LANGIT7.ID - Di bawah langit Makkah yang menyimpan sejarah panjang peradaban, waktu sering kali menjadi musuh yang paling tidak disadari. Pada hari-hari yang penuh berkah ini, setiap individu seharusnya merasakan bahwa waktu sesungguhnya begitu terbatas dan sangat cepat berlalu. Kesadaran akan kefanaan waktu ini bukan sekadar refleksi filosofis, melainkan sebuah alarm bagi jemaah untuk segera memacu diri dalam ketaatan sebelum kesempatan emas itu menguap tanpa jejak.
Abdulmalik al-Qosim dalam risalahnya bertajuk
Risala ila Ahli Arafah wa Mudzdalifah wa Mina mengingatkan bahwa kesadaran akan sempitnya waktu harus dibarengi dengan strategi sosial yang tepat. Salah satu langkah krusial adalah berupaya mendapatkan sahabat yang baik dan teman terbaik selama perjalanan suci ini. Di tengah kerumunan yang heterogen, pilihan terhadap lingkaran pertemanan akan sangat menentukan kualitas ibadah seseorang.
Pilihlah mereka yang paling menjaga salat, rajin melakukan ibadah sunnah, dan tekun membaca Al-Quran. Teman seperti inilah yang dapat dijadikan sebagai penolong dan tempat meminta bantuan dalam meniti rute spiritual yang melelahkan. Kehadiran sahabat yang saleh berfungsi sebagai pengingat saat lalai, agar ia menjadi teman perjalanan yang membantu mengencangkan tali pinggang dalam berbuat taat dan melakukan ibadah.
Secara psikologis dan sosiologis, lingkungan terdekat memang memiliki daya pengaruh yang sangat kuat. M. Quraish Shihab dalam buku Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendirian dan harus bertenggang rasa dalam berinteraksi. Kemanusiaan universal dalam haji mengajarkan bahwa kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam lingkungan Allah swt harus didukung oleh ekosistem yang mendukung ketaatan tersebut.
Urgensi waktu ini selaras dengan peringatan dalam Al-Quran surah Al-Ashr ayat 1-3 mengenai kerugian manusia yang menyia-nyiakan waktu:
وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِArtinya:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.
Ayat ini mempertegas bahwa salah satu cara keluar dari kerugian waktu adalah dengan membangun komunitas yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Dalam konteks haji, hal ini mewujud dalam pemilihan teman yang secara aktif mendorong kita untuk tetap berada pada jalur ibadah yang benar. Sebagaimana makna kemanusiaan yang mencakup seperangkat nilai-nilai luhur, memiliki sahabat yang saleh akan membantu seseorang menyesuaikan diri dengan tujuan kehadirannya di pentas bumi ini.
Ibadah haji merupakan kumpulan simbol-simbol yang sangat indah, namun ia juga merupakan perjalanan untuk memisahkan diri dari keburukan. Jika waktu yang terbatas ini tidak dikelola dengan baik, dan jika teman seperjalanan justru menjadi penghalang bagi ketaatan, maka esensi dari haji mabrur bisa terancam. Merendahkan diri dan luluh di hadapan Allah memerlukan fokus yang tinggi, yang sering kali hanya bisa terjaga melalui dukungan teman seperjalanan yang memiliki visi spiritual yang sama.
Oleh karena itu, di tengah padatnya jadwal ritual di Arafah, Mudzalifah, hingga Mina, jamaah tidak boleh abai terhadap siapa yang mereka jadikan teman bicara. Sahabat yang baik bukan hanya teman mengobrol untuk mengusir penat, melainkan mitra dalam melanjutkan evolusi ruhani hingga mencapai titik akhir kematangan spiritual. Dengan menyadari cepatnya waktu berlalu dan memilih pendamping yang menjaga shalat serta Al-Quran, jamaah haji dapat memastikan bahwa setiap detik di tanah berkah benar-benar menjadi investasi untuk kehidupan yang abadi.
(mif)