Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 06 Mei 2026
home masjid detail berita

Menggali Hakikat Manusia di Tengah Kritik Filsafat Modern

miftah yusufpati Rabu, 06 Mei 2026 - 16:48 WIB
Menggali Hakikat Manusia di Tengah Kritik Filsafat Modern
Al-Quran hadir untuk meluruskan kembali pemahaman filosofis yang keliru. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Apakah filsafat itu, dan bagaimana perkembangannya? Adalah sebuah pertanyaan yang memerlukan jawaban singkat sebelum permasalahan yang diketengahkan ini diuraikan. Bertrand Russell menjelaskan bahwa filsafat merupakan jenis pengetahuan yang memberikan kesatuan dan sistem ilmu pengetahuan melalui pengujian kritis terhadap dasar-dasar keputusan dan kepercayaan. Hal ini disebabkan karena pemikiran filsafat bersifat radikal, mencoba memberikan jawaban menyeluruh, serta melintasi dimensi fisik.

Objek penelitian filsafat mencakup segala yang ada dan yang mungkin ada, baik yang umum maupun yang khusus seperti Tuhan. Di masa lampau, perdebatan filsafat berkisar pada kosmologi dan ketuhanan. Namun, dewasa ini pusat perhatian pemikir beralih pada hakikat manusia itu sendiri. Pandangan tentang manusia akan memberikan arah dari seluruh sikap dan penafsiran gejala kehidupan.

Dalam abad pertengahan, manusia dipandang sebagai makhluk mulia ciptaan Tuhan. Keyakinan ini sejalan dengan pandangan agama yang menempatkan bumi sebagai pusat alam semesta. Tapi pandangan ini digoyahkan oleh Galileo Galilei yang membuktikan bahwa bumi hanyalah bagian kecil dari tata surya, memicu krisis keimanan.

Krisis tersebut diperparah oleh teori evolusi Darwin. Lebih jauh, Sigmund Freud menyimpulkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk bumi yang gerakannya didorong oleh libido, sementara agama dianggap sebagai ilusi. Puncaknya terjadi setelah Perang Dunia II, ketika pretensi sains dan materialisme memunculkan krisis kemanusiaan.

Kondisi ini melahirkan aliran eksistensialisme. Jean-Paul Sartre berpendapat bahwa manusia adalah kebebasan itu sendiri dan tidak terikat pada tujuan yang telah ditentukan. Sartre menganggap agama sebagai ilusi yang menghalangi kebebasan manusia.

Namun, keterbatasan pemikiran materialistis ini disadari oleh banyak ahli. Alexis Carrel dalam bukunya Man the Unknown, menyatakan bahwa pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri belum mencapai kemajuan yang sebanding dengan bidang ilmu lainnya. Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks.

Dari perspektif Islam, untuk memahami hakikat manusia secara utuh, diperlukan bimbingan dari Pencipta melalui wahyu. Dalam karyanya Membumikan Al-Quran, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menguraikan bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan atas peta gambaran Tuhan dan dihembuskan kepadanya ruh ciptaan-Nya. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Hijr ayat 29:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Fa-idza sawwaituhu wa nafakhtu fihi min ruhihi faqa'u lahu sajidin.

Artinya: Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki dimensi transenden yang tidak dapat direduksi oleh analisis materialis maupun eksistensial belaka. Manusia bukan sekadar hasil evolusi biologis tanpa arah, melainkan entitas yang memiliki tujuan spiritual.

Dengan demikian, Al-Quran hadir untuk meluruskan kembali pemahaman filosofis yang keliru. Wahyu Tuhan memberikan parameter moral dan ontologis yang jelas, menempatkan akal di bawah bimbingan wahyu untuk mencapai kebahagiaan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 06 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)