LANGIT7.ID-Angin gurun yang kering menyapu ribuan tenda yang berjajar di lembah Mina. Di sana, wajah-wajah letih namun bercahaya tampak bersimpuh, jauh dari hiruk-pikuk kota asal mereka. Ada sebuah kesadaran kolektif yang sedang dibangun: bahwa perjalanan ini bukan sekadar perpindahan raga, melainkan sebuah aksi radikal meninggalkan segala bentuk keterikatan duniawi. Rumah yang megah, harta yang dikumpulkan bertahun-tahun, hingga anak dan istri yang dicintai, semuanya ditinggalkan di belakang garis cakrawala demi satu tujuan tunggal yakni mengharap apa yang ada di sisi Allah.
Dalam risalah yang disusun oleh Abdulmalik al-Qosim, ditekankan sebuah pesan yang sangat personal bagi setiap tamu Allah. Al-Qosim mengingatkan bahwa pengorbanan meninggalkan zona nyaman adalah modal awal yang terlalu mahal jika harus disia-siakan dengan aktivitas tanpa makna. Waktu di tanah suci, terutama pada hari-hari puncak haji, adalah komoditas paling berharga yang tidak bisa ditukar dengan emas sekalipun. Oleh karena itu, jamaah diminta untuk membebaskan diri dari interaksi antarmanusia yang berlebihan dan pembicaraan yang tidak perlu.
Nasehat al-Qosim ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Imam al-Ghazali dalam kitab
Ihya Ulumuddin. Al-Ghazali menyebutkan bahwa esensi haji adalah keterputusan sementara dari dunia atau
al-inqitha’ anid dunya. Menurut beliau, haji adalah simulasi kematian, di mana seseorang meninggalkan rumah dan keluarganya sebagaimana ia akan meninggalkan mereka saat menuju liang lahat. Jika dalam simulasi ini seseorang masih disibukkan dengan obrolan kosong dan urusan duniawi, maka ia telah kehilangan roh dari perjalanan suci tersebut.
Fokus pada akhirat menuntut jamaah untuk merasakan pengawasan zat yang Maha Memperhatikan. Kehadiran hati ini dalam tradisi sufistik disebut sebagai
muraqabah. Di tengah jutaan manusia, seorang jamaah ditantang untuk merasa hanya berdua dengan Tuhannya. Pengawasan Allah yang Mahaperkasa harus dirasakan dalam setiap tarikan napas, agar setiap detik yang berlalu menjadi butiran pahala yang utuh. Hal ini ditegaskan dalam sebuah landasan teologis yang mengingatkan manusia akan janji Allah bagi mereka yang mengutamakan akhirat, sebagaimana firman-Nya dalam Surah asy-Syura ayat 20:
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰخِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖBarang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya.
Selain itu, Prof. Dr. Hamka dalam
Tafsir al-Azhar saat membahas mengenai ibadah haji, menjelaskan bahwa ibadah ini adalah latihan untuk melepaskan ketergantungan pada harta dan status sosial. Ketika seseorang meninggalkan harta dan keluarganya, ia sebenarnya sedang belajar bahwa pemilik asli dari semua itu adalah Allah. Hamka menekankan bahwa jika jamaah haji masih sibuk membicarakan urusan bisnis atau kebanggaan duniawi di tanah suci, maka nilai pembebasan dirinya menjadi cacat.
Maka, nasihat al-Qosim untuk berkonsentrasi pada urusan akhirat menjadi relevan di tengah gempuran distraksi modern. Saat ini, gawai dan media sosial sering kali menjadi penghalang bagi jamaah untuk benar-benar merasakan keagungan Tuhan. Banyak bicara dan banyak bertemu manusia dalam konteks yang tidak perlu hanya akan menguras energi spiritual yang seharusnya dialokasikan untuk dzikir dan perenungan.
Bagi jamaah haji, berada di
Biladullah al-Haram adalah waktu untuk menjadi asing di mata manusia namun dikenal di langit. Pengorbanan meninggalkan keluarga dan rumah harus dibayar tuntas dengan kehadiran hati yang paripurna. Jangan sampai setelah menempuh jarak ribuan mil, jamaah pulang hanya dengan membawa kelelahan fisik, tanpa membawa transformasi jiwa yang lahir dari kesunyian batin bersama Tuhannya. Inilah saatnya memutus kebisingan dunia untuk mendengar bisikan iman yang paling dalam.
(mif)