Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 03 Mei 2026
home masjid detail berita

Menolak Lupa pada Kepastian Akhir: Menelisik Tafsir Surah An-Nisa Ayat 78 tentang Batas Usia

miftah yusufpati Ahad, 03 Mei 2026 - 04:00 WIB
Menolak Lupa pada Kepastian Akhir: Menelisik Tafsir Surah An-Nisa Ayat 78 tentang Batas Usia
Kematian adalah pengingat bahwa waktu yang diberikan di dunia ini sangat terbatas dan harus diisi dengan perbuatan yang bermanfaat. Foto: Ist
LANGIT7.ID-Dalam dinamika peradaban modern, manusia sering kali terobsesi untuk menaklukkan waktu dan kematian. Berbagai riset bioteknologi, investasi besar-besaran di bidang kesehatan, hingga pembangunan hunian supercanggih dilakukan seolah-olah usia dapat diperpanjang tanpa batas. Namun, di balik segala upaya keras tersebut, ada satu realitas absolut yang tidak dapat dihindari oleh siapapun di muka bumi ini, yaitu kematian. Bagaimanapun manusia berusaha melarikan diri dari takdir tersebut, kematian akan tetap menjemput di manapun mereka berada.

Realitas bahwa setiap manusia memiliki batas waktu hidup yang pasti telah digariskan dengan sangat jelas dalam Alquran. Salah satu dalil yang paling kuat mengenai hal ini adalah firman Allah Subhanahu wa Taala dalam Surah An-Nisa ayat 78:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
Ainama takunu yudrikkumul-mawtu wa law kuntum fi burujin musyayyadatin.

Artinya: Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.

Terkait dengan ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir rahimahullah memberikan penjelasan yang sangat mendalam dalam kitab tafsirnya. Beliau menegaskan bahwa semua orang pada akhirnya akan mati. Tidak ada pilihan lain dan tidak ada satu pun kekuatan yang mampu menyelamatkan seseorang dari takdir kematian, baik itu orang yang terjun ke medan jihad maupun mereka yang berdiam diri di dalam rumah. Manusia memiliki ajal yang telah ditetapkan dan waktu yang telah ditentukan oleh Allah Azza wa Jalla.

Untuk memberikan ilustrasi mengenai kepastian takdir ini, Imam Ibnu Katsir mengutip kisah sahabat Nabi, Khalid bin Walid radhiyallahu anhu. Menjelang akhir hayatnya di atas tempat tidur, Khalid yang dikenal sebagai panglima perang yang tak terkalahkan mengungkapkan sebuah penyesalan spiritual yang mendalam. Ia berkata bahwa ia telah menghadiri sekian banyak pertempuran, dan hampir tidak ada satu pun bagian tubuhnya yang tidak terluka oleh tikaman tombak atau panah. Namun, ironisnya, ia harus menjemput ajalnya di atas tempat tidur, bukan di medan perang seperti yang ia harapkan, sedangkan mata orang-orang pengecut tidak bisa tidur karena takut mati.

Ketidakmampuan manusia untuk lari dari takdir ini juga ditegaskan kembali di dalam Alquran Surah Al-Jumuah ayat 8:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ ۖ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Qul innal-mawta alladhi tafirruna minhu fa innahu mulaqikum, thumma turadduna ila 'alimul-ghaybi wa ash-shahadati fa yunabbi'ukum bima kuntum ta'malun.

Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".

Dari penjelasan ayat-ayat tersebut, kita dapat melihat bahwa kematian tidak memandang bulu. Kematian datang menjemput setiap orang yang telah Allah tentukan ajalnya. Perbedaan status sosial, kekayaan, atau popularitas tidak memberikan imunitas apapun di hadapan maut. Kita menyaksikan sendiri bagaimana kematian mendatangi seorang raja di singgasananya, rakyat jelata di gubuknya, orang yang sehat sentosa, maupun mereka yang terbaring sakit. Ia juga mendatangi orang yang tidak dikenal hingga bintang idola yang dipuja jutaan manusia.

Dalam perspektif sosiologi dan filsafat eksistensial, Zygmunt Bauman dalam bukunya Mortality, Immortality and Other Life Strategies menguraikan bahwa kesadaran akan kematian merupakan motor penggerak peradaban manusia. Ketakutan akan kematian mendorong manusia untuk membangun warisan, baik berupa karya seni, bangunan, maupun institusi, sebagai bentuk keabadian semu. Namun, di sisi lain, Bauman juga mengakui bahwa kematian adalah batas akhir dari semua strategi kehidupan manusia. Batas ini memaksa setiap individu untuk merenungkan kembali tujuan hidupnya di dunia.

Senada dengan hal tersebut, Imam Al-Ghazali dalam karyanya Ihya Ulumuddin secara khusus membahas bab mengingat kematian, atau yang dikenal dengan istilah dzikrul maut. Beliau menyatakan bahwa mengingat kematian adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit hati, seperti cinta dunia dan kesombongan. Seseorang yang menyadari bahwa dirinya akan mati tidak akan terpedaya oleh gemerlapnya kehidupan duniawi yang fana.

Fenomena ini dapat dimaknai sebagai sebuah jeda bagi manusia untuk melakukan refleksi. Kesibukan mengejar kekuasaan dan kekayaan sering kali membuat manusia lupa bahwa semua yang mereka kumpulkan akan ditinggalkan. Gedung-gedung tinggi dan kokoh yang dibangun sebagai benteng pengaman, sebagaimana disebutkan dalam Alquran, hanyalah ilusi keamanan semu yang tidak mampu menahan laju waktu.

Pandangan ini juga sejalan dengan kajian psikologi transpersonal yang dikembangkan oleh Stanislav Grof. Grof menemukan bahwa krisis eksistensial terkait kematian sering kali menjadi titik balik bagi individu untuk mencari makna hidup yang lebih transendental. Ketika seseorang dihadapkan pada kenyataan tentang kefanaannya, mereka cenderung mencari nilai-nilai yang lebih luhur seperti empati, spiritualitas, dan pengabdian kepada sesama.

Lebih jauh lagi, pemaknaan kematian tidak hanya berhenti sebagai sebuah akhir dari sebuah entitas biologis, melainkan awal dari pertanggungjawaban yang lebih besar. Sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Jumuah di atas, manusia akan dikembalikan kepada Allah Azza wa Jalla yang Maha Mengetahui segala yang ghaib maupun yang nyata. Di titik ini, seluruh perbuatan, baik dan buruk, akan mendapatkan balasannya masing-masing. Kesadaran inilah yang membentuk kerangka moral dalam masyarakat.

Keimanan kepada takdir kematian adalah salah satu pilar yang membentuk karakter seorang mukmin. Dengan menyadari bahwa maut adalah sebuah kepastian, manusia diajak untuk tidak terlalu terikat pada kesenangan duniawi yang sifatnya sementara. Ketakutan yang berlebihan terhadap kematian seharusnya dialihkan menjadi rasa takut kepada Allah dan persiapan amal yang maksimal.

Pada akhirnya, kajian mengenai kepastian datangnya kematian bukan untuk menanamkan keputusasaan, melainkan untuk membangun kesadaran. Kematian adalah pengingat bahwa waktu yang diberikan di dunia ini sangat terbatas dan harus diisi dengan perbuatan yang bermanfaat. Dengan menyadari kepastian kematian, manusia diharapkan dapat menjalani hidup dengan lebih bijak, mempersiapkan bekal terbaik, dan senantiasa ingat kepada Sang Pencipta dalam setiap langkah yang diambil.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 03 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)