LANGIT7.ID-, -
Mufti Agung Mesir,
Dr. Nazir Ayyad, memperingatkan
umat Islam agar tidak menjadikan aplikasi
kecerdasan buatan (AI) sebagai rujukan tunggal dalam
menafsirkan Al-Qur'an.
Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak dibenarkan secara syariat karena berisiko menghasilkan interpretasi yang keliru dari teks suci.
Melansir Gulf News, Sabtu (31/1/2026), dalam pernyataan resmi yang dirilis di situs Dar Al Ifta Al Misriyyah,
Dr. Ayyad menegaskan bahwa penggunaan AI tanpa panduan ahli untuk menafsirkan Al-Qur'an dilarang menurut
hukum Islam.
Baca juga: Ahli Tafsir Terbaik Sepanjang Masa, Ibnu Abbas Giat Pelajari Al QuranIa menekankan bahwa penafsiran Al-Qur'an merupakan tanggung jawab serius yang tidak dapat dipisahkan dari fondasi
ilmu-ilmu keislaman yang baku.
Mufti Agung menjelaskan bahwa pedoman ini bertujuan untuk melindungi Al-Qur'an dari dugaan dan penafsiran menyimpang, sekaligus mencegah penyebaran makna ayat-ayat suci tanpa dasar ilmiah yang tepat.
Dr Ayyad menegaskan bahwa penafsiran Al-Qur'an tanpa verifikasi ahli berisiko merusak integritas dan kesucian pesan ilahi.
Metodologi Tafsir yang Diakui UlamaMenurut Dr. Ayyad, penafsiran kitab suci tidak boleh dilepaskan dari standar ilmiah dan perangkat metodologis yang telah dikembangkan secara turun-temurun oleh mufasir dan ahli hukum Islam yang berkualifikasi.
Baca juga: Tafsir Al-Mishbah ke Era Digital: Dalami Makna Al-Qur’an Melalui AplikasiDr Ayyad menambahkan, kerangka kerja ilmiah ini sangat penting untuk menjaga keakuratan dan melindungi Al-Qur'an dari salah tafsir.
Lebih lanjut, Dr Ayyad mendesak umat Muslim untuk merujuk pada kitab-kitab tafsir tepercaya, konsultasi langsung kepada ulama kredibel, atau lembaga keagamaan terakreditasi.
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memastikan pemahaman Al-Qur'an tetap berpijak pada kedalaman ilmu, ketelitian metodologi, serta integritas intelektual.
Dr Ayyad menegaskan bahwa meski teknologi modern dapat membantu proses belajar, ia tidak akan pernah bisa menggantikan kedalaman ilmu manusia saat berinteraksi dengan teks suci.
Baginya, menjaga kesucian firman Allah menuntut kerendahan hati, disiplin ilmiah, serta keterikatan pada transmisi keilmuan otentik yang diwariskan para ulama dari generasi ke generasi.
Baca juga: Quraish Shihab: Corak Tafsir Beda-beda. Jangan Cepat Permasalahkan(est)