Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 13 Maret 2026
home masjid detail berita

Tanda Kebesaran di Ufuk Ilmu: Menimbang Tafsir Ilmiah Al-Quran

miftah yusufpati Sabtu, 17 Januari 2026 - 04:15 WIB
Tanda Kebesaran di Ufuk Ilmu: Menimbang Tafsir Ilmiah Al-Quran
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist

LANGIT.ID-Di rak-rak perpustakaan Islam, barisan buku bersampul tebal karya M. Quraish Shihab sering kali menjadi oase bagi mereka yang gelisah mencari titik temu antara teks langit dan realitas bumi. Salah satu karyanya yang tetap relevan hingga kini adalah Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, khususnya cetakan ke-13 yang diterbitkan Mizan pada November 1996. Buku ini bukan sekadar kumpulan tafsir, melainkan sebuah manifesto tentang bagaimana Al-Quran seharusnya bekerja di tengah denyut nadi masyarakat modern.

Quraish Shihab mengawali tesisnya dengan mengingatkan kembali fungsi purba Al-Quran sebagai petunjuk menuju jalan yang sebaik-baiknya, sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Isra ayat 9. Namun, ia menyadari bahwa petunjuk tersebut sering kali hadir dalam bentuk yang umum dan global. Di sinilah letak persoalannya: teks bersifat terbatas, sementara problematika manusia berkembang tanpa batas. Secara historis, penjelasan detail memang dibebankan kepada Nabi Muhammad saw melalui otoritas yang diberikan dalam Surat An-Nahl ayat 44. Namun, setelah periode kenabian berakhir, beban itu beralih ke pundak umat manusia melalui proses ijtihad dan tadabbur.

Salah satu poin paling menarik dalam narasi Quraish adalah ajakannya agar manusia tidak hanya berhenti pada keyakinan emosional, tetapi bergerak menuju keyakinan rasional. Al-Quran secara eksplisit memerintahkan manusia untuk memperhatikan ayat-ayatnya melalui surat-surat seperti Az-Zumar ayat 18 dan Muhammad ayat 24. Perhatian ini, menurut Quraish, harus mampu melahirkan alternatif-alternatif baru. Ia menawarkan sebuah metode yang kini kita kenal sebagai integrasi: menyatukan pesan wahyu dengan perkembangan situasi masyarakat.

Proses integrasi ini bukanlah tanpa syarat. Quraish menekankan pentingnya menjaga prinsip-prinsip pokok ajaran atau Al-Ushul Al-Ammah. Kita tidak boleh menafsirkan ayat secara semena-mena hanya agar terlihat ilmiah jika itu mengorbankan fundamen akidah. Namun, di luar wilayah perincian yang sudah baku, terdapat ruang ijtihad yang luas. Di ruang inilah, penafsiran ilmiah menemukan momentumnya.

Keyakinan ini bersandar pada janji Tuhan dalam Surat Fushshilat ayat 53. Di sana disebutkan bahwa Allah akan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya di seluruh ufuk dan pada diri manusia sendiri, hingga terbukti bahwa Al-Quran adalah benar. Tafsir interpretatif atas ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran wahyu akan senantiasa dikonfirmasi oleh penemuan-penemuan sains di masa depan. Langit, galaksi, hingga struktur terkecil dalam sel manusia adalah laboratorium untuk membuktikan kebenaran ayat.

Namun, membumikan Al-Quran tidak melulu soal mencocokkan ayat dengan penemuan laboratorium. Quraish Shihab menekankan fungsi pragmatis kitab suci dalam memecahkan problem sosial. Merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 213, Kitab Suci diturunkan kepada para nabi sebagai jawaban atas perselisihan dan konflik yang terjadi di masyarakat. Artinya, jika sebuah tafsir justru memicu perpecahan atau tidak mampu menjawab tantangan kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbelakangan, maka ada yang salah dalam cara kita membaca wahyu tersebut.

Tafsir ilmiah dalam kacamata Membumikan Al-Quran adalah sebuah upaya untuk menjadikan Islam sebagai agama yang ramah terhadap perubahan. Ia memposisikan agama bukan sebagai penghambat kemajuan, melainkan sebagai kompas yang mengarahkan kemajuan tersebut agar tetap berada dalam koridor kemanusiaan. Wahyu harus diturunkan dari singgasana langit menuju realitas pasar, kantor, dan laboratorium tanpa kehilangan kesuciannya.

Pada akhirnya, membaca pemikiran Quraish Shihab dalam buku ini adalah perjalanan untuk memahami bahwa kebenaran Ilahi bersifat dinamis dalam pemahaman manusia, meskipun statis dalam esensinya. Al-Quran tetap menjadi sumber jawaban, namun manusia lah yang harus aktif merumuskan pertanyaan dan mencari jalan keluar melalui kerja keras intelektual. Dengan cara inilah, wahyu benar-benar berfungsi sebagai penyelesai masalah, bukan sekadar pelarian spiritual di tengah kebisingan dunia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 13 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:06
Ashar
15:11
Maghrib
18:10
Isya
19:18
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)