Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 Juli 2026
home masjid detail berita

Tafsir An-Nisa Ayat 1: Allah Menciptakan Adam dan Hawa sebagai Manusia Pertama

ahmad zuhdi Sabtu, 18 Juli 2026 - 06:01 WIB
Tafsir An-Nisa Ayat 1: Allah Menciptakan Adam dan Hawa sebagai Manusia Pertama
LANGIT7.ID-Jakarta; - Keberagaman ras, suku, dan warna kulit manusia di seluruh penjuru dunia hari ini sebenarnya bermuara dari titik awal yang sama. Dalam surat An-Nisa ayat 1, Allah SWT mengingatkan umat manusia mengenai asal-usul penciptaan mereka sekaligus memerintahkan pentingnya menjaga ketakwaan serta hubungan antarsesama.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan Kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (QS An-Nisa: 1).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, terdapat empat poin penting yang terkandung di dalam ayat mulia ini. Pertama, asal mula manusia dari satu jiwa (Nabi Adam AS).

Perintah bertakwa di awal ayat ini menuntut manusia untuk menyembah Allah SWT semata tanpa membuat sekutu bagi-Nya. Sebagai pengingat atas kuasa-Nya, Allah menegaskan bahwa seluruh manusia diciptakan dari satu orang diri (nafs wahidah), yaitu Nabi Adam AS.

Ibnu Abbas RA mengumpamakan asal-usul ini dengan kecenderungan fitrah manusia. Laki-laki diciptakan dari tanah, sehingga memiliki ketertarikan terhadap urusan bumi atau tanah. Sementara wanita diciptakan dari laki-laki, sehingga kecenderungannya selalu terikat kepada laki-laki.

Kedua, penciptaan Siti Hawa dan kodrat kebijaksanaannya. Dari tubuh Nabi Adam AS, Allah SWT kemudian menciptakan pasangannya, yaitu Siti Hawa AS. Berdasarkan riwayat tafsir, Siti Hawa diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri bagian belakang Nabi Adam saat beliau sedang tertidur. Ketika terbangun, Nabi Adam terkejut sekaligus seketika menaruh rasa cinta yang mendalam kepadanya, begitu pula sebaliknya.

Penciptaan ini selaras dengan hadis sahih Rasulullah ﷺ yang mengingatkan para lelaki agar bijak dalam memperlakukan wanita: “Sesungguhnya wanita itu dijadikan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Maka jika kamu bertindak (keras) untuk meluruskannya, niscaya kamu akan membuatnya patah. Tetapi jika kamu bersenang-senang dengannya, berarti kamu bersenang-senang dengannya sedangkan padanya terdapat kebengkokan.”

Ketiga, perkembangbiakan manusia di seluruh penjuru bumi. Dari pasangan pertama inilah, Allah SWT memperkembangbiakkan ribuan hingga jutaan laki-laki dan perempuan. Allah menyebarkan keturunan Adam dan Hawa ke berbagai belahan dunia dengan beragam jenis, sifat, bahasa, hingga warna kulit. Kendati tersebar luas di bumi, pada akhirnya hanya kepada Allah-lah seluruh manusia akan kembali dan dihimpunkan.

Keempat, perintah bertakwa dan menjaga silaturahmi. Pada bagian akhir ayat, Allah kembali menekankan ketakwaan. Frasa "yang dengan nama-Nya kalian saling meminta" merujuk pada kebiasaan masyarakat yang sering mengikat janji atau meminta pertolongan dengan menyebut nama Allah dan demi hubungan kekerabatan.

Para ulama seperti Ibnu Abbas, Mujahid, dan Al-Hasan menegaskan bahwa ayat ini melarang keras pemutusan tali silaturahmi. Sebaliknya, manusia diperintahkan untuk saling menyayangi, menyantuni orang-orang yang lemah, dan berbuat baik kepada kerabat dekat.

Penutup ayat ini, "Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian," menjadi peringatan yang sangat kuat bagi manusia. Allah Maha Menyaksikan segala perbuatan dan keadaan hambanya di mana pun berada. Hal ini sejalan dengan konsep ihsan dalam hadis sahih: “Sembahlah Tuhanmu seakan-akan kamu melihat-Nya; jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.”

Karena kedalaman maknanya yang mencakup dasar akidah dan sosial, Rasulullah ﷺ kerap membacakan ayat pertama surat An-Nisa ini dalam khutbah-khutbah penting beliau, termasuk saat mengajak para sahabat untuk mengasah kepedulian sosial melalui sedekah.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:24
Maghrib
17:56
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan