Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 06 Mei 2026
home masjid detail berita

Menyelaraskan Sains dan Wahyu dalam Bingkai Al-Quran

miftah yusufpati Rabu, 06 Mei 2026 - 05:15 WIB
Menyelaraskan Sains dan Wahyu dalam Bingkai Al-Quran
Al-Quran hadir bukan untuk membatasi kreativitas ilmu pengetahuan, melainkan untuk memberikan bingkai etika agar ilmu tidak menjadi bumerang bagi peradaban manusia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di tengah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, kitab suci sering kali dipinggirkan dari ruang-ruang laboratorium dan perdebatan akademis. Seolah ada jurang pemisah antara wahyu dan sains. Padahal, jika ditelaah lebih dalam melalui kacamata tafsir dan filsafat manusia, Al-Quran justru memuat fondasi yang sangat kuat mengenai ilmu dan hubungannya dengan eksistensi kehidupan manusia di alam semesta ini.

Dalam bukunya yang berjudul Membumikan Al-Quran, Dr. M. Quraish Shihab menguraikan bahwa kata ilm disebutkan dalam berbagai bentuk dan makna sebanyak 854 kali di dalam Al-Quran. Ini menunjukkan betapa sentralnya posisi pengetahuan di dalam ajaran Islam. Pembicaraan mengenai ilmu ini membawa kita pada klasifikasi disiplin yang lebih terstruktur dan mendalam. Terutama setelah Seminar Internasional Pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977, pemikir Islam membagi ilmu menjadi dua kategori utama. Pertama adalah ilmu abadi yang bersumber pada wahyu Al-Quran dan hadis. Kedua adalah ilmu yang dicari, yang mencakup sains kealaman dan terapannya, yang dapat terus berkembang secara kualitatif selama tidak bertentangan dengan syariat sebagai sumber nilai.

Dunia ilmu pengetahuan modern saat ini cenderung membatasi diri pada wilayah empiris dan alam materi. Para ilmuwan mengamati dan merumuskan hukum alam hanya berdasarkan apa yang dapat dijangkau oleh panca indra dan instrumen laboratorium. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara pandangan Al-Quran dan sains materialistis. Al-Quran tidak hanya mengakui alam materi, tetapi juga mengakui realitas metafisik yang tidak dapat dijangkau oleh panca indra. Terkait hal ini, Al-Quran menegaskan bahwa realitas tidak terbatas pada apa yang terlihat oleh mata manusia saja. Hal ini termaktub dalam Surah Al-Haqqah ayat 38 hingga 39:

فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ وَمَا لَا تُبْصِرُونَ
Fala uqsimu bima tubsiruun wa ma la tubsiruun.

Artinya: Maka Aku bersumpah dengan apa-apa yang dapat kamu lihat dan apa-apa yang tidak dapat kamu lihat.

Pandangan tersebut mempertegas bahwa keterbatasan ilmu manusia hanya mampu menangkap fenomena, sementara hakikat yang lebih dalam, atau nomena, sering kali berada di luar jangkauan instrumen empiris semata. Merujuk pada pemikiran Seyyed Hossein Nasr dalam karyanya Science and Civilization in Islam, sains modern yang terlepas dari akar spiritual sering kali kehilangan arah tujuan. Nasr berpendapat bahwa sains harus dikaitkan dengan makna transenden agar tidak merusak tatanan ekologis dan kemanusiaan.

Ketika Al-Quran memerintahkan manusia untuk membaca, wahyu pertama tersebut diawali dengan perintah yang dikaitkan dengan bismi rabbika, yakni demi karena Tuhan Pemeliharamu. Hal ini memberikan makna filosofis yang mendalam bahwa setiap pencarian ilmu harus ditujukan demi kepentingan kemanusiaan dan pengabdian kepada Tuhan. Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar, pernah menegaskan bahwa ilmu yang dilandasi nilai ketuhanan akan membawa kebahagiaan dan cahaya ke seluruh penjuru, bukan malah mendatangkan kehancuran atau eksploitasi yang tidak terkendali oleh manusia.

Perkembangan ilmu dan teknologi tanpa landasan moral terbukti telah menciptakan krisis multidimensi. Albert Einstein pernah menyatakan bahwa sains tanpa agama adalah buta, sebuah ungkapan yang sangat sejalan dengan peringatan filosof Muhammad Iqbal dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Iqbal menekankan pentingnya penafsiran spiritual atas alam raya untuk mengimbangi kemajuan material yang sangat pesat. Iqbal berpendapat bahwa kemanusiaan saat ini sangat membutuhkan asas-asas universal yang menjelaskan evolusi masyarakat atas dasar spiritual.

Dalam konteks sosial dan teknologi, Al-Quran mendukung penuh pengembangan ilmu dan teknologi untuk mempermudah kehidupan manusia. Hal ini ditegaskan dalam firman Tuhan bahwa Allah menghendaki kemudahan bagi manusia dan tidak menghendaki kesulitan. Namun, kemudahan ini harus dibarengi dengan etika dan pertanggungjawaban moral yang tinggi. Tafakkur yang menghasilkan sains dan taskhir yang menghasilkan teknologi harus sejalan dengan pembersihan jiwa.

Objek ilmu menurut Al-Quran meliputi batas-batas alam materi dan nonmateri. Oleh karena itu, di samping menganjurkan untuk melakukan observasi dan eksperimen sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Ankabut ayat 20, Al-Quran juga menganjurkan untuk menggunakan akal dan intuisi yang tepat.

Pada akhirnya, Al-Quran hadir bukan untuk membatasi kreativitas ilmu pengetahuan, melainkan untuk memberikan bingkai etika agar ilmu tidak menjadi bumerang bagi peradaban manusia. Di tengah modernitas yang serba cepat, integrasi antara ilmu, teknologi, dan nilai spiritual menjadi syarat mutlak untuk membangun masyarakat yang adil, makmur, dan beradab.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 06 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)