LANGIT7.ID- Di antara jutaan manusia yang bersimbah peluh mengepung Kakbah, terselip sebuah doa yang seragam: menjadi haji yang mabrur. Gelar ini bukan sekadar aksesoris sosial untuk disematkan di depan nama, melainkan sebuah pencapaian spiritual tertinggi. Rasulullah SAW memberikan garansi yang tidak main-main dalam sabdanya:
Wal-hajjul mabruru laisa lahu jaza'un illal-jannah. Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga. Namun, mabrur bukanlah perkara otomatis. Ia adalah teka-teki ilahi yang jejaknya bisa ditelusuri melalui perubahan nyata di dunia.
Ibadah haji memiliki maqasid syariah atau tujuan syariat yang mendalam. Secara ukhrawi, ia menjanjikan kenikmatan yang belum pernah dilihat mata maupun didengar telinga. Namun secara duniawi, haji adalah madrasah besar. Persoalannya, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali, mereka yang meraih haji mabrur sejatinya berjumlah sedikit di tengah lautan jamaah yang masif. Sah secara hukum fikih mungkin mudah dicapai dengan menggugurkan kewajiban, namun diterima secara hakiki (mabrur) adalah persoalan lain.
Tanda pertama yang sering kali luput dari perhatian adalah hulu dari keberangkatan itu sendiri: harta. Syarat mutlak haji mabrur adalah penggunaan harta yang halal. Dalam sebuah hadis ditegaskan,
Innallaha thayyibun la yaqbalu illa thayyiban. Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Harta yang bersumber dari transaksi syubhat atau haram, termasuk yang bersentuhan dengan praktik perbankan non-syariah tanpa pembersihan, menjadikan haji mabrur bak jauh panggang dari api. Ibnu Rajab bahkan menyitir syair pedas bahwa jika seseorang berhaji dengan harta haram, maka sejatinya ia tidak berhaji, melainkan hanya rombongannya saja yang berangkat.
Selama prosesi di tanah suci, kemabruran juga tercermin dari kualitas interaksi sosial. Nabi SAW pernah menjelaskan bahwa inti dari mabrur adalah
it'amuth-tha'am wa thibul-kalam, yakni memberi makan dan berkata-kata baik. Haji yang mabrur menuntut jamaah untuk menekan ego, menghindari rafats (kekejian/urusan seksual), fusuq (maksiat), dan jidal (berbantah-bantahan). Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 197:
ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّAl-hajju asyhurum ma'lumat, faman faradha fihinnal-hajja fala rafatsa wa la fusuqa wa la jidala fil-hajj.Artinya:
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji."Ujian sesungguhnya justru muncul saat koper-koper jamaah kembali masuk ke rumah di tanah air. Tanda paling terang dari diterimanya amal seseorang adalah diberikannya taufik untuk melakukan kebaikan berkelanjutan setelah amalan tersebut. Haji mabrur bertindak sebagai titik tolak perubahan perilaku. Al-Hasan al-Bashri menyebutkan bahwa orang yang mabrur hajinya akan pulang dengan keadaan zuhud terhadap dunia dan lebih mencintai akhirat.
Senada dengan itu, Ibnu Hajar al-Haitami menekankan adanya pergantian lingkungan pergaulan. Seorang haji mabrur cenderung meninggalkan teman-teman yang membawa pengaruh buruk dan beralih ke majelis yang penuh kesadaran spiritual. Jika sepulang dari Mekah seseorang masih berkubang dalam maksiat yang sama seperti sebelum berangkat, maka kemabruran itu patut dipertanyakan. Haji yang mabrur adalah haji yang mengubah manusia menjadi versi terbaik dari dirinya, bukan sekadar pelancong religi yang pulang membawa oleh-oleh air zamzam dan kurma.
(mif)