Mengejar predikat mabrur bukan sekadar perkara sahnya rukun di tanah suci. Ada transformasi spiritual dan jejak sosial yang menjadi penanda apakah haji seseorang diterima atau sekadar gugur kewajiban.
Di tengah hamparan tenda Mina dan teriknya Arafah, jutaan manusia mengejar satu janji: ampunan seluas samudra. Namun, haji bukan sekadar ritual fisik, melainkan perjalanan pulang menuju fitrah manusia yang harus dijaga dari noda riya dan kefasikan.
Haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan puncak pengabdian yang menjanjikan kemurnian jiwa layaknya bayi yang baru lahir. Di balik rukunnya, tersimpan kafarat atas dosa dan jaminan surga.
Adab-adab ini bertujuan agar seseorang dapat memperoleh umrah yang diterima dan haji yang mabrur serta penuh berkah. Jumlahnya sangat banyak, mencakup adab yang bersifat wajib maupun sunnah.
Haji mabrur adalah istilah yang identik dengan konteks ibadah haji. Menjadi haji mabrur adalah impian setiap jamaah yang telah tuntas menunaikan rukun Islam kelima
Jutaan jamaah haji dari seluruh dunia termasuk Indonesia telah melaksanakan prosesi wukuf di Arafah. Waktu wukuf di Arafah dimulai setelah tergelincirnya matahari
Haji mabrur merupakan impian setiap jamaah haji yang telah menyempurnakan rukun Islam kelima tersebut. Secara harfiah, haji mabrur dapat diartikan sebagai haji
Ditjen PHU juga mensyaratkan calon petugas, baik untuk formasi PPIH Kloter maupun Arab Saudi, harus mampu mengoperasikan Microsoft Office serta Aplikasi Pelaporan PPIH berbasis Android atau iOS.