LANGIT7.ID-Aroma air mawar dan lambaian selendang menyambut kedatangan para jemaah haji di bandara. Isak tangis haru keluarga pecah, menandai berakhirnya perjalanan panjang memenuhi panggilan Baitullah.
Setelah berminggu-minggu menembus cuaca ekstrem Jazirah Arab, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, hingga melontar jumrah di Mina, mereka kembali ke rutinitas semula.
Namun, di balik kemeriahan ritual penyambutan itu, tersimpan sebuah pertanyaan besar yang sifatnya eksistensial: apa yang terjadi pada diri seorang manusia setelah menyandang gelar haji?
Perjalanan haji sering kali digambarkan sebagai proses pembersihan total. Abdulmalik al-Qosim dalam risalahnya yang diterjemahkan oleh Syafar Abu Difa, Risalah ila Ahli Arafah wa Muzdalifah wa Mina, mengingatkan kembali janji agung yang dibawa oleh Rasulullah. Kutipan teks klasik tersebut menegaskan keutamaan ibadah ini melalui hadis Nabi Muhammad:
مَا أَهَلَّ مُهَلِّ وَلاَ كَبَّرَ مُكَبِّرٌ قَطّ إِلاَّ بُشِّرَ باِلْجَنَّةِArtinya:
Tidaklah bertalbiah orang yang bertalbiah atau bertakbir orang yang bertakbir melainkan diberikan berita gembira kepadanya dengan surga. Hadis ini diriwayatkan dalam
Shahih al-Jami as-Shaghir nomor 5445.
Tidak hanya itu, setiap langkah kaki unta tunggangan jemaah pun dinilai sebagai penghapus dosa dan pengangkat derajat, sebagaimana terekam dalam hadis lain yang menyatakan bahwa tidaklah unta tunggangan mengangkat kaki belakang atau menurunkan kaki depannya, melainkan Allah mencatat satu kebaikan, menghapus satu kekurangan, atau mengangkat satu derajatnya. Sumber teks ini berasal dari kompilasi hadis Shahih al-Jami as-Shaghir nomor 572 yang diterbitkan oleh IslamHouse pada tahun 2009.
Dengan demikian, kepulangan jemaah haji idealnya ditandai dengan lembaran catatan amal yang kembali putih bersih. Persoalannya, mempertahankan warna putih itu di tengah keterasingan dunia modern jauh lebih sulit daripada mendapatkannya di bawah bayang-bayang Kaabah. Ketika jemaah kembali ke lingkungan asal, mereka langsung berhadapan dengan realitas sosial yang tidak selalu ramah terhadap nilai-nilai kesalehan. Godaan materi, gesekan sosial, dan ego pribadi kembali mengintai di setiap sudut kehidupan sehari-hari.
Sosiolog sering menyebut fenomena ini sebagai komodifikasi spiritualitas atau ujian integrasi pasca-ibadah. Dalam buku
Sosiologi Islam karya Profesor Jalaluddin Rakhmat, disebutkan bahwa ibadah ritual dalam Islam selalu memiliki dimensi sosial yang kental. Haji tidak boleh berhenti pada transformasi individual, melainkan harus menjelma menjadi kesalehan sosial. Seorang haji yang mabrur seharusnya menjadi pelopor keadilan, kejujuran, dan kedermawanan di lingkungannya, bukan sekadar memamerkan status sosial baru melalui gelar atau pakaian tertentu.
Penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Profesor Ali Shariati dalam bukunya yang monumental, Haji, menganalisis bahwa haji adalah latihan tentang pembebasan manusia dari segala egoisme dan kelas sosial. Saat mengenakan pakaian ihram, semua manusia sama. Namun, ujian sesungguhnya dari pembebasan itu adalah ketika jemaah kembali mengenakan pakaian duniawi mereka di tanah air. Apakah ego, keserakahan, dan kesombongan yang telah dilempar di Mina bersama batu-batu jumrah akan dipungut kembali saat mendarat di kampung halaman? Pertanyaan ini menjadi sangat relevan melihat dinamika jemaah pasca-haji yang terkadang terjebak dalam pembicaraan mengenai fasilitas tenda, durasi antrean, atau sekadar gengsi sosial.
Kondisi setelah kembali juga disoroti dalam artikel ilmiah jurnal keagamaan yang ditulis oleh Dr. Muhammad Amin berjudul
Transformasi Spiritual Pasca-Haji dalam Masyarakat Modern. Amin menyebutkan bahwa tantangan terbesar jemaah haji kontemporer adalah menjaga konsistensi ibadah di tengah arus sekularisme. Banyak jemaah mengalami penurunan ritme ibadah setelah beberapa bulan kepulangan mereka. Euforia spiritual yang dirasakan di Masjidil Haram perlahan mengikis akibat kesibukan kerja dan tuntutan ekonomi. Oleh karena itu, perubahan perilaku setelah haji merupakan indikator utama dari kemabruran ibadah tersebut.
Kembali ke risalah Abdulmalik al-Qosim, sebuah gugatan retoris dilayangkan kepada kita semua: Apakah engkau ingin mengulang apa yang telah engkau lalui sebelumnya, yang penuh dengan dosa dan kesalahan? Atau bersegera mengisi catatan itu dengan ketaatan dan memperbanyak ibadah?
Pertanyaan ini menjadi alarm bagi setiap jemaah. Lembaran yang putih bersih setelah pengampunan dan pembebasan di tanah suci tidak boleh dikotori kembali oleh kebiasaan-kebiasaan buruk masa lalu. Haji harus menjadi titik balik, sebuah garis demarkasi yang tegas antara masa lalu yang kelam dan masa depan yang penuh dengan cahaya ketaatan.
Pada akhirnya, kepulangan jemaah haji adalah sebuah awal, bukan akhir. Gelar haji yang melekat di depan nama bukan sekadar hiasan atau tanda kehormatan sosial, melainkan sebuah tanggung jawab moral yang berat. Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian amal-amal yang saleh dan menjadikannya benar lagi murni mengharap wajah Allah yang mulia. Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.
(mif)