LANGIT7.ID-Riuh rendah pemberangkatan jemaah haji zaman modern kerap diwarnai keluhan soal keterlambatan jadwal terbang pesawat atau kualitas makanan di hotel pemondokan. Namun, jika mesin waktu ditarik mundur sejauh tiga atau empat abad ke belakang, segala fasilitas mutakhir tersebut runtuh menjadi sebuah lanskap petualangan maritim yang mengerikan dan bertaruh nyawa.
Pada masa ketika teknologi kedirgantaraan belum terbayangkan, keberangkatan seorang Muslim dari kepulauan Nusantara menuju tanah suci Mekah adalah sebuah perjalanan tanpa jaminan kembali.
Di bawah kepulan layar kain dan derit kayu lambung kapal, rukun Islam kelima ini ditunaikan dengan kesadaran penuh bahwa kematian bisa datang kapan saja di tengah samudra yang luas.
Catatan sejarah menunjukkan betapa beratnya beban fisik, mental, dan finansial yang harus dipikul oleh para pencari rida Allah pada masa itu.
Berdasarkan buku Sejarah Ibadah Haji Indonesia dari Masa ke Masa (2023) yang diterbitkan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia, prosesi pelepasan calon jemaah haji pada abad ke-17 hingga ke-19 selalu dilingkupi oleh derai air mata dan suasana duka yang mendalam dari keluarga yang ditinggalkan.
Isak tangis itu bukanlah ekspresi haru biasa, melainkan sebuah bentuk keikhlasan sosiologis karena ada kemungkinan besar bahwa pertemuan di dermaga pelabuhan tersebut adalah pertemuan terakhir kali di dunia fana.
Risiko karam dihantam badai topis, kelaparan karena kehabisan bekal, hingga serangan wabah penyakit menular di dalam palka kapal yang pengap menjadi hantu yang nyata sepanjang pelayaran.
Ketundukan total pada syariat ini melahirkan keteguhan hati yang luar biasa. Para musafir tersebut berangkat dengan memegang teguh komitmen keimanan yang digariskan dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 197: Wa tazawwadu fa inna khairaz-zadi-taqwa. Artinya: Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.
Bagi jemaah Nusantara zaman dahulu, bekal takwa bukan lagi sekadar konsep teologis di dalam dada, melainkan manifes konkret untuk menghadapi ketidakpastian samudra, kesengsaraan fisik yang ekstrem, dan kepasrahan mutlak jika nyawa mereka harus berakhir di dasar laut tanpa sempat memeluk Kabah.
Labirin Pelayaran dan Kerja Paksa di Negeri AsingMenuju tanah suci pada masa klasik adalah urusan geografi yang sangat berbelit-belit. Transportasi maritim saat itu sepenuhnya bertumpu pada perahu layar komersial yang pergerakannya dikendalikan oleh rotasi angin musim.
Guru Besar Sejarah Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Dien Madjid, dalam wawancara yang dimuat dalam dokumentasi BPKH, menjelaskan bahwa para musafir haji pada umumnya tidak memiliki kapal khusus.
Mereka harus menumpang pada kapal-kapal dagang antarbangsa yang jalurnya kerap berbelok-belok, sehingga jemaah dipaksa untuk sering berpindah kapal setiap kali armada niaga tersebut sandar di sebuah pelabuhan transito tertentu.
Peta perjalanan jemaah dari Tanah Jawa, misalnya, harus menempuh jalur estafet yang melelahkan. Titik keberangkatan awal dimulai dengan mengumpulkan jemaah di Pelabuhan Batavia.
Dari bandar utama kompeni tersebut, kapal akan berlayar menyusuri pesisir Sumatra menuju titik persinggahan terakhir di wilayah Nusantara, yaitu Kesultanan Aceh yang kerap dijuluki sebagai Serambi Mekah.
Di pelabuhan Aceh inilah para jemaah harus membuang sauh dalam waktu yang cukup lama, kadang berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, guna menunggu kedatangan kapal besar yang akan mengarungi Samudra Hindia menuju India.
Dari India, jalur pelayaran baru dipecah kembali, ada yang menuju Hadramaut di Yaman, atau langsung memotong jalur laut menuju pelabuhan utama Jeddah di Jazirah Arab.
Secara keseluruhan, perjalanan laut yang penuh siksaan fisik ini memakan waktu minimal enam bulan, dan tidak jarang merentang hingga satu tahun penuh. Mengapa bisa selama itu? Selain faktor ketergantungan pada arah angin muson, banyak jemaah yang terpaksa menghentikan pelayaran mereka di tengah jalan karena kehabisan modal.
