kewajiban shalat (dikurangi 10 tahun menuju Akil baligh). Waktu yang benar-benar digunakan untuk bersujud kepada-Nya tidak sampai satu tahun penuh, yaitu hanya sekitar 300 hari saja.
Melihat betapa tipisnya tabungan amal manusia, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras agar kita bergegas beramal sebelum datangnya gelombang fitnah yang mematikan keimanan:
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
"Bersegeralah kamu sekalian untuk melakukan amal-amal saleh sebelum datangnya fitnah yang seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan di sore hari menjadi kafir, atau di sore hari beriman dan di pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan sedikit harta benda dunia." (HR Muslim).
Baca juga: Pesan Rasulullah, Manfaatkan Lima Perkara Sebelum Hal Ini Terjadi
Bagi seorang muslim, salah satu tanda kebaikan Islamnya adalah kemampuannya untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat (min husni islamil mar'i tarkuhu ma la ya'nihi). Pemahaman mendalam inilah yang membuat para ulama terdahulu sangat protektif terhadap setiap detik helaan napas mereka.
Ulama besar Fudhail bin Iyadh pernah berkata, "Aku mengenal orang-orang yang sangat menjaga waktunya, sampai-sampai mereka menghitung setiap perkataan yang keluar dari lisan mereka dari minggu ke minggu."
Ada pula kisah Dawud al-Tha'i, yang bahkan saat sibuk membuat adonan roti, lisannya tidak pernah kering dari berzikir. Beliau berkata, "Antara proses mengaduk tepung dan memakan roti, aku telah berhasil membaca 50 ayat Al-Qur'an." Mereka sadar bahwa waktu makan dan membuat adonan tidak boleh berlalu sia-sia tanpa nilai ibadah.
Mati Tidak Menunggu Taat
Satu hal yang kerap melenakan manusia adalah rasa aman yang semu bahwa kematian masih jauh. Padahal, mati tidak pernah menetapkan syarat; mati tidak menunggu seseorang menjadi tua, mati tidak menunggu tubuh jatuh sakit, dan mati tidak akan menunggu seseorang bertaubat terlebih dahulu.
Hari ini kita menyaksikan banyak orang yang dipanggil di usia belia, mengembuskan napas terakhir dalam kondisi sehat bugar, dan tidak sedikit pula yang dijemput ajal justru saat sedang asyik dalam kemaksiatan.
Baca juga: Tafsir Surat Al Ashr: Berharganya Nikmat Waktu Bagi Manusia
Selagi jantung masih berdetak dan status 'kesempatan' itu masih kita genggam, mari manfaatkan sisa waktu yang sempit ini untuk memperbanyak amal saleh. Jangan sampai menjadi golongan orang yang merugi, yang baru tersadar berharga sebatang lilin waktu ketika ajal sudah menjemput.
(est)