LANGIT7.ID- Perjalanan haji adalah sebuah miniatur padat dari padang mahsyar, tempat berkumpulnya jutaan lisan dan raga dari berbagai belahan bumi. Pada saat manusia berjejal dalam ruang yang terbatas, di tengah kemacetan yang silih berganti serta sengatan udara yang sangat panas, ketahanan emosional setiap individu diuji hingga batas tertingginya. Gesekan fisik, kelelahan yang akut, dan perbedaan kultur antarnegara sering kali menjadi pemantik ketegangan yang laten. Namun, Islam tidak meninggalkan penganutnya dalam ruang hampa tanpa panduan moral. Di tengah situasi yang rentan konflik tersebut, senyum dan salam hadir sebagai jalan keluar yang menghadirkan kasih sayang.
Abdulmalik al-Qosim dalam risalahnya yang bertajuk
Risala ila Ahli Arafah wa Mudzdalifah wa Mina mengingatkan bahwa seulas senyum di tengah kepungan hawa panas tanah suci memiliki kekuatan magis. Senyuman yang tulus mampu menghilangkan keluhan yang menyumbat dada, sekaligus menampakkan keterikatan batin dan rasa saling mengasihi di antara sesama tamu Allah. Tindakan sederhana ini bukan sekadar pemanis wajah, melainkan sebuah ikhtiar aktif untuk meredam ego personal demi kenyamanan kolektif.
Lebih dari sekadar norma kesopanan, menebar salam di tengah himpitan jamaah merupakan perintah teologis yang berakar kuat pada tradisi kenabian. Rasulullah saw. meletakkan tradisi ini sebagai prasyarat tegaknya iman dan kasih sayang di dalam komunitas mukmin. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Nabi saw. menegaskan pentingnya menumbuhkan rasa cinta melalui ucapan salam:
لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتىَّ تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتىَّ تَحَابوُا، أَوْ لاَ أَدُلُّكُمْ عَلىَ شَيْءٍ إِذَا فعلتموه تحاببتم؟ أفشوا السلام بينكمArtinya:
Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian kerjakan kalian akan saling mencintai?! Sebarkan salam di antara kalian.
Jika ditarik ke dalam diskursus yang lebih luas, naskah kemanusiaan dalam ibadah haji memang menuntut adanya kepekaan sosial yang tinggi. M. Quraish Shihab dalam buku
Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah memaparkan bahwa kemanusiaan sejati mencakup seperangkat nilai-nilai luhur yang menghiasi jiwa pemiliknya. Kemanusiaan ini bermula dari kesadaran akan fitrah atau jati diri manusia. Di bawah terik matahari Arafah atau di dalam tenda-tenda Mina, kesadaran itu mewujud saat seorang jamaah memandang jamaah lain bukan sebagai orang asing yang merebut ruangnya, melainkan sebagai saudara serumpun yang sama-sama sedang melakukan perjalanan spiritual menuju Allah.
Menebar salam menjadi media yang paling efektif untuk memecah kekakuan akibat perbedaan bahasa. Ketika kata
Assalamu'alaikum diucapkan, seluruh sekat kebangsaan runtuh seketika. Kalimat tersebut membawa pesan damai, doa keselamatan, sekaligus jaminan keamanan bahwa tidak akan ada gangguan fisik maupun verbal yang keluar dari sesama mukmin. Jalinan kasih yang terbentuk dari saling berbalas salam ini membuat beratnya rute berjalan kaki di terowongan Mina atau penatnya antrean bus menjadi terasa lebih ringan.
Salafus saleh masa lalu telah memberikan keteladanan yang luar biasa mengenai aspek wara dan penjagaan sikap terhadap sesama. Mereka adalah generasi yang paling antusias dalam mempraktikkan kearifan sosial di tempat-tempat mustajab. Bagi mereka, ibadah haji adalah kumpulan simbol yang sangat indah, yang jika dihayati secara benar akan mengantarkan pelakunya ke dalam lingkungan kemanusiaan yang benar sebagaimana dikehendaki oleh Allah Swt.. Lingkungan kemanusiaan yang luhur ini tidak akan pernah tercapai jika setiap jamaah hanya sibuk memikirkan keselamatan dan kenyamanan dirinya sendiri tanpa memedulikan kondisi orang di sekitarnya.
Pada akhirnya, musim haji adalah momentum emas untuk melanjutkan evolusi spiritual menuju titik akhir penciptaan manusia, yaitu menjadi hamba yang menebar manfaat. Melalui amalan sederhana berupa senyum yang tulus dan salam yang disebarkan secara luas di tengah kemacetan yang melelahkan, seorang jamaah sesungguhnya sedang merajut kembali rajutan kemanusiaan universal yang sering kali terkoyak oleh kepentingan duniawi. Dengan cara itulah, kepasrahan kepada Tuhan yang Mahapemurah terinternalisasi secara sempurna dalam bentuk penghormatan yang tinggi terhadap sesama makhluk-Nya di tanah haram.
(mif)