LANGIT7.ID-Lembaran daun lontar kuno Tjarita Parahiyangan yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta memuat baris-baris narasi yang melampaui zamannya. Di antara kisah peperangan, suksesi takhta, dan spiritualitas Hindu-Buddha yang mendominasi Kerajaan Galuh abad ke-14, terselip satu nama yang mendobrak kemapanan tradisi istana: Bratalegawa.
Ia adalah putra kedua dari Penguasa Galuh, Prabu Pangandipara Marta Jayadewatabrata, yang juga dikenal dengan nama Sang Hyang Bunisora Suradipati (1357-1371). Namun, alih-alih duduk nyaman di pusat kekuasaan di Kawali, sang pangeran memilih takdir yang jauh lebih berisiko: menjadi pengelana dan saudagar maritim.
Jiwa petualang inilah yang kemudian mengantarkan Bratalegawa memahat sejarah sebagai manusia pertama dari Nusantara yang tercatat menunaikan ibadah haji.
Dalam buku Sejarah Ibadah Haji Indonesia dari Masa ke Masa (2023) yang diterbitkan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia, figur Bratalegawa merupakan titik tolak penting perpindahan sejarah haji Nusantara dari fase lisan menuju fase dokumentasi tekstual.
Sebelum abad ke-14, kehadiran jemaah haji asal kepulauan ini hanya menjadi bayang-bayang dalam cerita rakyat. Lewat naskah kuno seperti Tjarita Parahiyangan dan Carita Purwaka Caruban Nagari, eksistensi sosiologis jemaah haji generasi awal mendapatkan pembenaran historisnya yang kukuh.
Langkah Bratalegawa menuju tanah suci dimulai dari persinggahannya di Kesultanan Delhi, India. Sebagai seorang pedagang antar-bangsa, ia berinteraksi secara intensif dengan para saudagar Arab yang menguasai simpul-simpul perdagangan di Samudra Hindia.
Di kota metropolitan Islam abad pertengahan itulah, ia mengalami titik balik spiritual. Bratalegawa mengucapkan dua kalimat syahadat, memeluk Islam, dan dengan cepat bertransformasi menjadi seorang Muslim yang taat.
Di India pula ia menambatkan hatinya pada Farhana binti Muhammad, seorang wanita Muslim asal Gujarat. Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan simbol integrasi Bratalegawa ke dalam jaringan perdagangan dan keagamaan transnasional yang sedang berkembang pesat saat itu.
Bersama sang istri, sang pangeran melanjutkan pelayaran yang jauh lebih menantang menuju pelabuhan Jeddah, menembus gelombang Laut Arab demi memenuhi panggilan suci ke Baitullah. Menjalankan perintah yang termaktub dalam kitab suci Surah Ali Imran ayat 97: Walillahi alan nasi hijjul baiti manistatha'a ilaihi sabila.
Kewajiban yang dipenuhi Bratalegawa dengan segenap kemampuannya sebagai seorang saudagar yang mapan secara finansial dan fisik.
Dari Haji Baharuddin ke Gelar Haji PurwaSetelah menyelesaikan seluruh rangkaian manasik di Mekah, Bratalegawa menanggalkan identitas kebangsawanan lamanya. Ia memilih nama baru yang bernapas Islami: Haji Baharuddin Al-Jawi. Kata Al-Jawi yang disematkan di belakang namanya menegaskan identitas geopolitik asalnya di mata komunitas internasional di tanah suci, sebuah kelaziman yang kelak diikuti oleh seluruh ulama dan jemaah asal Nusantara pada abad-abad berikutnya.
Namun, ketika ia kembali ke Kawali, ibu kota Kerajaan Galuh pada sekitar tahun 1337, lingkungan asalnya belum siap menerima perubahan radikal tersebut. Sebagai seorang Muslim baru yang dipenuhi semangat pembaruan, Haji Baharuddin mencoba mendakwahkan Islam kepada keluarga terdekatnya, termasuk kedua saudaranya, Giri Dewanti dan Ratu Banawati.
