LANGIT7.ID-, Jakarta - - Tradisi
halal bihalal merupakan salah satu ciri khas masyarakat Indonesia setelah
Hari Raya Idulfitri. Meskipun tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Qur’an maupun hadis, tradisi ini memiliki makna mendalam dalam kehidupan sosial dan keagamaan.
Ahli tafsir Qur'an,
Prof Quraish Shihab menjelaskan bahwa halal bihalal bukan sekadar kegiatan saling berjabat tangan dan bermaafan, tetapi memiliki nilai filosofis yang sangat dalam, terutama dalam membangun hubungan antarmanusia.
Menurut Prof. Quraish Shihab, istilah “halal” dalam
halal bihalal tidak tepat jika hanya dipahami dari sudut pandang
hukum Islam sebagai lawan dari “haram”.
Baca juga: Zakat Profesi Wajib atau Tidak? Ini Penjelasan Quraish ShihabDalam fikih, halal mencakup berbagai kategori seperti wajib, sunnah, mubah, bahkan makruh. Namun, pendekatan hukum ini tidak sepenuhnya mencerminkan tujuan utama halal bihalal.
Ia menegaskan bahwa halal bihalal lebih berorientasi pada memperbaiki hubungan sosial, bukan sekadar menghapus dosa secara formal. Tujuan utamanya adalah menciptakan keharmonisan dan mempererat
tali silaturahmi.
Secara bahasa, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa halal bihalal dapat ditelusuri dari akar kata Arab yang memiliki makna mendalam.
Menurut Quraish Shihab, kata halal terambil dari kata halla atau halala, yang mempunyai berbagai bentuk dan makna sesuai rangkaian kalimatnya.
Ia menguraikan bahwa konsep ini berkaitan dengan upaya, "Menghangatkan hubungan yang dingin. Mencairkan yang beku. Mengurai persoalan yang kusut," terang Prof Quraish Shihab di chanel TVNU, dilihat Jumat (27/3/2026).
Jika memahami kata halal bihalal dari tinjauan kebahasaan, maka artinya menyambung apa-apa yang tadinya terputus menjadi tersambung kembali.
Lalu, mengapa kita perlu halal bihalal?
Quraish Shihab mengaitkan pentingnya halal bihalal dengan tugas manusia sebagai khalifah di bumi. Untuk memakmurkan kehidupan, manusia dituntut untuk bekerja sama.
Baca juga: Ustaz Adi Hidayat: Halal Bihalal, Mengurai Kekusutan Hidup Menuju FitrahNamun, kerja sama hanya dapat terwujud jika hubungan antarmanusia dilandasi rasa nyaman dan saling percaya. Halal bihalal menjadi momentum untuk menghilangkan sekat-sekat emosional yang menghambat kebersamaan.
"Kita sebagai makhluk ciptaan Allah, diberi tugas untuk memakmurkan bumi. Semua manusia harus bekerjasama untuk memakmurkan bumi. Dan untuk bisa bekerjasama dengan baik, kita harus menghilangkan rasa ketidaknyamanan, kita harus menjalin hubungan dengan mencairkan apa yang beku dan menghangatkan yang dingin," jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an sejak awal telah menyerukan pentingnya hubungan universal antarmanusia. Seruan “ya ayyuhannas” (wahai seluruh manusia) menunjukkan bahwa ajaran Islam menekankan relasi yang melampaui batas agama, suku, dan bangsa.
Manusia diciptakan beragam agar saling mengenal, yang pada akhirnya melahirkan pengakuan dan penghormatan terhadap satu sama lain.
"Kalau kita membuka lembaran Al-Qur'an seruan pertama yang kita temukan adalah ya ayyuhannas di surah Al Baqarah. Itu berarti kita harus menjalin hubungan yang baik dengan seluruh manusia," terangnya.
Dalam konteks ini, halal bihalal tidak hanya relevan bagi sesama umat Islam, tetapi juga dalam hubungan kemanusiaan yang lebih luas.
Quraish Shihab menegaskan bahwa jika seseorang bukan saudara seagama, maka ia adalah saudara dalam kemanusiaan. Bahkan, nilai kemanusiaan disebutnya mendahului keberagamaan dalam praktik sosial.
"Inti halal bihalal seperti ini, tidak hanya hubungan akrab antara sesama suku, bangsa, tapi hubungan antara sesama manusia. Karena itu ada pesan, 'Siapa yang Anda temui, kalau dia bukan saudara Anda seagama maka dia adalah saudara Anda semanusia. Karena itu pula, kemanusiaan mendahului keberagamaan." jelas Prof Quraish Shihab.
Baca juga: Halal Bihalal, Tradisi Khas Indonesia dengan Makna MendalamPesan Al-Qur’an juga menegaskan bahwa umat manusia dianjurkan untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada siapa pun, selama tidak ada permusuhan. Nilai ini memperkuat makna halal bihalal sebagai ruang untuk menumbuhkan empati, toleransi, dan keadilan sosial.
"Allah berpesan, 'Allah tidak melarang kamu berbuat baik, berlaku adil, memberi sebagian harta kamu kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam agama atau tidak mengusir kamu dari tumpah darah kamu'" jelasnya.
Pada akhirnya, Quraish Shihab menyimpulkan bahwa inti halal bihalal terletak pada pengelolaan hati. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh akal, melainkan membutuhkan kepekaan kalbu. Membersihkan hati menjadi kunci utama agar seseorang mampu memberi dan menerima maaf dengan tulus.
"Pada hakekatnya, halal bihalal berkaitan dengan pengelolaan hati. Kita harus sadar ada hal-hal yang tidak mampu dilakukan oleh akal, yang mampu melakukannya hanya daya kalbu. Karena itu mari kita bersihkan hati. Ini yang menjadikan kita mampu untuk memberikan maaf," tutup Quraish Shihab.
(est)