Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 08 Mei 2026
home masjid detail berita

Syarat Mutlak Haji Mabrur: Larangan Rafats dan Fusuq di Tanah Suci

miftah yusufpati Jum'at, 08 Mei 2026 - 05:00 WIB
Syarat Mutlak Haji Mabrur: Larangan Rafats dan Fusuq di Tanah Suci
Di akhir hari, saat mentari terbenam di ufuk Arafah, yang tersisa hanyalah harapan agar setiap tetap peluh dan doa yang dilangitkan diterima sebagai saksi ketaatan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Padang Arafah siang itu tampak seperti lautan putih yang tak bertepi. Di bawah sengatan matahari yang menyentuh ubun-ubun, jutaan manusia bersimpuh, meluruhkan ego, dan menanggalkan segala atribut keduniawian. Tidak ada pangkat yang melekat, tidak ada sekat harta yang membedakan. Semuanya serupa: hamba yang fakir di hadapan Sang Pencipta.

Ritual tahunan ini bukan sekadar mobilisasi massa terbesar di dunia. Bagi mereka yang memahami, haji adalah sebuah risalah tentang syukur dan kepasrahan total. Dalam risalah yang disusun oleh Abdulmalik al-Qosim, ditekankan bahwa nikmat Islam adalah anugerah tertinggi yang sering kali luput dari kesadaran manusia. Islam adalah kompas yang menuntun manusia di tengah rimba dunia yang makin bising. Sebagaimana firman Allah dalam Surah an-Nahl ayat 18:

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya."

Al-Qosim dalam naskah yang diterjemahkan Syafar Abu Difa mengingatkan bahwa banyak manusia di muka bumi ini yang diharamkan dari hidayah ini. Para bangsawan, saudagar, hingga penguasa bisa saja memiliki segalanya, namun pintu nikmat iman tetap tertutup bagi mereka. Maka, keberadaan jamaah di tanah suci adalah bukti nyata dari kasih sayang Allah yang bersifat personal sekaligus universal. Keberangkatan seseorang menuju Baitullah bukanlah semata karena kemampuan finansial, melainkan undangan khusus dari Yang Maha Kuasa.

Namun, perjalanan ini menuntut lebih dari sekadar ketahanan fisik di Muzdalifah atau Mina. Nabi Muhammad SAW memberikan rambu-rambu yang sangat ketat agar ibadah ini tidak berakhir menjadi wisata religi belaka. Dalam hadis yang diriwayatkan secara Mutafakun Alaih, beliau memberikan kabar gembira sekaligus peringatan:

مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلمَ ْيَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

"Barangsiapa yang berhaji di rumah ini (Mekkah) dan tidak berbuat senonoh dan kefasikan (kemaksiatan), kembali (dari hajinya) seperti hari pertama dia dilahirkan."

Makna mabrur, sebagaimana dijelaskan dalam karya ilmiah Prof. Dr. Quraish Shihab dalam buku Haji dan Umrah (2012), bukan hanya terletak pada pelaksanaan rukun dan wajib haji secara teknis. Mabrur berasal dari kata birrun yang berarti kebajikan. Artinya, seseorang yang kembali dari tanah suci harus menunjukkan transformasi sosial; menjadi pribadi yang lebih peduli, lebih jujur, dan lebih tenang. Tanpa perubahan perilaku pascahaji, ritual tersebut dikhawatirkan hanya menjadi rutinitas tanpa roh yang kehilangan esensi pembersihannya.

Keagungan hari Arafah juga menjadi titik balik krusial. Dalam hadis riwayat Muslim, disebutkan bahwa tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka selain hari Arafah. Ini adalah momentum pembersihan noda kemaksiatan yang luar biasa. Al-Qosim mewasiatkan agar para jamaah menjauhkan diri dari penyakit hati seperti riya (pamer) dan ujub (bangga diri). Sifat-sifat ini sering kali menyelinap di sela-sela swafoto atau status media sosial yang kini lazim dilakukan di depan Kabah, yang justru berpotensi merusak keikhlasan amal.

Menunaikan haji adalah amal paling agung setelah iman dan jihad. Sebagaimana risalah yang diterbitkan oleh Maktab Dakwah Rabwah (2009), haji adalah bentuk pendekatan diri yang mampu menghapus dosa masa lalu secara total. Harapannya, kepulangan jamaah ke tanah air bukan sekadar membawa gelar haji di depan nama untuk kepentingan status sosial, melainkan membawa cahaya keimanan yang mampu menerangi lingkungan sekitarnya. Sebagaimana janji Rasulullah SAW dalam riwayat Muslim: "Dan haji mabrur, tidak ada balasannya selain surga."

Di akhir hari, saat mentari terbenam di ufuk Arafah, yang tersisa hanyalah harapan agar setiap tetap peluh dan doa yang dilangitkan diterima sebagai saksi ketaatan. Menjaga kemabruran di tengah dunia yang penuh fitnah mungkin jauh lebih berat daripada melempar jumrah di Mina, namun itulah risalah sejati bagi setiap jiwa yang telah bersaksi di hadapan Rabb-nya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 08 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)