Secara khusus, ayat 31 menegaskan larangan membunuh anak karena takut kemiskinansebuah tradisi yang lazim dilakukan oleh masyarakat Arab jahiliah, khususnya terhadap anak perempuan.
Berdasarkan catatan para mufassir seperti Ibnu Katsir, teguran ini berakar dari realitas historis perilaku suku-suku Yahudi di Madinah yang kerap bersekutu dengan kelompok kabilah penyembah berhala yang saling bertikai.
Ayat ke-81 dari Surat Al-Baqarah hadir sebagai respons langsung sekaligus penegasan Ilahi terhadap klaim keliru Bani Israil yang merasa bahwa siksa api neraka tidak akan menyentuh mereka, atau jika pun menyentuh, hanya sebatas beberapa hari saja.
Para mufassir menyampaikan beberapa riwayat berbeda mengenai durasi itu Ibnu Abbas dan Mujahid berpendapat bahwa mereka mengklaim siksaan itu hanya berlangsung selama tujuh hari berdasarkan keyakinan masa dunia tujuh ribu tahun.
Secara keseluruhan, pemahaman mendalam atas ayat ini merangkum berbagai pelajaran penting, mulai dari bahaya kemunafikan berlapis, urgensi menjaga rahasia strategis, hingga bahaya ilmu yang tidak diamalkan secara jujur.
Tindakan pengubahan tersebut bukanlah sebuah kekhilafan atau ketidaktahuan, melainkan perbuatan sadar yang dilakukan setelah mereka benar-benar memahami ilmu dan isi wahyu tersebut secara mendalam.
Ayat ke-74 dari Surat al-Baqarah merupakan kelanjutan langsung dari narasi kisah sapi betina Bani Israil serta mukjizat dihidupkannya kembali korban pembunuhan.
Kisah tersebut bermula dari peristiwa pembunuhan seorang laki-laki di kalangan Bani Israil, yang kemudian mendorong Allah SWT memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi betina demi mengungkap identitas sang pembunuh yang sebenarnya.
Setelah sebelumnya mereka terus mengajukan pertanyaan karena menganggap hewan tersebut mirip satu sama lain, ayat ini hadir sebagai jawaban ilahi melalui lisan Nabi Musa.
Dalam kitab Jami al-Bayan, Imam at-Thabari menegaskan bahwa pertanyaan mereka tidak lahir dari kebutuhan akan kejelasan, melainkan dari kekasaran akhlak, kebekuan tabiat, serta buruknya pemahaman dalam menerima kemudahan yang telah Allah berikan.