Ayat ini sangat penting dalam kajian tafsir karena merumuskan tiga indikator kerugian hakiki seorang hamba, yaitu melanggar ikatan janji kepada Allah, memutus apa yang diperintahkan untuk disambung, dan berbuat kerusakan di muka bumi.
Secara umum, para ulama menyepakati makna dasarnya sebagai kondisi buta aksara atau tidak bisa membaca dan menulis, namun penyematan sifat ini kepada Nabi Muhammad Saw justru menjadi mukjizat serta bukti otentisitas wahyu Ilahi.
Mufasir Al-Baghaw? mengisahkan bahwa ayat ini dilatarbelakangi oleh kedatangan delegasi Kristen Najran ke Madinah yang terlibat perdebatan dengan kaum Yahudi mengenai garis keagamaan Nabi Ibr?h?m.
Jika pada ayat 21 manusia diperintahkan untuk menyembah Rabb yang telah menciptakan mereka dan orang-orang sebelum mereka, maka ayat 22 ini merinci kelayakan Allah untuk disembah melalui pemaparan nikmat-nikmat penciptaan serta pemeliharaan alam semesta.
Setelah menguraikan tiga karakter manusia pada ayat-ayat sebelumnyayakni kelompok bertakwa, kafir, dan munafikAllah secara langsung menyeru seluruh umat manusia untuk beribadah.
?Ayat ini menutup rangkaian perumpamaan tersebut dengan penegasan kuasa mutlak Allah atas pendengaran dan penglihatan mereka, sekaligus menjadi peringatan keras bahwa keberadaan orang munafik sepenuhnya berada dalam genggaman kekuasaan-Nya.
Kemerdekaan yang dinikmati hari ini bukanlah hadiah gratis, melainkan buah dari pengorbanan darah, air mata, serta keteguhan iman para pahlawan dan ulama yang pantang menyerah dalam menghadapi kezaliman kolonialisme.
Ibnu Abbas menceritakan bahwa ayat ini menggambarkan keadaan masyarakat di Madinah. Ketika Rasulullah SAW berhijrah, sebagian orang menyatakan diri masuk Islam, tetapi di dalam hati mereka sebenarnya menyimpan kemunafikan.