Upaya ini membentur dinding tebal. Pengaruh tradisi keagamaan Hindu-Buddha yang menjadi pilar legitimasi politik Kerajaan Galuh masih terlalu kuat di lingkungan istana. Kedua saudaranya menolak ajakan tersebut secara halus namun tegas.
Penolakan dari lingkungan internal istana tidak membuat langkah Baharuddin surut. Di sinilah masyarakat tatar Sunda kemudian menyematkan julukan ikonik kepadanya: Haji Purwa. Kata purwa berasal dari bahasa Jawa kuno atau Sanskerta yang berarti awal, mula, atau yang terdahulu. Julukan ini merupakan pengakuan kultural bahwa ia adalah pionir, orang yang pertama kali membuka jalan spiritual yang asing bagi masyarakatnya saat itu.
Menyadari ruang gerak dakwahnya terbatas di pusat kerajaan yang konservatif, Haji Purwa mengambil keputusan strategis untuk meninggalkan Kawali. Ia bergerak menuju arah utara, memilih wilayah pesisir yang lebih terbuka terhadap pengaruh asing.
Tempat pemberhentiannya adalah Caruban Girang, sebuah wilayah pelabuhan kecil yang secara administratif masih berada di bawah payung kekuasaan Kerajaan Galuh, namun memiliki karakter masyarakat yang lebih kosmopolit karena menjadi tempat singgah para pelaut antar-pulau.
Di Caruban Girang inilah, Haji Purwa mulai menanam benih-benih Islam, membangun komunitas Muslim pesisir pertama di wilayah Sunda, dan meletakkan fondasi bagi transformasi sosiologis yang akan mengubah peta politik tatar Pasundan di masa depan.
Estafet Spiritual dan Lahirnya Caruban NagariBenih komunitas Muslim yang ditanam oleh Haji Purwa di Caruban Girang menemukan momentum emasnya satu abad kemudian. Wilayah pesisir yang awalnya sepi ini lambat laun tumbuh menjadi pemukiman yang ramai dan dinamis.
Pada pertengahan abad ke-15, Caruban Girang kedatangan gelombang migrasi politik yang dipimpin oleh Pangeran Walangsungsang (1460-1479), putra sulung penguasa Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi, dari istrinya yang beragama Islam, Nyi Subang Larang.
Walangsungsang, yang juga dikenal dalam berbagai naskah kuno sebagai Ki Somadullah atau Pangeran Cakrabuana, memilih menyingkir dari istana Pajajaran bersama kedua adiknya, Nyai Mas Rara Santang dan Pangeran Raja Sagara.
Langkah eksodus ini dipicu oleh ketidaknyamanan mereka terhadap perlakuan lingkungan istana terhadap ibunda mereka. Mereka memilih Caruban Girang sebagai tempat bernaung baru, sebuah keputusan yang sangat tepat karena di wilayah ini nilai-nilai Islam yang dahulu dirintis oleh Haji Purwa telah mengakar di sanubari masyarakat pesisir.
Di bawah kepemimpinan Walangsungsang, pedukuhan kecil ini dikembangkan secara masif menjadi sebuah entitas politik baru yang mandiri bernama Caruban Nagari, yang kelak dikenal sebagai Kesultanan Cirebon.
Kesadaran untuk memperkuat sendi-sendi keislaman negara baru ini mendorong Walangsungsang dan adiknya, Rara Santang, untuk mengikuti jejak historis yang pernah ditorehkan oleh Haji Purwa satu abad sebelumnya: berlayar menuju Mekah.
Pada tahun 1448, kedua bangsawan Sunda ini menembus rute maritim yang panjang menuju tanah suci. Berdasarkan naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, selama berada di Mekah, mereka tidak sekadar menjalankan ritus ibadah.
Mereka menetap selama tiga bulan dan menjadi santri di bawah bimbingan langsung Syekh Bayanullah, seorang ulama terkemuka yang merupakan saudara kandung dari Syekh Datuk Kahfi, tokoh spiritual utama di Cirebon.
