Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 29 Juli 2026
home masjid detail berita

Ilusi Orang Munafik Dapat Menipu Allah dan Orang Beriman

ahmad zuhdi Rabu, 29 Juli 2026 - 05:34 WIB
Ilusi Orang Munafik Dapat Menipu Allah dan Orang Beriman
LANGIT7.ID-Jakarta; - Studi kata dalam Surah Al-Baqarah ayat 9 memberikan gambaran mendalam mengenai tabiat buruk orang-orang munafik. Kata yukhādiʿūna berasal dari akar kata kha-da-ʿa dengan pola yufāʿilu yang menandakan adanya upaya aktif untuk menyembunyikan sesuatu dengan tipu daya atau mengecoh.

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

"Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar." (QS Al-Baqarah: 9).

Dalam konteks ayat ini, orang-orang munafik berusaha menipu Allah dan orang-orang beriman dengan berpura-pura beriman, padahal tipu daya tersebut sama sekali tidak mengenai Allah. Penggunaan kata serupa juga ditemukan dalam Surah An-Nisā ayat 142 yang menegaskan bahwa orang-orang munafik hendak menipu Allah, tetapi Allahlah yang membalas tipuan mereka.

Kata Allāha merupakan nama bagi zat Yang Maha Esa, Pencipta dan Penguasa segala sesuatu yang berhak disembah. Dalam ayat ini, Allah disebutkan sebagai objek pertama dari upaya penipuan orang-orang munafik. Hal ini menunjukkan betapa besar kebodohan dan keangkuhan mereka karena membayangkan zat Yang Maha Mengetahui dapat dikelabui. Kata ini diturunkan dari akar kata i-la-h yang merujuk pada sesembahan, sebagaimana tercantum pula dalam Surah Al-Ikhlāṣ ayat 1.

Pihak berikutnya yang menjadi sasaran adalah allazhīna āmanū, yang berasal dari akar kata a-mi-na dalam bentuk kata kerja lampau āmana dan kata sambung jamak allazhīna. Secara leksikal, kata ini bermakna orang-orang yang membenarkan dengan hati dan menerima dengan ikhlas ajaran yang dibawa oleh para rasul. Dalam konteks ayat ini, orang-orang beriman menjadi sasaran kedua dari tipu daya kaum munafik karena posisi mereka sebagai lawan ideologis dan target kepura-puraan di dunia nyata.

Al-Qur'an kemudian menggunakan kata yakhdaʿūna untuk membantah persangkaan tersebut. Berbeda dengan bentuk yukhādiʿūna, kata yakhdaʿūna menggunakan pola yafʿalūna yang bermakna melakukan perbuatan tipu daya secara langsung. Makna dalam konteks ayat ini menjadi penegasan bahwa tipu daya yang mereka lancarkan secara nyata hanya kembali kepada diri mereka sendiri, bukan mengenai Allah maupun orang-orang beriman.

Kata anfusahum dibentuk dari akar kata na-fa-sa yang merupakan bentuk jamak dari nafs, bermakna diri, jiwa, atau esensi seseorang. Penambahan kata ganti hum menegaskan bahwa objek yang benar-benar tertipu adalah diri mereka sendiri. Akibat buruk dari kemunafikan, baik berupa siksa di dunia maupun azab di akhirat, akan menimpa diri lahir dan batin mereka sendiri. Kata ini menggarisbawahi betapa perbuatan mereka sebenarnya adalah bentuk penganiayaan terhadap diri sendiri.

Bagian akhir ayat ditutup dengan kata yashʿurūna dari akar kata sha-ʿa-ra yang bermakna merasakan atau menyadari sesuatu dengan indra batin maupun akal. Makna kontekstual dari penggalan ini mengabarkan bahwa kaum munafik sama sekali tidak menyadari bahwa perbuatan mereka justru merugikan diri sendiri. Ketidaksadaran ini menunjukkan puncak kebodohan, di mana seseorang merasa sedang melakukan kelicikan yang menguntungkan, padahal ia sedang berjalan menuju kebinasaan dirinya sendiri.

Ayat ke-9 dari Surah Al-Baqarah ini merupakan kelanjutan dari rangkaian ayat yang mengungkap tabiat kaum munafik. Setelah Allah memberitakan ucapan lisan mereka yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir padahal hati mereka ingkar, ayat ini membongkar hakikat dari sikap berpura-pura tersebut. Ayat ini sangat penting karena membongkar ilusi kaum munafik yang mengira dapat menipu Sang Pencipta dan kaum mukminin. Imam al-Ṭabarī menjelaskan bahwa ayat ini hadir sebagai bantahan tegas terhadap keyakinan keliru kaum munafik yang menyangka bahwa perbuatan dan niat jahat mereka tersembunyi dari pengetahuan Allah.

