Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 30 Juli 2026
home masjid detail berita

Tafsir Al-Baqarah Ayat 10: Bahaya Penyakit Hati dan Ancamannya

ahmad zuhdi Kamis, 30 Juli 2026 - 05:46 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 10: Bahaya Penyakit Hati dan Ancamannya
LANGIT7.ID-Jakarta; - Rangkaian ayat dalam Surat Al-Baqarah mengungkap secara mendalam tabiat dan karakter kaum munafik. Setelah menguraikan sifat-sifat orang kafir pada ayat sebelumnya, al-Qur'an pada ayat ke-10 ini membedah kondisi batiniah orang-orang yang mengaku beriman namun hatinya menyimpan busuk kemunafikan.

Ayat ini memperkenalkan konsep marad al-qalb atau penyakit hati sebagai kondisi keagamaan yang sangat berbahaya, sekaligus menjelaskan hukum sunnatullah bahwa perbuatan jahat akan membawa dampak pada bertambahnya kejahatan.

فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌۭ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًۭا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ

"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta." (QS Al-Baqarah: 10).

Secara kebahasaan, kata qulūbihim diturunkan dari akar kata qa-la-ba yang merupakan bentuk jamak taksir dari qalb. Dalam konteks ayat ini, kata tersebut merujuk pada organ batin atau pusat keyakinan tempat bersemayamnya keraguan dan kemunafikan.

Al-Qur'an juga menggunakan akar kata ini dalam surat lain untuk menggambarkan kegoncangan jiwa maupun butanya mata hati. Sementara itu, kata maradun berasal dari akar kata ma-ra-da yang bermakna kondisi yang menyimpang dari keseimbangan sehat. Dalam konteks ayat ini, maradun bermakna penyakit keimanan berupa keraguan, kemunafikan, dan kekufuran.

Selanjutnya, penggalan fazādahumu yang dibentuk dari akar kata za-ya-da berarti menambahkan atau menjadikan sesuatu lebih besar. Dalam ayat ini, Allah menambah penyakit hati mereka sebagai bentuk pembalasan atas kedustaan yang mereka lakukan.

Kata Allāhu yang berasal dari akar kata a-la-ha menegaskan bahwa Sang Pencipta adalah subjek yang memberikan balasan adil tersebut. Adapun kata azhābun dari akar kata ʿa-zha-ba bermakna siksa, yang disifati dengan alīmun dari akar kata a-li-ma yang bermakna sangat pedih atau menyakitkan. Ayat ini diakhiri dengan kata yakzhibūna dari akar kata ka-zha-ba, yang menggambarkan kebiasaan orang-orang munafik yang terus-menerus berdusta baik dalam perkataan maupun dalam pengakuan iman palsu mereka.

Secara historis, Imam al-Baghawi dan Syaikh al-Sa'di menjelaskan bahwa rangkaian ayat tentang kaum munafik ini turun berkaitan dengan kondisi sosial di Madinah. Sebelum peristiwa hijrah Rasulullah, kemunafikan belum ada di kota tersebut. Namun setelah Kemenangan Badar yang mengangkat kejayaan umat Islam, orang-orang yang enggan beriman merasa terdesak. Mereka akhirnya menampakkan keislaman secara lahiriah karena takut dan ingin bersikap licik, padahal hati mereka tetap menolak ajaran Islam.

Baca Juga: Ilusi Orang Munafik Dapat Menipu Allah dan Orang Beriman

Penggalan fi qulūbihim maradun mengabarkan keberadaan penyakit dalam hati kaum munafik. Imam al-Tabari menjelaskan bahwa penyakit yang dimaksud terletak pada keyakinan hati mereka terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, yakni berupa keraguan dan kerancuan berpikir.

Penafsiran ini sejalan dengan pandangan Ibn Abbas dan al-Suddi yang menegaskan bahwa penyakit tersebut adalah rasa ragu. Di sisi lain, ulama seperti Ikrimah dan Tawus menafsirkannya sebagai sifat riya, sedangkan al-Dhahhak menafsirkannya sebagai kemunafikan.

Syaikh al-Jazairi memadukan pandangan-pandangan ini dengan menyatakan bahwa penyakit hati kaum munafik mencakup keraguan, kemunafikan, sekaligus rasa takut. Abdurrahman bin Zaid menegaskan bahwa penyakit ini murni bersifat keagamaan atau spiritual, bukan penyakit fisik pada jasad.

Penggalan fazādahumu Allāhu maradān menegaskan tentang bertambahnya penyakit tersebut oleh Allah. Tindakan penambahan ini merupakan pembalasan setimpal, bukan penindakan tanpa alasan. Imam al-Baghawi menjelaskan mekanismenya, di mana setiap kali ayat al-Qur'an turun secara berturut-turut dan kaum munafik mengingkarinya, maka setiap pengingkaran itu otomatis menambah kadar kekufuran dan kemunafikan dalam dada mereka.

Syaikh al-Jazairi menyebut hal ini sebagai sunnatullah yang pasti berlaku, yaitu suatu keburukan tidak akan melahirkan melainkan keburukan baru. Beberapa riwayat dari al-Tabari dan Ibn Katsir juga menyebutkan bahwa penambahan penyakit ini berupa bertambahnya rijs atau kotoran noda dalam hati mereka.

Pada penggalan wa lahum adhābun alīmun bimā kānū yakdhibūn, Allah mengancam mereka dengan azab yang sangat pedih di akhirat kelak akibat perbuatan dusta. Syaikh al-Sa'di menjelaskan bahwa kemunafikan pada dasarnya adalah tindakan menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan, yang mencakup kemunafikan keyakinan maupun praktik.

Baca Juga: Tafsir Hadits: Bersyukur dengan Menatap Mereka yang Berada di Bawah

Kedustaan kaum munafik tidak sekadar kebohongan ucapan sehari-hari, melainkan dusta terbesar di mana lisan mengaku beriman sementara hati menyimpan kekufuran. Syaikh al-Jazairi menambahkan bahwa hati yang tidak diisi oleh keimanan pada hari pembalasan akan menjadikan pemiliknya senantiasa berseberangan dengan segala bentuk kebaikan.

Melalui pembahasan tafsir ini, dapat dipetik beberapa pelajaran penting. Pertama, penyakit hati adalah realitas yang sangat berbahaya karena merusak keyakinan dalam bentuk keraguan, kemunafikan, dan riya. Kedua, bertambah parahnya penyakit hati merupakan konsekuensi hukum Allah atas dosa yang terus ditumpuk tanpa taubat.

Ketiga, kedustaan merupakan induk dari segala bentuk kemunafikan, dan barang siapa yang memeliharanya akan disiapkan azab yang sangat pedih. Ayat ini menjadi peringatan keras agar setiap muslim senantiasa merawat kebersihan hatinya, sebab penyakit hati jika dibiarkan tidak akan pernah stagnan, melainkan akan terus membesar hingga membinasakan pemiliknya di akhirat.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 30 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:58
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan