Prof. Didik J. Rachbini menilai konflik Polri dan Kejaksaan serta dugaan korupsi berdampak pada kepastian hukum, iklim investasi, dan target pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Prof Didik J. Rachbini menilai kebijakan penerimaan mahasiswa baru PTN yang terus meningkat mengancam keberlangsungan PTS. Ia meminta pemerintah menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang adil.
PMI manufaktur Indonesia turun ke 46,9 pada Juni 2026. Prof. Didik J. Rachbini menilai sektor industri masuk zona bahaya dan membandingkan strategi industrialisasi Vietnam yang sukses.
Prof Didik J. Rachbini mengulas disertasi Yusril Ihza Mahendra tentang pemikiran Mohammad Natsir, relasi Islam dan negara, serta pentingnya intelektualitas dalam kepemimpinan politik Indonesia.
INDEF menilai kekayaan sumber daya alam Indonesia hanya akan menjadi berkah jika didukung tata kelola yang baik, kelembagaan kuat, dan sistem politik ekonomi yang transparan.
Prof Didik J Rachbini menilai safari politik Jokowi berpotensi memengaruhi stabilitas politik dan iklim ekonomi Indonesia, termasuk kepercayaan investor, pasar modal, dan dunia usaha menuju 2029.
Ekonom senior Didik J. Rachbini menilai disiplin fiskal Indonesia masih terjaga di tengah kritik terhadap pemerintah. Ia mengapresiasi perbaikan ekonomi, penguatan rupiah dan IHSG, serta mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan pasar dan tata kelola fiskal.
Ekonom Didik J. Rachbini menyoroti paradoks pembangunan ketika program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat justru berubah menjadi ladang korupsi dan perburuan rente akibat lemahnya pengawasan serta dominasi kelompok kepentingan.
Ekonom senior Didik J. Rachbini menilai anjloknya pasar modal dan melemahnya rupiah dipicu krisis kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi. Ia menekankan pentingnya membangun kembali trust pasar melalui konsistensi kebijakan, kepastian hukum, dan tata kelola yang kredibel.
Ekonom Didik J. Rachbini mendorong reformasi total Badan Gizi Nasional pasca kasus korupsi. Ia menilai Program Makan Bergizi Gratis perlu pembenahan tata kelola, pengawasan independen, transparansi digital, dan desentralisasi pelaksanaan.
Prof Didik J. Rachbini mengusulkan model smart state trading untuk tata kelola ekspor SDA Indonesia agar negara kuat mengendalikan devisa tanpa mematikan efisiensi sektor swasta.
Ekonom Didik J. Rachbini menilai kebijakan monopoli ekspor SDA bisa menjadi momentum reindustrialisasi Indonesia jika diarahkan untuk hilirisasi, peningkatan nilai tambah, dan perluasan basis pajak nasional.
Didik J Rachbini menilai keberhasilan Habibie menguatkan rupiah dari Rp16.800 ke Rp6.500 per dolar ditopang pemulihan kepercayaan pasar, reformasi institusi, dan independensi BI.