LANGIT7.ID - Perjalanan ibadah haji tidak pernah menjadi sebuah rute yang mudah. Di balik keagungan spiritualnya, ia adalah sebuah medan pembuktian ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Jutaan manusia dari berbagai penjuru angin bergerak dalam ritme yang sama, berdesakan di bawah sengatan matahari yang membakar, serta berpindah dari satu titik manasik ke titik lainnya.
Dalam kondisi kolosal seperti ini, perjalanan suci tersebut kerap kali diwarnai oleh berbagai potret masyaqah, yakni kesulitan, kelelahan yang memuncak, hingga musibah yang datang tanpa diduga.
Di sinilah, esensi haji diuji: apakah ia hanya menjadi ritus egois untuk menyelamatkan diri sendiri, ataukah menjelma menjadi ruang bagi tumbuhnya kesalehan sosial yang nyata.
Abdulmalik al-Qosim dalam risalahnya yang berjudul Risala ila Ahli Arafah wa Mudzdalifah wa Mina mengingatkan sebuah hakikat penting yang sering kali luput dari perhatian para jamaah. Beliau menegaskan bahwa membantu kaum muslimin dan menyelesaikan kesusahan mereka di tengah karut-marut perjalanan ibadah adalah sebuah kebaikan yang teramat besar.
Ketika seorang jamaah rela menunda kepergiannya demi menuntun seorang lansia yang tersesat di terowongan Mina, atau membagikan sisa air minumnya kepada orang lain yang nyaris pingsan karena dehidrasi, ia sedang mempraktikkan inti dari ajaran kemanusiaan Islam Islam.
Tindakan menolong sesama di tanah suci bukan sekadar imbauan moral, melainkan sebuah transaksi spiritual yang keuntungannya akan dipetik di akhirat kelak. Landasan teologis ini berakar kuat pada sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan secara Muttafaq Alaih:
وَمَنْ فَرَجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَجَ اللهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِArtinya:
Barangsiapa menyelesaikan satu kesusahan dari seorang muslim, Allah akan selesaikan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat.
Hadits ini seolah menjadi oase penyejuk yang mengingatkan bahwa kesulitan emosional dan fisik di padang mahsyar kelak hanya bisa diringankan oleh investasi kepedulian yang kita tanam di dunia, termasuk saat berada di tempat-tempat mustajab seperti Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Jika kita membuka kembali lembaran sejarah, tradisi luhur untuk berkorban dan mendahulukan orang lain atau biasa disebut itsar merupakan watak dasar yang melekat pada generasi salaf. Di antara kebiasaan para sahabat Rasulullah saw. adalah mendahulukan saudara muslim yang lain daripada diri mereka sendiri, baik dalam urusan makanan maupun minuman.
Mereka memilih untuk bertahan dalam kesederhanaan dan keprihatinan yang mendalam demi memastikan saudara seiman mereka tidak kelaparan atau kehausan. Karakter agung inilah yang diadopsi dalam konsep haji mabrur, di mana salah satu indikator utamanya menurut para ulama adalah ith'amuth tha'am atau gemar memberi makan dan menebar kedamaian.
Dalam konteks sosiologi modern, Ali Shariati melalui bukunya yang monumental, Haji, memaparkan bahwa ibadah haji adalah sebuah pertunjukan simbolik tentang hilangnya egoisme individu ke dalam samudra kemanusiaan universal. Saat pakaian ihram yang serbaputih dikenakan, semua status sosial, jabatan, dan kekayaan ditanggalkan.
Manusia kembali pada fitrah asalnya sebagai hamba yang setara. Oleh karena itu, tindakan mengabaikan kesusahan orang lain di tanah suci dengan dalih ingin fokus beribadah sendiri merupakan sebuah kontradiksi yang nyata terhadap hakikat haji itu sendiri.
Pada akhirnya, membantu orang yang kesusahan saat berhaji adalah manifestasi tertinggi dari pergeseran kesalehan individual menuju kesalehan sosial. Menolong sesama di tengah himpitan jutaan manusia bukan saja meringankan beban fisik orang yang dibantu, melainkan juga membersihkan jiwa orang yang menolong dari penyakit kikir dan mementingkan diri sendiri. Dengan cara demikian, ibadah haji berhasil mencapai tujuannya yang paling mulia, yakni melahirkan insan-insan baru yang sepulangnya dari tanah suci mampu menjadi agen perubahan yang membawa rahmat dan kedamaian bagi lingkungan di sekitarnya.
(mif)