Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 13 Maret 2026
home masjid detail berita

Dialektika Akal dan Wahyu: Mencari Titik Temu Sains dalam Kitab Suci

miftah yusufpati Ahad, 18 Januari 2026 - 04:15 WIB
Dialektika Akal dan Wahyu: Mencari Titik Temu Sains dalam Kitab Suci
Al-Quran tidak boleh sekadar dijadikan alat legitimasi bagi penemuan manusia yang sementara. Ilustrasi: Ist

LANGIT7.ID- Ketegangan intelektual antara pemikiran Al-Ghazali dan para penentangnya telah menciptakan garis batas yang tegas dalam sejarah tafsir Islam. Di satu sisi, terdapat gairah besar untuk menemukan segala hakikat ilmiah di balik barisan ayat Al-Quran. Semangat ini memuncak pada era modern melalui karya monumental Thantawi Jauhari dalam Tafsir Al-Jawahir yang sarat dengan ilustrasi sains, atau Rasyid Ridha melalui Al-Manar. Sebagaimana dicatat oleh orientalis Ignaz Goldziher, Rasyid Ridha berupaya keras membuktikan bahwa Al-Quran mencakup seluruh hakikat sosiologi, politik, dan filsafat kontemporer. Bagi kelompok ini, Al-Quran adalah samudra ilmu pengetahuan yang tak bertepi, di mana setiap penemuan laboratorium seolah sudah "tersirat" di dalamnya sejak empat belas abad silam.

Namun, di kutub seberang yang berlawanan arah secara diametral, berdiri tegak Al-Syathibi. Tokoh besar ushul fiqih yang wafat pada 1388 M ini menjadi penentang paling gigih terhadap corak tafsir ilmiah atau yang dikenal dengan at-tafsir al-ilmi. Bagi Syathibi, Al-Quran diturunkan sebagai kitab hidayah (petunjuk spiritual), bukan ensiklopedia sains.

Ia memberikan peringatan keras: pemahaman terhadap Al-Quran harus dibatasi pada ilmu bantu dan perangkat bahasa yang dikenal oleh masyarakat Arab pada masa wahyu diturunkan. Baginya, melampaui batasan sosiologis masyarakat Arab awal hanya akan menjerumuskan seseorang pada kesesatan atau tindakan "mengatasnamakan Allah" untuk hal-hal yang sebenarnya tidak dimaksudkan oleh teks tersebut. Syathibi khawatir, jika sains dijadikan standar, maka kebenaran Al-Quran yang absolut akan terseret oleh sifat sains yang relatif dan tentatif.

Menghadapi dua pandangan ekstrem ini, Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya yang sangat berpengaruh, Membumikan Al-Quran (Penerbit Mizan), mencoba merajut jalan tengah yang elegan. Quraish Shihab menilai bahwa pendapat Syathibi yang sangat restriktif sulit diterima sepenuhnya dalam konteks tantangan zaman sekarang. Jika manusia modern diwajibkan memahami Al-Quran persis sebagaimana orang Arab di masa Nabi, maka fungsi Al-Quran sebagai sholihun likulli zaman wa makan (relevan untuk setiap waktu dan tempat) akan luntur. Bagaimana mungkin manusia bisa merespons perintah Tuhan untuk berpikir tentang penciptaan langit, biologi sel, atau rahasia astronomi jika mereka dilarang menggunakan bantuan ilmu pengetahuan modern yang berkembang pesat?

Pertanyaan-pertanyaan retoris dalam Al-Quran seperti "apakah mereka tidak berpikir?" atau "apakah mereka tidak melihat?" sering kali menjadi penutup ayat-ayat yang berbicara tentang fenomena alam. Tanpa perangkat sains modern, pemaknaan atas ayat-ayat tersebut akan mandek pada level permukaan yang dangkal. Namun, Quraish Shihab tetap memberikan catatan kaki yang krusial: penafsiran tidak boleh tergelincir pada "saintisme" yang mendewakan teori ilmiah. Penafsir tidak boleh memaksakan ayat untuk membenarkan sebuah teori yang masih bisa berubah sewaktu-waktu. Jika besok teori tersebut tumbang oleh penemuan baru, apakah kita akan mengatakan bahwa Al-Quran salah? Di sinilah letak bahaya jika wahyu dipaksa tunduk pada hukum laboratorium.

Pendapat Al-Ghazali yang cenderung luas memang lebih populer di dunia Islam saat ini. Popularitas ini dipicu oleh kondisi psikologis umat Islam yang merasa perlu mengejar ketertinggalan dari kemajuan Barat. Ada kebutuhan mendesak untuk membuktikan bahwa Islam tidak bertentangan dengan sains, bahkan merupakan pelopornya. Namun, Quraish Shihab mengingatkan agar kebutuhan apologetik ini tidak mengabaikan kaidah kebahasaan dan maksud utama wahyu. Al-Quran tidak boleh sekadar dijadikan alat legitimasi bagi penemuan manusia yang sementara. Wahyu seharusnya berada di atas sains sebagai pemandu etika, bukan pelayan yang harus mencari pembenaran atas setiap rumus baru.

Tantangan bagi mufasir modern saat ini bukan lagi sekadar mencocokkan ayat dengan teori, melainkan bagaimana mendudukkan wahyu sebagai inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Al-Quran memberikan isyarat (isyarat ilmiyah) yang seharusnya memicu rasa ingin tahu ilmuwan untuk meneliti, bukan justru menunggu ilmuwan menemukan sesuatu lalu mufasir sibuk mencari-cari ayatnya. Pemulihan korelasi yang sehat antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan inilah yang menjadi agenda besar dalam upaya membumikan kembali pesan langit di atas hamparan realitas bumi. Tujuannya satu: agar Al-Quran tetap menjadi kompas yang mencerahkan akal sekaligus menyejukkan hati di tengah laju teknologi yang tak terbendung.



(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 13 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:06
Ashar
15:11
Maghrib
18:10
Isya
19:18
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)