Dien Madjid mengungkapkan sebuah fakta sosial yang getir: demi menutupi kekurangan biaya atau mencari bekal tambahan untuk menyambung hidup dan membeli tiket kapal berikutnya, para jemaah haji kelas bawah ini rela berhenti dan bekerja kasar sebagai buruh di negeri-negeri transito yang mereka singgahi, seperti di Malaya, India, atau Yaman. Setelah uang dirasa cukup, barulah mereka melanjutkan sisa pelayaran suci yang tertunda.
Jejak Elite Istana dan Narasi yang HilangMengingat besarnya ongkos logistik, durasi waktu yang dihabiskan, serta tingginya risiko keselamatan, mayoritas lembaran sejarah mencatat bahwa ibadah haji pada masa awal prakolonial dan awal kolonisasi didominasi oleh kaum elite.
Mereka adalah golongan keluarga istana, raja, pangeran, bangsawan, atau saudagar kaya raya yang memiliki akses terhadap kepemilikan kapal atau dana kas kerajaan.
Struktur tata kelola perjalanan haji generasi awal memang lahir dari kebutuhan kalangan atas ini, yang menuntut adanya jaminan kenyamanan, pengawalan militer, serta proteksi keamanan diplomatik di sepanjang rute maritim dunia.
Bukti keterlibatan kaum elite ini terekam jelas dalam ingatan kolektif teks-teks sastra sejarah lokal. Sebagaimana dikutip oleh Dien Madjid, manuskrip Hikayat Hang Tuah yang ditulis pada akhir abad ke-17 mencatat sebuah rihlah transnasional yang agung dari tokoh pahlawan maritim Nusantara.
Dalam kisah tersebut, Hang Tuah digambarkan memimpin armadanya sendiri menuju Istanbul, pusat Kekhalifahan Ottoman. Di tengah misi politik internasional itu, ia menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci dengan mendapatkan pengawalan dan pendampingan khusus dari syahbandar pelabuhan Jeddah yang berpengaruh saat itu, bernama Malik Rasal. Kisah-kisah berkelas tinggi seperti inilah yang mendominasi panggung historiografi kita.
Sejarawan terkemuka Azyumardi Azra, dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII (2004), juga menegaskan bahwa mobilitas haji awal disokong kuat oleh jaringan perdagangan internasional yang digerakkan oleh para saudagar besar Arab dan penguasa pelabuhan Nusantara.
Sejak permulaan abad ke-16, dokumen-dokumen asing telah mencatat adanya kehadiran orang-orang pribumi Nusantara di Mekah yang datang membawa armada kapal dagang mereka sendiri dengan kapasitas logistik yang melimpah.
Namun, di balik kegemilangan narasi para sultan dan bangsawan tersebut, ada sebuah lapisan sejarah yang hilang dan luput dari tinta para penulis babad. Jauh di dalam palka-palka kapal yang gelap, pengap, dan berbau garam, terdapat ribuan rakyat jelata dari kalangan bawah yang juga berjuang keras untuk bisa menatap Kabah.
Mereka adalah para petani yang menjual seluruh tanah pusakanya, para nelayan yang menabung puluhan tahun, serta buruh pelabuhan yang nekat menyelundup di antara tumpukan komoditas rempah demi bisa ikut berlayar ke barat.
Keberadaan jemaah haji kelas bawah ini hampir tidak pernah tercatat dalam kronik resmi kerajaan karena mereka tidak membawa misi diplomasi ataupun stempel politik.
Kesengsaraan yang dialami oleh jemaah kelas bawah ini jauh lebih berlipat ganda dibandingkan rombongan utusan raja yang membawa bekal emas dan permata. Ketika badai besar mengguncang Samudra Hindia, jemaah miskin inilah yang paling rentan terlempar ke laut atau terserang penyakit busung lapar akibat kualitas sanitasi kapal yang buruk.
Banyak di antara mereka yang wafat di tengah jalan dan jenazahnya langsung dilarung ke dalam samudra tanpa nisan, menyisakan misteri dan penantian yang sia-sia bagi keluarga mereka di kampung halaman di tanah Jawa atau Sulawesi.
Melalui kilas balik sejarah yang penuh penderitaan ini, terlihat jelas bahwa predikat gelar haji yang disandang oleh orang-orang Nusantara zaman dahulu memiliki bobot nilai sosial dan spiritual yang teramat mahal.
Gelar tersebut bukan sekadar hiasan status sosial, melainkan sebuah tanda kelulusan dari ujian penderitaan fisik yang ekstrem dan bukti mukjizat keselamatan.
Setiap jemaah yang berhasil kembali ke tanah air dinilai sebagai manusia pilihan yang telah menembus batas-batas kemustahilan ruang dan waktu, merajut benang merah yang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan pusat spiritual dunia Islam global melalui tetesan darah, keringat, dan air mata.
(mif)