Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home masjid detail berita

Sejarah Perkembangan Tafsir: Belantara Tafsir: Antara Tekstualis dan Kontekstualis

miftah yusufpati Sabtu, 03 Januari 2026 - 05:15 WIB
Sejarah Perkembangan Tafsir: Belantara Tafsir: Antara Tekstualis dan Kontekstualis
Keragaman corak yang muncul sepanjang zaman ini bukanlah tanda kelemahan atau kebingungan teologis. Ilustrasi: AI

LANGIT7.ID- Setelah melewati masa riwayat yang ketat atau periode bi al-ma’tsur yang bersandar pada transmisi lisan Nabi dan sahabat, tafsir Al-Quran meledak menjadi beragam corak pemikiran. Fenomena ini diibaratkan oleh ulama besar Abdullah Darraz bagaikan sebuah intan. Setiap orang yang memandangnya dari sudut yang berbeda akan menangkap pantulan cahaya yang berbeda pula. Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam mahakaryanya, Membumikan Al-Quran, memetakan keberagaman ini bukan sebagai bentuk perpecahan, melainkan dampak alami dari persinggungan Islam dengan peradaban luar serta dinamika internal umat yang terus tumbuh.

Corak pertama yang muncul secara masif di panggung sejarah adalah corak sastra bahasa. Hal ini dipicu oleh ekspansi wilayah Islam yang membuat banyak bangsa non-Arab (Ajam) memeluk agama ini. Akibatnya, terjadi penurunan kualitas penguasaan bahasa Arab, bahkan di kalangan orang Arab sendiri. Para penafsir merasa perlu membedah keistimewaan linguistik Al-Quran, bukan sekadar untuk menjaga tata bahasa, tetapi untuk membuktikan mukjizat kebahasaan yang tak tertandingi. Nama-nama seperti Al-Zamakhsyari dengan Al-Kasysyaf-nya menjadi monumen bagi kecemerlangan analisis kebahasaan ini.

Namun, gelombang besar lainnya datang dari arah filsafat dan teologi. Seiring dengan proyek penerjemahan kitab-kitab filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab pada masa Daulah Abbasiyah, para pemikir Islam mulai melihat ayat-ayat Tuhan melalui kacamata rasionalitas. Debat ketuhanan antara kaum Mu’tazilah yang mengedepankan akal dan Ahlus Sunnah yang menjaga tradisi teks, tercermin kuat dalam karya-karya tafsir mereka. Di sini, teks Al-Quran menjadi arena pertarungan dialektika untuk mencari hakikat Tuhan dan manusia.

Seiring kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat, muncul pula corak ilmiah atau tafsir ilmi. Para penafsir berusaha mencari titik temu antara wahyu dengan penemuan fisik alam semesta, seperti teori penciptaan langit atau peredaran planet. Meski terkadang menuai kritik karena dianggap memaksakan sains ke dalam teks, corak ini menunjukkan upaya manusia untuk menjadikan Al-Quran tetap sinkron dengan kemajuan peradaban.

Di sisi lain, pertarungan mazhab hukum melahirkan corak fiqih. Dalam kategori ini, Al-Quran dibaca sebagai kitab konstitusi. Setiap golongan, mulai dari Hanafi hingga Syafi’i, berusaha mencari legitimasi bagi pendapat hukum mereka melalui penafsiran terhadap ayat-ayat ahkam. Tak ketinggalan, corak tasawuf hadir sebagai penyeimbang. Ia muncul sebagai reaksi terhadap kecenderungan materialistik masyarakat atau kekakuan hukum fiqih, dengan menawarkan penafsiran isyari yang menekankan pada aspek kedalaman batin atau esoterik. Bagi kaum sufi, ayat bukan sekadar rangkaian kata, melainkan gerbang menuju pengalaman spiritual yang personal.

Transformasi paling signifikan dalam sejarah modern terjadi pada masa Syaikh Muhammad Abduh di abad ke-19. Abduh, bersama muridnya Rasyid Ridha, membawa angin segar dengan corak sastra budaya kemasyarakatan yang dikenal sebagai Adabi Ijtima’i. Abduh merasa bahwa corak-corak sebelumnya telah menjadi terlalu teknis, filosofis, dan sektarian, sehingga sering kali menjauhkan Al-Quran dari kehidupan nyata masyarakat awam.

Fokus utamanya bergeser secara radikal: bagaimana Al-Quran bisa menjadi obat bagi penyakit sosial, kebodohan, dan kemunduran umat. Ia mengemukakan petunjuk Tuhan dalam bahasa yang mudah dimengerti tetapi tetap indah, menjembatani jarak antara teks langit dan realitas bumi. Tafsir Al-Manar menjadi tonggak sejarah di mana Al-Quran kembali dibaca sebagai panduan praktis untuk melakukan reformasi sosial dan politik.

Modernitas akhirnya membawa tafsir pada kesadaran yang lebih luas, sebagaimana ditegaskan oleh pemikir Muhammad Arkoun, bahwa ayat-ayat Al-Quran selalu terbuka bagi interpretasi baru. Sejarah panjang ini menunjukkan bahwa tafsir bukanlah sebuah titik yang final, statis, atau tertutup. Ia adalah proses yang sangat dinamis, sebuah ruang di mana pemahaman manusia terus berdialektika dengan teks suci yang abadi.

Keragaman corak yang muncul sepanjang zaman ini bukanlah tanda kelemahan atau kebingungan teologis. Sebaliknya, ia merupakan bukti nyata dari kekayaan wahyu yang mampu melintasi batas-batas disiplin ilmu, sekat-sekat waktu, dan keragaman budaya manusia. Selama manusia masih berpikir dan zaman masih bergulir, cahaya dari intan Al-Quran akan terus memancarkan warna-warna baru yang belum pernah dilihat oleh generasi sebelumnya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)