Penggalan yukhādiʿūna Allāha wallazhīna āmanū memberitakan perbuatan lahiriah kaum munafik. Imam al-Ṭabarī mendefinisikan hakikat tipu daya orang munafik terhadap Tuhannya dan kaum mukminin sebagai tindakan menampakkan ucapan dan pengakuan iman melalui lisan, padahal bertentangan dengan apa yang tersimpan dalam hati mereka yang penuh keraguan dan pendustaan.

Baca Juga: Tafsir Hadits: Bersyukur dengan Menatap Mereka yang Berada di Bawah

Syaikh al-Jazāʾirī mempertegas bahwa tipu daya adalah memperlihatkan sesuatu yang disukai oleh pihak yang ditipu sambil menyembunyikan apa yang dibenci darinya. Imam Ibnu Katsīr juga menukilkan bahwa mereka mengucapkan kalimat tauhid semata-mata untuk menyelamatkan darah dan harta mereka di dunia. Penipuan di sini tentu bukan berarti Allah dapat tertipu secara hakiki, melainkan gambaran dari prasangka jahat kaum munafik yang mengira Allah tidak mengetahui isi hati mereka.

Penggalan wa mā yakhdaʿūna illā anfusahum hadir sebagai sanggahan langsung dari Allah terhadap persangkaan tersebut. Ibnu Katsīr menjelaskan bahwa Allah membalas keyakinan keliru mereka dengan menegaskan bahwa mereka tidaklah memperdaya siapa pun melainkan diri mereka sendiri, meskipun mereka tidak menyadarinya. Imam al-Ṭabarī menambahkan penafsiran dari Ibn Zayd bahwa kaum munafik tidak menyadari betapa mereka telah mencelakakan diri sendiri dengan kekufuran yang disembunyikan. Sebutan penipu pada hakikatnya justru lebih layak disematkan kepada diri mereka sendiri karena dampak buruk dari perbuatan itu sepenuhnya berbalik kepada mereka berupa tumpukan dosa dan ancaman azab.

Penggalan wa mā yashʿurūn menutup ayat dengan mengabarkan puncak ketidaksadaran kaum munafik. Imam al-Ṭabarī menjelaskan bahwa Allah memberitakan ketidaktahuan mereka terhadap kenyataan bahwa Allah sedang membalas tipuan tersebut melalui istidrāj, yaitu memberikan penangguhan dan membiarkan mereka larut dalam kesesatan hingga saat pembalasan tiba. Ibnu Katsīr menguatkan hal ini dengan merujuk pada ayat lain yang menyatakan bahwa orang-orang munafik berusaha menipu Allah, dan Allahlah yang membalas tipuan mereka.

Dalam memahami penggalan yukhādiʿūna Allāha, terdapat dua pandangan di kalangan ulama mufassir sebagaimana dicatat oleh Imam al-Ṭabarī. Pendapat pertama yang dipegang mayoritas ulama menafsirkan bahwa menipu Allah berarti tindakan menampakkan keimanan palsu seolah-olah mereka dapat mengelabui Allah. Pendapat kedua menafsirkan redaksi tersebut sebagai bentuk pembalasan yang setimpal, di mana Allah menamai tindakan pembalasan-Nya dengan sebutan tipuan sebagai balasan atas anggapan dan ejekan kaum munafik. Kedua pandangan ini saling melengkapi, di mana pendapat pertama menjelaskan hakikat perbuatan manusia, sedangkan pendapat kedua menjelaskan konsekuensi keilahian dari perbuatan tersebut.

Baca Juga: Tafsir Al-Baqarah Ayat 8: Bahaya Laten Kemunafikan dan Pura-Pura Beriman

Dari pemaparan tafsir ini, dapat ditarik sejumlah pelajaran berharga. Hakikat kemunafikan adalah adanya jurang pemisah antara ucapan lisan dan keyakinan batin. Keimanan sejati tidak cukup hanya bersumber dari pengakuan lisan, melainkan harus diiringi dengan pembenaran hati dan pembuktian melalui amal perbuatan. Ayat ini juga menegaskan sifat kemahatahuan Allah yang tidak mungkin bisa dikelabui oleh kerahasiaan apa pun yang disimpan oleh makhluk-Nya.

Pelajaran penting lainnya adalah bahwa setiap makar dan tipu daya yang ditujukan untuk merusak agama Allah pada akhirnya akan berbalik menghancurkan pelakunya sendiri. Ketidaksadaran akan dampak buruk dari dosa merupakan puncak kerugian seorang manusia. Pemberian tangguh atau kenikmatan duniawi yang dialami oleh orang-orang yang bersikap munafik bukanlah tanda keridaan Allah, melainkan bentuk istidrāj yang makin menjerumuskan mereka. Oleh karena itu, kesadaran akan pengawasan Allah yang terus-menerus menjadi benteng utama bagi seorang mukmin agar terhindar dari penyakit kemunafikan.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 29 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:58
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan