LANGIT7.ID-Langkah kaki pria tegap itu menghentak debu jalanan Mekah dengan gusar. Di tangan kanannya, sebilah pedang terhunus berkilat diterpa matahari pagi. Targetnya jelas: menghabisi nyawa Nabi Muhammad. Pria itu adalah Umar bin Khattab, seorang bangsawan Quraisy yang dikenal garang dan tak kenal ampun terhadap para pengikut agama baru. Umar tidak tahan lagi melihat keutuhan sukunya pecah berantakan. Baginya, satu-satunya cara mengembalikan persatuan Quraisy adalah dengan melenyapkan sang pembawa risalah.
Namun, takdir memiliki skenario lain pada pagi hari di pertengahan abad ketujuh itu. Perjalanan Umar distop oleh Nu'aim bin Abdullah yang membocorkan rahasia mengejutkan. Adik kandung Umar sendiri, Fatimah binti Khattab, beserta suaminya, Sa'id bin Zaid, ternyata telah lama menjadi pengikut rahasia Nabi Muhammad. Informasi itu bagai petir di siang bolong. Umar berbalik arah, melangkah cepat menuju rumah adiknya dengan amarah yang kian mendidih.
Kisah dramatis ini menjadi salah satu titik balik paling krusial dalam sejarah awal syiar Islam. Muhammad Husain Haekal dalam bukunya,
Al-Faruq Umar (Pustaka Litera AntarNusa, 2000), mencatat bahwa sebelum momen penyerangan itu, Umar sebenarnya didera konflik batin yang hebat. Penindasan yang ia lakukan terhadap kaum muslim tidak memadamkan iman mereka, justru memicu gelombang migrasi ke Abisinia. Kepergian para tetangga dan kerabatnya meninggalkan lubang kesepian sekaligus penyesalan mendalam di hati Umar.
Tamparan di Rumah FatimahSetibanya di depan pintu rumah Fatimah, samar-samar Umar mendengar lantunan ayat yang asing bagi telinganya. Di dalam ruangan, Khabbab bin al-Arat tengah membacakan lembaran Surah Ta-Ha kepada pasangan suami istri tersebut. Menyadari kedatangan sang tiran, Khabbab segera bersembunyi di balik kamar, sementara Fatimah buru-buru menyelipkan lembaran kitab suci itu ke balik pakaiannya.
Umar merangsek masuk dengan tatapan mengintimidasi. Ia langsung mengonfrontasi iparnya terkait kabar perpindahan agama mereka. Debat singkat berujung pada kekerasan fisik. Umar menghantam Sa'id bin Zaid hingga tersungkur. Ketika Fatimah maju melindungi suaminya, sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya hingga mengucurkan darah.
Melihat darah mengalir di wajah adik perempuannya, benteng amarah Umar mendadak runtuh. Rasa sesal yang hebat merayapi dadanya. Keberanian Fatimah yang tetap teguh mempertahankan keyakinannya di bawah ancaman pedang membuat Umar takjub. Ia meminta lembaran yang disembunyikan itu untuk dibaca. Setelah bersumpah demi berhala sembahannya tidak akan merusak lembaran tersebut, Fatimah akhirnya menyerahkannya.
Umar mulai membaca untaian ayat Surah Ta-Ha yang tertulis di lembaran tersebut. Lambat laun, sorot matanya yang garang melunak. Logika dan rasa bahasanya sebagai sastrawan Quraisy tidak dapat mendustakan keindahan teks tersebut. "Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini!" ujar Umar pelan.
Mendengar pengakuan itu, Khabbab keluar dari tempat persembunyiannya dengan penuh suka cita. Ia teringat doa Rasulullah yang dipanjatkan sehari sebelumnya, meminta agar Islam diperkuat oleh salah satu dari dua tokoh kuat Mekah: Abul Hakam bin Hisyam atau Umar bin Khattab. Khabbab meyakinkan Umar bahwa doa tersebut kini sedang mewujud nyata pada dirinya.
Tanpa membuang waktu, Umar meminta Khabbab mengantarkannya langsung ke Darul Arqam di Bukit Safa, tempat Nabi Muhammad dan sekitar empat puluh sahabat sedang berkumpul secara sembunyi-sembunyi. Umar datang dengan pedang yang masih tersandang di pundaknya.
Takbir di Darul ArqamKedatangan Umar mengetuk pintu Darul Arqam sempat memicu kepanikan di dalam rumah. Salah seorang sahabat yang mengintip dari celah pintu gemetar melihat sosok sang algojo Quraisy berdiri di depan rumah. Namun, Hamzah bin Abdul Muttalib dengan tenang menenangkan situasi dan meminta pintu dibuka. Jika Umar datang dengan niat baik, mereka akan menyambutnya. Jika berniat buruk, mereka siap menghabisinya dengan pedangnya sendiri.
Rasulullah kemudian menemui Umar di sebuah ruangan. Beliau menggenggam erat baju Umar lalu menariknya dengan kuat seraya menegurnya dengan keras, mempertanyakan maksud kedatangan Ibn Khattab yang tak kunjung berhenti memusuhi Islam.
Di hadapan manusia yang beberapa jam lalu ingin ia bunuh, Umar justru bersimpuh. Ia menyatakan keimanannya kepada Allah, kepada Rasul-Nya, serta seluruh wahyu yang dibawanya. Seketika itu juga, gema takbir para sahabat membahana memenuhi ruangan, menandai lahirnya singa baru dalam barisan dakwah Islam.
Peristiwa masuk Islamnya Umar bin Khattab bukan sekadar drama keluarga, melainkan sebuah transformasi psikologis yang dalam. Dalam kajian sosiologi agama, Umar merupakan tipikal pemimpin yang digerakkan oleh prinsip keteraturan sosial. Ketika ia melihat Islam sebagai pemecah belah, ia memusuhinya. Namun ketika ia menemukan kebenaran substantif dalam Al-Qur'an, loyalitasnya bergeser total untuk membela keteraturan baru di bawah panji Islam.
Data sejarah menunjukkan bahwa sebelum Umar masuk Islam, kaum muslimin bergerak secara klandestin karena tekanan struktur kekuasaan Mekah yang hegemonik. Kehadiran Umar mengubah peta politik tersebut secara radikal. Sifat aslinya yang tegas dan berani tidak hilang, melainkan mengalami reorientasi nilai.
Ahmad Amin dalam karya klasiknya,
Fajr al-Islam (Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1928), menjelaskan bahwa karakter Umar adalah perpaduan antara ketegasan hukum dan kepekaan nurani. Kepekaan inilah yang membuatnya langsung luluh ketika mendengar Surah Ta-Ha. Masuknya Umar memberikan efek deteren yang signifikan terhadap represi kaum kafir Kuraisy, sehingga kaum muslimin untuk pertama kalinya berani beribadah secara terbuka di Ka'bah.
Langkah kaki yang awalnya bertujuan untuk memadamkan cahaya Islam, pada akhirnya justru menjadi salah satu pilar utama yang membuat cahaya tersebut berpendar ke seluruh penjuru dunia. Sebuah akhir cerita yang ironis bagi kaum Quraisy, namun menjadi awal baru yang gemilang bagi peradaban Islam. Namun, sebuah pertanyaan besar tetap tersisa: ke manakah perginya keledai Khattab yang dahulu disebut-sebut oleh suami Umm Abdullah sebagai makhluk yang lebih punya peluang masuk Islam ketimbang Umar sendiri?
(mif)