Muhadjir Effendy tegaskan dosa antarsesama tidak otomatis terhapus tanpa saling memaafkan. Halal bihalal jadi momentum strategis yang bermakna secara teologis.
Halal bihalal telah menjadi sebuah tradisi khas Indonesia, yang berangkat dari pengamalan ajaran agama yang nilai dasarnya tidak hanya berkaitan dengan pemahaman agama, tapi juga bagaimana agama diamalkan secara kreatif.
Ahli tafsir Qur'an, Prof Quraish Shihab menjelaskan bahwa halal bihalal bukan sekadar kegiatan saling berjabat tangan dan bermaafan, tetapi memiliki nilai filosofis yang sangat dalam, terutama dalam membangun hubungan antarmanusia.
Lebaran di Indonesia tak lengkap tanpa halalbihalal. Namun, di balik keriuhan silaturahmi, tersimpan catatan kritis tentang batas kegembiraan yang dibolehkan dan reduksi makna maaf yang sering kali menjadi semu.
Halal bihalal bukan sekadar tradisi, melainkan proses mengurai kekusutan hidup untuk mengembalikan manusia pada fitrah yang jernih. Hal ini selaras dengan nilai-nilai Al-Quran
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Muhadjir Effendy mengajak seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melestarikan warisan budaya
Halal Bihalal merupakan tradisi silaturahmi khas Indonesia yang seolah menjadi kewajiban dilaksanakan di bulan Syawal. Biasanya dalam acara keluarga besar, kantor dan komunitas.
Kali ini kita membahas takfir. Menurut Quraish, untuk menutup dosa dengan pekerjaan tertentu, Al-Quran juga menggunakan istilah takfir. Kata ini, terambil dari kata kaffara yang berarti menutup.
RS Ridhoka Salma, rumah sakit Islam pertama di Bekasi merayakan Idul Fitri 1446 H dengan semangat silaturahmi setelah 30 hari menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Ulama-ulama Al-Quran seperti Ar-Raghib Al-Isfahani menyatakan bahwa al-shafa lebih tinggi kedudukannya dari al-'afw (maaf). Pernyataan yang dikemukakan itu dapat dipahami melalui alasan kebahasaan sebagai berikut.