Di bawah pengawasan Syekh Bayanullah, mereka mendalami teologi Islam, hukum fikih, dan tarekat keagamaan secara intensif sebelum akhirnya mengenakan pakaian haji di hadapan Kabah.
Sepulang dari tanah suci, mereka membawa nama Arab baru sebagai simbol transformasi diri. Walangsungsang menggunakan nama Haji Abdullah Iman, sementara Rara Santang memilih nama Syarifah Mudaim. Perjalanan haji ini juga membuka simpul takdir politik baru bagi Nusantara.
Di Mekah, Rara Santang dipersunting oleh seorang bangsawan lokal bernama Syarif Abdullah. Dari pernikahan transnasional inilah lahir seorang putra bernama Syarif Hidayatullah. Kelak, pemuda ini kembali ke tatar Sunda, menduduki takhta Kesultanan Cirebon pada tahun 1479-1568 dengan gelar Sunan Gunung Jati, menggantikan pamannya, Pangeran Walangsungsang, yang mengundurkan diri secara sukarela.
Melting Point Peradaban di Pesisir UtaraDi bawah kendali Sunan Gunung Jati, Kesultanan Cirebon tidak hanya menjelma menjadi kekuatan politik dan militer yang disegani di Pulau Jawa, tetapi juga tumbuh menjadi salah satu pelabuhan transito internasional terbesar di pesisir utara.
Cirebon bertransformasi menjadi sebuah melting point, sebuah titik temu bagi berbagai kebudayaan, etnis, dan bangsa di dunia. Laksamana besar dari Dinasti Ming, Cheng Ho (Cheng Hwa), tercatat dalam kronik sejarah pernah melabuhkan armada raksasanya di bandar Cirebon, memperkuat jalinan hubungan diplomatik dan ekonomi antara Jawa dan Tiongkok.
Kemajuan infrastruktur maritim ini membawa dampak langsung pada pola keberangkatan jemaah haji dari Nusantara. Jika pada masa Haji Purwa di abad ke-14 perjalanan haji bersifat sporadis, individual, dan sangat bergantung pada kapal dagang asing, maka pada masa Kesultanan Cirebon, rute perjalanan mulai menunjukkan pola yang lebih terstruktur.
Pelabuhan Cirebon berfungsi sebagai titik kumpul utama bagi umat Islam dari pedalaman tatar Sunda dan Jawa bagian tengah yang ingin berangkat ke tanah suci.
Para jemaah haji zaman itu akan menaiki kapal-kapal jung besar dari Cirebon, kemudian berlayar menyusuri jalur transito klasik: singgah di Batavia untuk mengisi logistik, melanjutkan perjalanan ke Kesultanan Aceh di ujung Sumatra sebagai pos pemeriksaan akhir sekaligus pusat pembekalan spiritual, sebelum akhirnya membelah Samudra Hindia menuju pelabuhan Aden di Yaman dan berakhir di Jeddah. Perjalanan ini memakan waktu minimal enam hingga delapan bulan untuk satu kali jalan, sebuah ritus pengorbanan yang sangat panjang dan melelahkan.
Kisah perjalanan Bratalegawa alias Haji Purwa memberikan perspektif historis bahwa ibadah haji di masa awal Nusantara bukanlah sekadar perjalanan spiritual yang terisolasi.
Ia adalah wujud nyata dari dinamika interaksi global, sebuah pembuktian bahwa sejak abad ke-14, manusia Indonesia telah memiliki keberanian mental dan kapasitas teknologi maritim untuk menembus batas-batas geografis dunia demi sebuah keyakinan.
Melalui langkah awal sang pangeran dari Kawali ini, pintu kosmopolitanisme Islam terbuka lebar bagi tatar Sunda, mengubah wilayah pesisir yang awalnya sepi menjadi panggung sejarah bagi lahirnya peradaban baru yang agung.
(mif)