LANGIT7.ID, Jakarta; - Surat al-Baqarah ayat 38 merupakan penutup dari rangkaian kisah penurunan Nabi Adam 'alaihissalam dan Hawa dari surga yang dimulai sejak ayat 35 dan 36. Setelah Nabi Adam menerima pengajaran kalimat-kalimat taubat dan memperoleh ampunan dari Allah ﷻ (ayat 37), Dia kemudian memerintahkan mereka untuk turun ke bumi.
قُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ مِنْهَا جَمِيعًۭا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًۭى فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (QS Al-Baqarah: 38).
Bersamaan dengan perintah tersebut, Allah ﷻ menjanjikan kedatangan petunjuk (hudā) serta menegaskan bahwa barang siapa yang mengikuti petunjuk-Nya, maka tidak akan ada rasa takut maupun kesedihan pada diri mereka.
Ayat ini sangat penting karena menegaskan hubungan antara peristiwa penempatan manusia di bumi dengan misi kenabian. Kehidupan di dunia bukanlah bentuk hukuman tanpa harapan, melainkan sebuah wahana ujian yang senantiasa dibekali bimbingan Ilahi.
Imam al-Ṭabarī menjelaskan bahwa makna perintah turun ke bumi pada ayat ini sejalan dengan penegasan sebelumnya dalam tafsir beliau. Sementara itu, Ibn Katsir menambahkan bahwa perintah penurunan tersebut berlaku bagi Nabi Adam, istrinya, serta Iblis guna memulai keberlangsungan keturunan manusia di bumi.
Makna Qulnā Ihbiṭū Minhā Jamīʿā Mengenai seruan "Turunlah kamu semua dari surga!", Imam al-Ṭabarī meriwayatkan sanad dari Ya'qub bin Ibrahim hingga Abu Salih yang menjelaskan bahwa pihak yang diperintahkan turun meliputi empat subjek, yakni Nabi Adam, Hawa, ular, dan Iblis. Imam al-Baghawī mengonfirmasi pandangan tersebut dan menyebutkan adanya pendapat yang menyatakan proses penurunan terjadi dalam dua tahapan: tahap pertama dari surga menuju langit dunia, lalu tahap kedua dari langit dunia menuju bumi.
Sebagian besar mufasir sepakat mengenai empat subjek serta dua tahapan penurunan ini, sedangkan Ibn Katsir berfokus pada penceritaan penurunan Nabi Adam, istrinya, dan Iblis.
Dari aspek kebahasaan, Imam al-Ṭabarī menguraikan struktur gramatikal klausa "fa-immā ya'tiyannakum". Kata "mā" yang bersanding dengan "in" berfungsi sebagai penguat kalimat (tawkīd). Penambahan huruf nūn bertasydid pada kata "ya'tiyannakum" menjadi pembeda tegas bahwa kata "mā" di sini berfungsi sebagai instrumen syarat atau penegas, bukan sebagai kata hubung (ism mawṣūl).
Mengenai substansi kata hudā (petunjuk), para mufasir memberikan penafsiran yang saling melengkapi. Imam al-Baghawī mengartikannya sebagai bimbingan, penjelasan syariat, atau kitab suci dan utusan Allah ﷻ yang ditujukan kepada anak cucu Adam. Ibn Katsīr mengutip pendapat Abū al-ʿĀliyah yang memaknai hudā secara luas sebagai para nabi, rasul, dan penjelasan agama.
Muqātil bin Ḥayyān menyebut hudā merujuk pada Nabi Muhammad ﷺ, sedangkan al-Ḥasan al-Baṣrī memaknainya sebagai Al-Qur'an. Ibn Kathīr menilai seluruh pendapat tersebut benar dengan pandangan Abū al-ʿĀliyah sebagai yang paling mencakup.
Di sisi lain, Imam al-Biqāʿī mengulas penggunaan kata ganti tunggal "minnī" (dari-Ku) tanpa bentuk keagungan (jamʿ al-ʿaẓamah) untuk menghindari keraguan, yang menegaskan bahwa petunjuk tersebut bersumber penuh dari Allah ﷻ melalui kitab dan rasul. Syaikh as-Saʿdī menyimpulkan bahwa hudā adalah rasul dan kitab yang dikirimkan kapan pun kepada jin dan manusia guna mendekatkan mereka pada keridaan Allah ﷻ.
Jaminan keselamatan bagi pengikut petunjuk dijelaskan secara mendalam oleh Ibn Katsīr. Barang siapa yang menerima kitab-kitab dan ajaran para rasul, maka tidak ada ketakutan bagi mereka dalam menghadapi urusan akhirat, serta tidak ada kesedihan atas hal-hal duniawi yang terluput dari mereka. Hal ini sejalan dengan Surah Ṭāhā ayat 123, di mana Ibn ʿAbbās menafsirkannya: mereka tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.
Terkait variasi bacaan (qira'at), Imam al-Baghawī mencatat bahwa Imam Ya'qub membaca "falā khawfa" dengan harakat fatḥah, sementara quro' lainnya membaca "falā khawfun" dengan ḍammah dan tanwīn. Maknanya tetap saling menguatkan, yaitu ketiadaan rasa takut atas apa yang akan dihadapi dan ketiadaan kesedihan atas apa yang telah ditinggalkan.
Syaikh as-Saʿdī memberikan pembedaan psikologis yang sangat tajam antara rasa takut (khawf) dan kesedihan (ḥuzn). Kesedihan timbul akibat kejadian buruk yang telah berlalu, sedangkan rasa takut muncul akibat mengkhawatirkan hal buruk di masa depan. Dengan meniadakan keduanya bagi orang yang mengikuti petunjuk-Nya, Allah ﷻ memberikan rasa aman yang sempurna, kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta perlindungan dari kesesatan dan kesengsaraan.
Imam al-Biqāʿī menambahkan bahwa penggunaan kata "tabiʿa" (mengikuti) menunjukkan bahwa petunjuk dan penjelasan tidak otomatis menghasilkan hidayah tanpa adanya ikhtiar nyata untuk berjalan di atas petunjuk tersebut. Sementara itu, Sa'id bin Jubair sebagaimana diriwayatkan Ibn Abi Hatim menegaskan bahwa ketiadaan rasa takut dan kesedihan tersebut secara khusus berlaku pada kehidupan akhirat serta saat menghadapi kematian.
Rangkaian ayat ini memberikan gambaran jernih bahwa penurunan manusia ke bumi bukanlah bentuk pembuangan tanpa arah, melainkan awal dari babak baru yang dibekali dengan panduan Ilahi. Allah ﷻ tidak membiarkan manusia berjalan dalam kegelapan, melainkan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab sebagai kompas kehidupan.
Kunci utama keselamatan manusia terletak pada kepatuhan aktif dalam mengikuti petunjuk tersebut. Bagi mereka yang konsisten meniti jalan petunjuk-Nya, Allah ﷻ menjanjikan perlindungan menyeluruh dari rasa takut terhadap masa depan dan kesedihan atas masa lalu, baik di dunia maupun di akhirat.
(zhd)