Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 16 Mei 2026
home masjid detail berita

Etika Berhaji: Jamaah Diimbau Fokus Ibadah dan Hindari Keluhan Fasilitas

miftah yusufpati Sabtu, 16 Mei 2026 - 03:30 WIB
Etika Berhaji: Jamaah Diimbau Fokus Ibadah dan Hindari Keluhan Fasilitas
Haji bukan sekadar urusan personal antara hamba dan Tuhannya. Haji adalah laboratorium sosial. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, dan melontar jumrah di Mina adalah fragmen-fragmen waktu yang sangat singkat. Namun, dalam rentang yang sebentar itu, godaan untuk terpeleset dalam perkara sia-sia justru sering kali memuncak. Di bawah tenda-tenda putih yang berjejer, tidak jarang terdengar gumaman keluhan soal pendingin ruangan yang kurang sejuk, kritik atas menu makanan yang tak sesuai selera, hingga gosip yang mengalir di sela-sela waktu senggang.

Padahal, esensi haji adalah perpindahan total dari urusan duniawi menuju ketaatan ukhrawi. Abdulmalik al-Qosim dalam Risalah ila Ahli Arafah wa Muzdalifah wa Mina mengingatkan dengan tegas bahwa hari-hari haji itu sedikit. Menyia-nyiakannya dengan pembicaraan yang tidak berdasar atau mencela fasilitas adalah kerugian besar bagi seorang mukmin yang telah menempuh ribuan kilometer menuju Baitullah.

Haji bukan sekadar urusan personal antara hamba dan Tuhannya. Haji adalah laboratorium sosial. Di sanalah kepekaan diuji. Alih-alih sibuk mengkritik layanan maktab, jamaah didorong untuk mengalihkan energinya pada tindakan nyata: membantu jamaah lanjut usia. Memuliakan orang tua di tengah padatnya arus manusia bukan hanya urusan sopan santun, melainkan bentuk penghormatan yang agung dalam bingkai syariat.

Salah satu bentuk ketaatan sosial yang paling relevan di tengah teriknya matahari Hijaz adalah as-sukya atau membagikan minuman dingin. Di tengah kemacetan dan dehidrasi yang mengancam, seteguk air bisa menjadi penyelamat bagi raga sekaligus pendulang pahala bagi pemberinya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan janji yang sangat indah bagi mereka yang peduli pada kehausan sesama, sebagaimana diriwayatkan oleh at-Turmudzi:

وَمَنْ سَقَى مُؤْمِناً عَلىَ ظَمَأٍ سَقَاهُ اللهُ مِنْ الرَّحِيْقِ الْمَخْتُوْمِ

Artinya: Siapa yang memberi minum seorang mukmin yang kehausan, akan Allah beri dia minum dari ar-Rahiq al-makhtum (khamar surga yang murni dan disegel).

Namun, haji tidak berhenti pada pembagian air. Di antara jutaan manusia yang berkumpul, ada orang-orang yang datang dengan sisa tabungan terakhir mereka; mereka yang fakir dan sangat membutuhkan. Di sinilah sedekah harta mengambil peran penting. Berinfak di Tanah Suci adalah upaya menghilangkan lapar sesama dan menjaga kehormatan mereka agar tidak perlu meminta-minta.

Memberi di saat haji tidak harus dalam jumlah yang fantastis. Rasulullah mengingatkan bahwa perlindungan dari api neraka bisa dicapai bahkan hanya dengan sepotong kecil kulit biji kurma (bi syiqqi tamrah). Ini adalah pesan tentang ketulusan, bukan nominal. Allah Ta’ala pun menjanjikan pelipatgandaan pahala bagi mereka yang memberikan "pinjaman yang baik" melalui surat al-Baqarah ayat 245:

مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗٓ اَضْعَافًا كَثِيْرَةً

Artinya: Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.

Lebih jauh lagi, Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam berbagai pemikirannya mengenai manajemen hati dan amal, menekankan bahwa sedekah memiliki khasiat menakjubkan dalam menolak bala. Sedekah menjadi perisai yang melindungi pelaku dosa, orang zalim, bahkan orang kafir sekalipun dari bencana duniawi. Dalam konteks haji, sedekah bisa menjadi penolak kesulitan selama perjalanan dan pembersih bagi kekurangan-kekurangan selama menjalankan manasik.

Pada akhirnya, waktu yang dihabiskan di tanah haram adalah investasi abadi. Fokus pada ibadah lisan seperti zikir dan tilawah, serta ibadah fisik-sosial seperti melayani sesama, adalah kunci utama meraih haji mabrur. Menghindari celaan terhadap fasilitas duniawi akan mengangkat derajat jamaah menuju maqam yang lebih mulia, di mana setiap peluh dan letih tidak berakhir menjadi sia-sia di hadapan-Nya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 16 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)