LANGIT7.ID-Di tengah memanasnya suhu politik di Makkah empat belas abad silam, sebuah pertemuan rahasia namun menentukan terjadi. Kaum Quraisy yang mulai frustrasi menghadapi gelombang dakwah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memutuskan untuk mengirimkan juru bicara terbaik mereka. Pilihan jatuh kepada Utbah bin Rabi’ah, seorang pria yang dikenal luas karena kepiawaiannya berdiplomasi dan pemahamannya yang mendalam terhadap sastra serta perdukunan.
Kisah ini, yang diangkat dari kitab
Shahihus Siratin Nabawiyyah karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani (hlm. 158-163), menyajikan sebuah narasi tentang benturan antara logika transaksional manusia dengan kekuatan transendental wahyu. Utbah, atau yang akrab disapa Abul Walid, datang bukan untuk berdebat ideologi, melainkan untuk menawarkan kompromi politik dan materi yang barangkali sulit ditolak oleh manusia biasa.
Pertemuan itu dimulai dengan provokasi halus. Utbah mempertanyakan posisi sosial Rasulullah dibandingkan leluhurnya, Abdullah dan Abdul Mutthalib. Strategi ini, dalam perspektif sosiologi masyarakat tribalisme sebagaimana dijelaskan Montgomery Watt dalam
Muhammad at Mecca (1953), bertujuan untuk menyudutkan lawan bicara pada pilihan dilematis: mengakui keunggulan leluhur yang berarti mengakui kebenaran berhala, atau mengunggulkan diri sendiri yang berarti mencederai kehormatan keluarga.
Namun, Rasulullah tetap diam, membiarkan Utbah menumpahkan seluruh argumentasinya. Utbah melontarkan tuduhan bahwa dakwah Muhammad telah mencerai-beraikan persatuan kaum. Ia kemudian menawarkan paket kompensasi: jika motifnya harta, Quraisy akan menjadikannya orang terkaya; jika wanita, ia boleh memilih sepuluh; jika kekuasaan, ia akan diangkat menjadi pemimpin tunggal.
Syaikh Al-Albani, mengutip riwayat Imam Abdu bin Humaid dalam Musnad-nya, menyoroti betapa tenang Rasulullah menghadapi godaan tersebut. Saat Utbah selesai bicara, Rasulullah hanya bertanya, Apakah engkau sudah selesai, wahai Abul Walid? Sebuah pertanyaan yang menunjukkan kematangan jiwa di atas hiruk-pikuk tawaran duniawi. Jawaban Rasulullah tidak datang dari narasi pribadinya, melainkan dari langit melalui pembacaan surat Fusshilat:
حم . تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ . كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَHaa Miim. Diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. (QS. Fusshilat: 1-3).
Efek psikologis dari ayat tersebut luar biasa. Utbah, sang pakar bahasa, seolah tersihir oleh ritme dan otoritas kalimat tersebut. Puncaknya terjadi ketika sampai pada ayat ketiga belas:
فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَJika mereka berpaling, maka katakanlah: Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum Ad dan kaum Tsamud. (QS. Fusshilat: 13).
Mendengar peringatan azab yang nyata itu, Utbah kehilangan ketenangannya. Ia secara spontan memegang mulut Rasulullah, memohon dengan sangat agar beliau berhenti membacakan. Ketakutannya bukan tanpa alasan; sebagai orang Arab asli, ia tahu benar sejarah kehancuran kaum terdahulu dan ia menyadari bahwa lisan Muhammad tidak pernah berbohong.
Interpretasi atas kejadian ini menunjukkan sebuah anomali kognitif. Saat kembali ke kaumnya, Utbah tidak mampu menjelaskan apa yang dialaminya. Ia hanya berkata bahwa ia tidak memahami apapun selain peringatan petir tersebut. Fenomena ini oleh para peneliti sirah sering disebut sebagai ketakutan eksistensial. Abu Jahal, dengan sinisme politiknya, menuduh Utbah telah tersihir atau tergoda oleh Muhammad.
Namun, Utbah bersumpah dengan jujur: ucapan itu bukan sihir, bukan syi’ir, dan bukan pula perdukunan. Ia membela diri dengan menegaskan bahwa dirinya takut adbab itu benar-benar menimpa Makkah.
Kisah ini menjadi bukti bahwa di balik penolakan keras para pemuka Quraisy, terdapat pengakuan batin yang tak terbantahkan akan kebenaran wahyu. Kebisuan Utbah setelah mendengar surat Fusshilat adalah bukti bahwa diplomasi materi selalu akan menemui jalan buntu ketika berhadapan dengan otoritas kebenaran mutlak. Sebagaimana dicatat dalam riwayat Al-Baihaqi, Utbah bahkan sempat mengasingkan diri, sebuah bentuk keguncangan jiwa dari seorang intelektual yang mendadak sadar bahwa dunianya sedang terancam oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kekuasaan.
(mif)